Pemprov Maluku Perpanjang Masa Tanggap Darurat Pascagempa

Ilustrasi pengungsi gempa Ambon, dari tiga desa di Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah -Foto: Antara

AMBON – Pemprov Maluku, memperpanjang masa tanggap darurat selama dua minggu, dari rencana awal berakhir pada 9 Oktober 2019. Tanggap darurat tersebut diberlakukan pasca-gempa yang melanda beberapa waktu lalu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku, Farida Salampessy, membenarkan, diperpanjangnya masa tanggap darurat setelah dilakukan evaluasi pada 5 Oktober 2019. “Kami harus memperpanjang masa tanggap darurat, mempertimbangkan berbagai penyaluran bantuan dan pendataan di lapangan yang belum rampung,” ujarnya.

Sementara sejumlah keluhan dari para pengungsi seperti lokasi pengungsian yang jauh, penanganan pelayanan kesehatan, distribusi bahan pokok yang belum merata, serta terjadinya kesenjangan di tempat-tempat pengungsian, masih ditemui.

Sementara, masih banyak warga yang mengungsi pada malam hari ke lokasi-lokasi di dataran relatif tinggi. Mereka mengkhawatirkan terjadinya tsunami. Hal itu menghambat proses pendataan maupun penyaluran bantuan. “Petugas teknis seperti kesehatan dan relawan dengan jumlah relatif masih terbatas. Dipastikan belum optimal menjangkau semua lokasi pengungsi sehingga diputuskan masa tanggap darurat diperpanjang lagi dua minggu,” tandasnya.

Mengenai jumlah pengungsi pascagempa di Kota Ambon, untuk sementara ada 95.256 jiwa. Terdiri dari pengungsi di Kota Ambon 2.940 jiwa, Kabupaten Maluku Tengah 50.250 jiwa dan 42.066 jiwa di Kabupaten SBB. “Data korban meninggal maupun luka ini berdasarkan hasil rekapitulasi Dinas Kesehatan Maluku, sedangkan data pengungsi diperoleh dari BPBD kabupaten dan kota,” pungkas Farida. (Ant)

Lihat juga...