Pemda Babel Didesak Keluarkan Kebijakan Lindungi Habitat Buaya

Ilustrasi buaya - Foto: Dokumentasi CDN

PANGKALPINANG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berharap, pemerintah daerah setempat mengeluarkan kebijakan untuk melindungi habitat buaya.

Hal itu untuk menekan konflik antara buaya dengan manusia di daerah tersebut. “Kami berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan pembatasan izin usaha penambangan, pembangunan pabrik, perumahan dan perkebunan di kawasan habitat buaya ini,” kata Kepala Resort BKSDA Provinsi Kepulauan Babel, Yusmono, Rabu (30/10/2019).

Saat ini, konflik antara buaya dan manusia di daerah tersebut sudah cukup tinggi. Hal itu dikarenakan, habitat hewan melata tersebut sudah semakin sempit, akibat pembangunan pabrik, perumahan, perkebunan dan penambangan di sepanjang pantai, sungai, hutan rawa-rawa dan tempat berkembangbiak buaya tersebut. Selain itu, aktivitas menangkap ikan menggunakan alat-alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, juga marak dilakukan oleh masyaraat.

Hal itu sudah mengurangi populasi ikan, sebagai makanan utama buaya tersebut. “Kita harus melihat secara luas, kenapa kasus serangan buaya kepada manusia mengalami peningkatan. Tidak mungkin mereka menyerang jika habitatnya tidak terganggu oleh aktivitas manusia,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan habitat buaya sebagai kawasan industri, pemukiman, perkebunan dan pencemaran limbah tambang, mengakibatkan buaya menjadi semakin buas dan menyerang manusia. “Jangan sampai habitat buaya ini semakin berkurang, dan mereka semakin terdesak untuk berkembangbiak serta mencari makan, karena tidak ada kebijakan pemerintah untuk melindunginya,” katanya.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Aswind, mengatakan maraknya kemunculan buaya di sungai, muara dan pantai, karena terganggunya habitat hewan tersebut. “Salah satu cara mengurangi konflik dengan buaya ini, kita harus bisa memulai sejak dini, yaitu memperbaiki lingkungan habitat tempat buaya berkembang dan mencari makan,” tandasnya.

Menurutnya, kerusakan lingkungan dan ekosistem tempat habitat buaya memicu terjadinya konflik buaya dengan manusia. “Kami berharap masyarakat tidak lagi merusak ekosistem aliran sungai. Mari kita jaga alam, karena ini moto pengurangan resiko bencana yang telah dicanangkan Kepala BNPB beberapa waktu lalu,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...