hut

Peresapan Tinggi, Lahan HKm Egon Gahar Masih Belum Ditanami

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Lahan Hutan Kemasyarakat (HKm) yang dibagi kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bagi petani untuk digarap di desa Egon Gahar masih ada yang belum ditanami tanaman holtikultura maupun tanaman umur panjang lainnya.

Heriyonpi Hero warga desa Egon Gahar kecamatan Mapitara kabupaten Sikka, NTT. Foto : Ebed de Rosary

“Lahan di Baokrenget desa Egon Gahar memang banyak ang belum ditanami,” kata Heriyonpi Hero, warga desa Egon Gahar kecamatan Mapitara kabupaten Sikka, NTT, Senin (14/10/2019).

Dikatakan Hero, warga beralasan lahan yang telah dibagikan tersebut sulit ditanami tanaman umur panjang seperti kelapa, alpukat dan lainnya.

Selain peresapan tanahnya tinggi sehingga air yang disiram di tanaman cepat meresap ke dalam tanah, zat asamnya juga sangat tinggi.

“Banyak tanaman alpukat dan kelapa yang tidak berbuah terutama yang berada di persis dekat jalan raya Waigete-Galit. Warga menunggu musim hujan baru menanam tanaman padi, jagung dan tanaman holtikultura lainnya,” ungkapnya.

Alexander Agato Hasulie, warga desa Egon Gahar yang juga anggota DPRD Sikka pun mengakui, pihaknya pernah menanam kentang di lahan seluas 2,5 hektare tetapi mengalami gagal panen.

Peresapan yang tinggi ditambah dengan sulitnya air membuat usaha tersebut pun mengalami kegagalan karena harus butuh banyak air untuk menyirami tanaman.

“Usaha tersebut pun berhenti karena tanahnya hanya cocok untuk tanaman holtikultura seperti singkong dan lainnya. Menanamnya pun harus saat musim hujan agar bisa mendapatkan hasil maksimal,” terangnya.

Hery Siswadi, kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) kabupaten Sikka menyebutkan, total luas lahan HKm di desa Egon Gahar kecamatan Mapitara mencapai 809,8 hektare.

Lahan tersebut kata Hery dibagikan kepada kelompok masyarakat adat Mapi Detun Tara Gahar sebanyak 91 kepala keluarga untuk digarap dan ditanami berbagai tanaman pertanian dan perkebunan.

“Kalau yang di Baokrenget total lahannya sekitar 40 hektare untuk hamparan lahan di Rotolok dan Wolonbusu. Banyak lahan di bagian belakang jalan raya sudah lama ditanami tanaman perkebunan dan pertanian dan berhasil,” ungkapnya.

Menurut Hery, mungkin pola tanam dan penyiraman yang rutin membuat tanaman bisa berbuah. Khusus untuk lahan di bagian belakang sudah ada alpukat dan kelapa yang sudah berbuah dan telah dipanen.

Masyarakat petani kata dia, diberikan hak mengelola lahan di kawasan hutan dengan skema Hkm untuk mencegah terjadinya perambahan hutan yang sebelumnya selalu terjadi.

“Dengan skema HKm maka masyarakat petani bisa mengolah lahan dan mendapatkan hasilnya. Intinya masyarakat dilarang tebang pohon dan wajib menanam pohon di areal tersebut untuk penghijauan dan mencegah terjadinya kebakaran hutan,” pungkasnya.

Lihat juga...