hut

Minim Pasokan Air, Petani Lamtim Alami Gagal Panen

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Ratusan hektare lahan sawah di Lampung Timur (Lamtim) mengalami gagal panen atau puso. Akibat kekurangan pasokan air,  pertumbuhan petani padi kurang maksimal.

Jumani, petani di Desa Pulosari Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur. Foto: Henk Widi

Jumani, petani di Desa Pulosari, Kecamatan Pasir Sakti menyebut ia mengalami gagal panen pada masa tanam kemarau atau gadu. Pada lahan satu hektare ia menebar 25 kilogram bibit padi varietas Ciherang Bandul Besi dan hanya menghasilkan sebanyak 20 karung gabah kering panen (GKP). Jumlah tersebut menurutnya sangat minim bahkan disebutnya gagal panen. Sebab pada masa tanam musim penghujan atau rendengan ia bisa mendapatkan 60 hingga 70 karung GKP.

“Hasil panen yang anjlok tidak sebanding dengan biaya operasional. Selama kemarau biaya yang dikeluarkan sekitar Rp1,5juta untuk bahan bakar minyak (BBM) solar untuk menyalurkan air dari sumur bor jenis submersibble,” ungkap Jumani saat ditemui Cendana News di lahan sawahnya, Senin (21/10/2019).

Memasuki masa panen gadu,di sejumlah tempat harga gabah menurut Jumani bisa mencapai Rp4.800 per kilogram. Naiknya harga GKP saat musim gadu dari semula hanya Rp3.700 per kilogram nyaris tidak bisa dinikmati petani.

Sebagian petani lain di wilayah Pulosari menurut Jumani bahkan tidak bisa memanen padi yang ditanam. Puluhan hektare tanaman padi dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi dan kerbau.

Hasil panen padi yang berkurang bahkan dianggap gagal juga dialami Tukijo, petani di Desa Mekarsari. Memiliki lahan seluas setengah hektare ia bahkan hanya bisa memanen 20 karung dari semula 45 karung. Memperhitungkan biaya operasional sejak penyiapan bibit, pengolahan lahan,pupuk,BBM untuk mesin pompa ia menyebut merugi.

“Bagi petani masa tanam gadu tahun ini dominan mengalami gagal panen, jika panen pun hanya cukup untuk makan,” ujar Tukijo.

Hasil panen yang minim akibat kurangnya pasokan air imbas kemarau panjang. Tanaman padi usia 120 hari yang seharusnya menghasilkan banyak bulir padi mengalami kekerdilan. Tukijo yang biasa memanen padi dengan memakai mesin panen bahkan memilih memanen dengan sabit.

“Imbas kemarau bulir padi yang dihasilkan kurang berisi,” tutupnya.

Lihat juga...