hut

PERDAMI Ingatkan Potensi ‘Tsunami Katarak’

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Perkembangan demografi penduduk Indonesia, menunjukkan, pada 2050 porsi penduduk yang berumur 50 tahun ke atas akan termasuk dalam kelompok yang terbesar. Karenanya, pemerintah dan masyarakat harus mewaspadai ‘tsunami katarak’.

Ketua PP PERDAMI, dr. M. Siddiq, Sp.M., menyebutkan, angka harapan hidup di Indonesia, setiap tahun makin meningkat, sebagai dampak dari makin baiknya tingkat kesehatan dari masyarakat.

“Dengan begitu, pada 2050, kita prediksikan akan terjadi ‘tsunami katarak’ di Indonesia,” kata Siddiq, saat Temu Media di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin (7/10/2019).

Katarak adalah suatu gangguan pada indra penglihatan yang berupa kekeruhan lensa, yang disebabkan oleh penuaan atau benturan.

“Umumnya, katarak ini mulai muncul pada usia 50 tahun. Walaupun tidak tertutup kemungkinan muncul di usia yang lebih dini, karena adanya faktor tertentu. Misalnya, pengaruh penyakit diabetes,” urai Siddiq.

Dengan tingginya angka demografi bagi usia 50 tahun, maka akan ada potensi Indonesia akan menghadapi permasalahan penderita katarak dalam jumlah besar.

“Inilah yang saya sebut sebagai ‘tsunami katarak’. Banyaknya penderita katarak,” ujar Siddiq.

Siddiq menyebutkan, saat ini menurut data ada 1,2 juta penderita katarak di Indonesia yang membutuhkan operasi katarak. Sementara kemampuan untuk melakukan operasi katarak hanya 300.000 operasi per tahun.

“Secara persentase, kemampuan Indonesia hanya 45 persen. Idealnya, itu di angka 80 persen,” tandasnya.

Walaupun katarak, menurut Siddiq, adalah suatu keniscayaan bagi yang berumur 50 tahun ke atas, tapi upaya preventif tetap harus dilakukan.

“Yang paling utama adalah sejak dini menghindari paparan sinar ultra violet pada mata. Dengan cara melindungi mata dengan kaca mata anti UV,” kata Siddiq.

Ia menegaskan, kaca mata UV itu bukanlah kaca mata hitam. Tapi, kaca mata yang memang memiliki filter UV.

“Kalau tidak ada kaca mata, topi yang menutupi mata merupakan alternatif yang bisa digunakan. Sebagai contoh, caping petani itu merupakan penutup yang cukup baik. Karena lingkar caping bisa menutupi mata dari paparan secara langsung,” jelas Siddiq.

Faktor risiko katarak lainnya, menurut data Kementerian Kesehatan, adalah riwayat keluarga, akibat adanya penyakit mata lainnya,  kelainan sistemik, pemakaian tetes mata steroid secara rutin dan kebiasaan merokok.

Lihat juga...