hut

Pembentukan Satgas Pencemaran Cileungsi-Cikeas Masih Dirundingkan

Editor: Koko Triarko

BOGOR – Rencana pembentukan Satuan Tugas (Satgas) pengendalian pencemaran di Sungai Cileungsi-Cikeas Kabupaten Bogor, Jawa Barat, oleh Pemerintah Provinsi setempat, hingga kini masih dalam tahap perundingan kerja sama oleh beberapa instansi yang akan dilibatkan.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, sudah menjanjikan pembentukan satgas pengendalian pencemaran di Sungai Cileungsi-Cikeas dalam waktu dekat, dengan membentuk satgas pengendalian pencemaran sungai, sama seperti di Citarum, dengan melibatkan beberapa instansi seperti Kepolisian, TNI, dan lintas instansi, termasuk KLH pusat.

“Pembentukan Satgas sudah ke tahap pembahasan kewenangan di Biro Kerja Sama. Untuk dibahas kerja sama dalam bentuk MoU. Harus dipahami, satgas bukan dibentuk begitu saja langsung tandatangan. Harus jelas fungsi masing-masing instansinya,” ujar Hera Handayani, Kasi Pengendalian Air dan Udara di Bekasi, Rabu (16/10/2019).

Hera Handayani, Kasi pengendalian air dan Udara di Bekasi, ditemui di perbatasan Bogor Bekasi, Rabu (16/10/2019). –Foto: M Amin

Dikatakan, pembentukan satgas sendiri saat ini memasuki tahap pembahasan siapa, berbuat apa, dalam aksinya setelah masuk ke dalam tim satgas penanggulangan masalah pencemaran di Sungai Cileungsi-Cikeas. Sehingga, ke depan tim bisa berjalan maksimal dalam bekerja menjaga kelestarian sungai.

Menurutnya, satgas ke depan tidak hanya menjaga soal pencemaran. Tetapi, rumusannya soal tumpukan material sampah yang kerap memadati Sungai Cikeas menjadi tanggung jawab satgas dalam menjaga DAS Cileungsi-Cikeas.

“Seperti sekarang yang tengah terjadi di Bendung Koja, dampak dari materail sampah bambu yang dibuang di DAS, hingga menyebabkan peyumbatan. Apalagi, sampahnya sudah luar biasa, ini akan masuk dalam penanganan Satgas ke depannya, agar tidak ada lagi sampah bambu dibuang sembarangan,” tukasnya.

Diakuinya, bahwa Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jabar bersama LH Bogor, sudah melaksanakan sidak di 20 pelaku industri yang beroperasi di sepanjang aliran sungai Cilengsi. Tapi, hasilnya belum diekspos karena masih hasil sampel air yang diambil secara acak untuk dilakukan uji laboratorium.

Hera menegaskan, bahwa proses uji laboratorium memakan waktu untuk membuktikan dari analisis air. Mengukur BOD saja minimal lima hari. Namun, dia memastikan jika terbukti industri yang sudah disidak dan sampel yang diuji mengarahkan industri tersebut penyebab limbah, maka akan ditindak sesuai UU 32 tentang lingkungan hidup.

“Kami melakukan sidak tengah malam. Dan, memang ditemukan industri melakukan bypass pembuangan limbahnya. Ada juga ditemukan pengolahan limbah rusak dan lainnya. Kami akan ada pertemuan dengan tim membahas satgas dan hasil sidak pada 25 Oktober ini,” ucap Hera.

Hal lain, lanjutnya, tim juga akan melakukan susur sungsi  Cileungsi-Cikeas untuk melihat langsung. Sehingga tim bisa memetakan pengawasan dalam menciptakan Sungai Cileungsi-Cikeas bersih seperti di Citarum, sekarang.

Lihat juga...