hut

Penggunaan Daun Pisang Minimalisir Sampah Plastik

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Penggunaan daun pisang untuk meminimalisir kantong plastik, masih dipertahankan warga Lampung Selatan (Lamsel). Sejumlah wanita di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, memakai daun pisang untuk kemasan makanan.

Suparti, warga Desa Pasuruan, menyebut, daun pisang digunakan sebagai kemasan makanan karena mudah diperoleh dari kebun. Selain ramah lingkungan, daun pisang bisa memiliki nilai ekonomis karena bisa dijual.

Penggunaan daun pisang untuk pembungkus makanan menjadi tradisi yang masih dipertahankan. Pada pembuatan makanan tradisional berupa lambang sari, lemper, bugis, lupis dan lainnya, daun pisang masih digunakan.

Jenis daun pisang yang kerap dipakai mengemas makanan merupakan jenis pisang kepok. Memiliki tekstur yang kuat, daun pisang jenis kepok mudah dilipat dan dibentuk setelah proses penjemuran.

Warga yang memiliki pohon pisang Suparti kerap memakai daun pisang untuk sejumlah acara tradisional. Meski musim kemarau berimbas sejumlah tanaman pisang layu dan mati, warga mempertahankan pohon pisang untuk diambil bagian daunnya.

Suparti, memisahkan daun pisang dari pelepahnya, Selasa (8/10/2019). -Foto: Henk Widi

Selain bisa dimanfaatkan untuk keperluan pembuatan kue pada acara khusus, daun pisang bisa dijual dengan harga Rp10.000 per kilogram.

“Pemesan daun pisang dalam kondisi sudah dipisahkan dari pelepah, antara lain pedagang kuliner pecel, produsen tempe serta pembuat kue dengan permintaan mencapai puluhan kilogram tiga hari sekali,” ungkap Suparti, saat ditemui Cendana News, Selasa (8/10/2019).

Suparti mengirim daun pisang dalam bentuk ikatan. Menghasilkank 20 kilogram daun pisang yang sudah dilayukan, ia bisa mendapatkan hasil Rp200.000. Daun pisang yang masih diminati sebagai kemasan makanan menjadi sumber penghasilan saat tanaman belum berbuah.

Pada acara tradisional, pemakian daun pisang menjadi cara menekan biaya pembelian kemasan plastik.

Lina, salah satu warga lain, menyebut daun pisang masih menjadi kemasan favorit untuk pembungkus makanan. Saat musim hajatan pernikahan, daun pisang dipakai untuk alas nasi saat kenduri dan kemasan sejumlah makanan tradisional.

Bagi pemilik usaha pembuatan kue tradisional, pemakaian daun pisang menjadi cara melakukan efesiensi biaya dibanding memakai pembungkus plastik atau kertas.

“Sebelum ada kampanye pengurangan pemakaian plastik, kemasan makanan dengan daun pisang sudah kami gunakan” cetusnya.

Daun pisang yang digunakan sebagai kemasan makanan, menurut Lina akan mudah terurai setelah digunakan. Hal tersebut berbeda dengan pemakaian plastik yang sulit terurai.

Penggunaan daun pisang sebagai kemasan makanan bisa dilakukan berkelanjutan, selama warga masih membudidayakan tanaman pisang.

Selain bisa digunakan sebagai kemasan makanan, pelepah dan daun pisang bisa digunakan sebagai tambahan pakan ternak sapi saat kemarau.

Partinah, pemilik kebun pisang di desa yang sama menyebut, pohon pisang bisa menjadi investasi mingguan dan bulanan. Sebab, dengan memiliki ratusan tanaman pisang ia bisa menjual daun pisang kepada pemilik usaha makanan.

Setelah daun pisang dimanfaatkan pohon, pisang yang berbuah bisa dijual dengan sistem tandan atau dengan cara ditimbang.

“Saat ada tetangga yang melaksanakan hajatan pernikahan, daun pisang selalu dibutuhkan untuk mengemas makanan,” tuturnya.

Upaya mempertahankan penggunaan daun pisang dalam kehidupan sehari-hari, disebutnya memiliki dampak positif. Sampah yang dihasilkan dari penggunaan daun pisang dengan mudah bisa diurai.

Pemakaian daun pisang sebagai kemasan sekaligus menghindarkan bahan makanan terkontaminasi zat kimia dalam plastik.

Keberadaan daun pisang yang masih dipertahankan untuk kemasan makanan sekaligus ikut mendukung usaha kecil. Sebab, sejumlah pemilik usaha kue tradisional, tempe yang digunakan sebagai kemasan.

Sejumlah produsen tempe secara rutin memesan daun pisang dalam kondisi segar sebanyak 20 kilogram per pekan. Khusus untuk kemasan tempe, daun pisang yang sudah cukup tua lebih diminati dibanding daun pisang yang muda.

Lihat juga...