hut

Permen ESDM 50/2017, Menghambat Investasi EBT

Editor: Mahadeva

JAKARTA – Pelaku usaha menilai, Peraturan Menteri ESDM No.50/2017, menghalangi investasi di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT).

Keberadaan Peraturan Menteri (Permen) tersebut, membuat pelaku usaha di bidang EBT mengalami kesulitan dalam hal pembiayaan. Termasuk juga mendapatkan harga listrik yang tidak sebanding dengan biaya investasi.

Direktur Institute for Essential Services Reform, Fabby Tumiwa, menyebut, dasar investor untuk melakukan investasi adalah mendapatkan return yang menarik, dan risiko yang terukur. “Dengan adanya Permen 50, menghambat invetasi untuk EBT. Karena harga yang akan dibayarkan nanti terlalu murah. Padahal investasi EBT itu harganya mahal,” tandasnya, Senin (14/10/2019).

Hal tersebut diklaimnya menjadikan pembangunan EBT di Indonesia stagnan. “Padahal banyak yang mau,” tambah Fabby.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan dan Konsevasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Harris saat talk show tentang energi di JS Luwansa Jakarta, Senin (14/10/2019) – Foto Ranny Supusepa

Menanggapi hal itu, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan dan Konsevasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Harris, menyatakan, Permen 50/2017, dikeluarkan karena mempertimbangkan banyak hal. “Permen ini membahas tentang jual beli listrik dari swasta ke PLN. Tentunya mempertimbangkan banyak hal. Misalnya, Indonesia dalam proses untuk menurunkan biaya produksi listrik. Jadi, tidak main beli saja berapa pun harganya,” kata Harris.

Menurutnya, pemerintah akan tetap mengutamakan kerasionalan harga dalam memutuskan harga jual beli. “Memang banyak kepentingan yang kita akomodir dalam Permen 50 ini. Bukan hanya masalah harga. Salah satunya adalah berkeadilan,” tandasnya.

Harris menyebut, saat ini Indonesia masih memiliki PR besar dalam hal pengembangan EBT. Rasio elektrifikasi di Indonesia belum 100 persen, dan masih 98,81 persen. Artinya, masih ada sekira 70 juta masyarakat Indonesia belum terakses listrik, atau memiliki sambungan listrik dengan kondisi buruk.  “Target kita itu, 23 persen di 2025. Saat ini kita baru mencapai 13 sampai 14 persen. Atau sekitar 9 ribu Mega Watt. Tapi dengan beberapa kebijakan energi nasional, kami positif bisa mencapai target 23 persen tersebut di 2025,” ucap Harris.

Progres positif di bidang pengembangan EBT, dari 32 proyek yang kemarin terhambat, diklaim Haris, jumlahnya sudah berkurang. “Kemarin itu yang COD hanya delapan, sekarang sudah menjadi 13. Yang terminasi empat. Jadi sisanya tinggal 28 yang on going dan sembilan diantaranya sudah melunasi kewajibannya kepada PLN, artinya kan mereka serius. Jadi yang terhambat hanya tinggal 19. Dari yang 19 ini juga sudah terlihat progres ke lender. Jadi tinggal menunggu saja,” urai Harris.

Harris mengklaim, pemerintah selalu merekomendasikan perusahan-perusahaan untuk mendapatkan skema pembiayaan. “Investor itu tertarik dengan EBT Indonesia. Tapi saat melihat project-nya, kesulitan di lapangannya, mengukur risk-nya, pada mundur,” pungkasnya.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com