Petani di Lamsel Terapkan Teknik ‘Drip System’ Atasi Sulit Air

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Musim kemarau dengan tingkat pasokan air yang berkurang, tidak menghalangi petani di Lampung Selatan untuk tetap bercocok tanam.

Sopian Yakub, petani mandiri di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel), menerapkan sistem tetes (drip system), yakni teknik penyiraman pada media tanam yang cocok diterapkan saat musim tanam kemarau atau gadu.

Petani yang sudah bercocok tanam sejak 1998 tersebut, mengaku semula memanfaatkan pola tradisional untuk bertani. Seiring modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) dan teknik irigasi yang lebih maju, Sopian, sapaan akrabnya, menerapkan penanaman cabai keriting dengan memakai mulsa dan irigasi tetes.

Sistem yang semula kerap diterapkan pada pertanian hidroponik itu diadopsi pada pertanian cabai keriting.

Sopian Yakub, petani mandiri sekaligus Kepala Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, memanfaatkan sungai Way Pisang untuk penyiraman sistem drip untuk tanaman cabai keriting, Kamis (3/10/2019). -Foto: Henk Widi

Sopian menyebut, meski membutuhkan modal awal untuk instalasi, sistem tetes lebih efektif. Selain tidak membutuhkan banyak perlengkapan, variasi sistem tetes lebih serba guna dan efektif. Prinsip kerja sistem tetes dilakukan dengan mengalirkan air pada pipa besar berdiameter sekitar 6 inchi, lalu disalurkan pada pipa berdiameter lebih kecil. Air yang dialirkan akan menjaga kondisi media tanam pada mulsa tetap lembab, mendukung pertumbuhan tanaman saat tanam gadu.

“Puluhan tahun saya menerapkan sejumlah pola tanam yang sederhana, lalu mulai belajar pola tanam modern memanfaatkan potensi alam Way Pisang yang lokasinya lebih rendah dari lahan pertanian, sehingga harus memakai sistem sedot mesin diesel,” ungkap Sopian, saat ditemui Cendana News, Kamis (3/10/2019) sore.

Sistem tetes, sebut Sopian, diaplikasikan untuk tanaman cabai keriting miliknya berusia sekitar 10 hari. Pada penanaman musim gadu, ia menanam 21.500 batang dan 30.000 batang cabai keriting. Pada lahan yang ditanami 30.000 cabai keriting, usia tanaman sudah mencapai dua bulan. Pemanfaatan sistem tetes untuk irigasi pertanian dilakukan secara bergantian, agar pasokan air bisa lebih merata.

Instalasi sistem tetes pada irigasi lahan pertanian cabai keriting, membuat ia tidak kuatir kekeringan. Selain menerapkan sistem tetes, upaya mengurangi populasi hama pada tanaman cabai, ia memilih mulsa warna silver atau perak.

Metode penanggulangan organisme pengganggu tanaman (OPT) memanfaatkan mulsa warna perak, bertujuan mengusir hama pada saat tanaman cabai tumbuh hingga berbuah.

“Setiap sistem pertanian yang ada, pernah saya coba dengan kegagalan serta keberhasilan, hal itu menjadi pelajaran bagi saya agar berhasil dalam bertani,” ungkap Sopian.

Sebagai petani yang selanjutnya dipercaya sebagai Kepala Desa Sukabaru, Sopian masih menekuni dunia pertanian. Desa Sukabaru yang berada tidak jauh dari Gunung Rajabasa memiliki luas sekitar 963 hektare. Wilayah seluas itu didominasi lahan pertanian 273 hektare sawah, 400 hektare lahan pertanian lahan kering. Saat kemarau, sejumlah lahan perkebunan bahkan berubah menjadi lahan pertanian lahan kering.

Sejumlah lahan dimanfaatkan sebagai lokasi penanaman cabai keriting. Cabai dengan sistem guludan memakai mulsa plastik bisa dipanen perdana pada usia 75 hari. Selanjutnya pemanenan dilakukan secara bertahap.

Sesuai dengan pengalaman panen sebelumnya, pada tanaman 30.000 batang ia bisa melakukan pemanenan total 30 ton. Tanpa adanya OPT pada cabai keriting seperti trip, ia masih bisa mendapat hasil produksi yang maksimal.

“Petani akan mengalami gagal panen, jika ada virus gemini atau bule yang menjadi momok petani cabai dan belum bisa diatasi,” tutur Sopian.

Dibantu sejumlah pekerja, penerapan sistem tetes dilakukan dengan pola pengairan teratur. Sebanyak 3 mesin diesel untuk memompa air Way Pisang dihidupkan memanfaatkan bahan bakar solar. Meski memerlukan biaya operasional cukup tinggi, Sopian menyebut usaha pertanian saat kemarau masih bisa dilakukan.

Memanfaatkan potensi, modal peralatan, ia memiliki semangat untuk menghidupak sektor pertanian di desanya.

Penciptaan lahan pertanian dengan teknologi tepat guna, salah satunya sistem tetes, membuat lahan pertanian produktif. Sebab, akibat kemarau dengan sistem irigasi terbatas, modal terbatas banyak lahan pertanian nonproduktif. Pembukaan lahan pertanian meski sebagian dengan sistem sewa, memiliki tujuan menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus pemberdayaan masyarakat.

“Selain menciptakan lapangan pekerjaan, puluhan orang saat perawatan, bahkan ratusan saat panen, petani bisa menjadi pencipta sumber penghasilan,” tutur Sopian.

Penanaman cabai keriting memperhitungkan permintaan pasar. Ia menyebut, harga cabai keriting sempat anjlok mengakibatkan kerugian bagi petani.

Penanaman bertahap sejak Agustus hingga Oktober, disebutnya menjadi peluang tingginya permintaan. Sesuai pengalaman, masa tanam sebelumnya cabai keriting akan mengalami peningkatan saat Natal dan Tahun Baru.

Laki-laki yang secara mandiri melakukan usaha pertanian cabai tersebut, menyebut selain insentifikasi dengan peralatan modern, ia juga melakukan diversifikasi komoditas pertanian. Selain menanam cabai keriting dengan sistem tetes, ia melakukan penyiapan tanaman tomat, yang ditanam di sela tanaman cabai, sehingga menjadi tambahan sumber penghasilan.

Upaya swasembada pertanian dengan pemanfaatan potensi yang ada, menurut Sopian, belum dioptimalkan. Sebagai langkah memberi contoh, meski dipercaya sebagai kepala desa, ia masih tetap terjun ke lahan pertanian.

Ia juga masih terus akan melakukan peningkatan penggunaan teknologi pertanian, agar mendapatkan hasil maksimal. Sebab dengan sistem tetes, mulsa plastik perak ia masih bisa menanam komoditas pertanian saat musim gadu.

Lihat juga...