hut

Petani Penengahan Keluarkan Biaya BBM Ekstra agar Bisa Panen

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi masih dimanfaatkan petani Lampung Selatan (Lamsel) untuk pengairan lahan sawah.

Suwondo, memilih mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli BBM jenis pertalite untuk menjalankan mesin pompa. Sepekan jelang panen atau sekitar 98 hari ia menyebut menghabiskan tidak kurang Rp1 juta hanya untuk membeli BBM.

Petani di Dusun Banyumas Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan itu mengaku, memompa air sejak siang hingga sore. Siring alami yang dibendung menurutnya bisa penuh terisi air setelah dibendung dari pagi hingga siang.

Memanfaatkan air yang terbatas tersebut selama hampir 100 hari lebih ia menyirami puluhan petak pada lahan seluas setengah hektare.

Membeli BBM jenis pertalite seharga Rp8.000 per liter ia mengaku menghabiskan lebih dari Rp1 juta hanya untuk memompa air. Selain operasional untuk pengairan, biaya untuk pupuk, obat hama walang sangit dan mengusir burung dikeluarkan setiap hari total lebih dari Rp1 juta.

Biaya operasional untuk BBM diakuinya hanya dikeluarkan saat musim tanam kemarau atau musim tanam gadu.

“Sepekan setelah tanam air masih bisa diperoleh namun memasuki pemupukan pertama pasokan air mulai tersendat hingga padi menguning sehingga harus mengandalkan mesin pompa berbahan bakar pertalite,” ungkap Suwondo saat ditemui Cendana News tengah mengairi lahan sawah miliknya, Sabtu (19/10/2019).

Saat musim tanam penghujan atau rendengan Suwondo tidak pernah mengeluarkan biaya BBM. Biaya BBM yang dikeluarkan hanya untuk kendaraan roda dua miliknya, harus bertambah saat musim gadu.

Meski harus mengeluarkan biaya ekstra, ia memastikan tanaman padi varietas Ciherang miliknya bisa dipanen sepekan lagi. Pengairan disebutnya diberikan untuk menambah bobot bulir padi yang akan dipanen.

Biaya operasional yang tinggi membuat ia berencana menjual gabah kering panen (GKP) yang dihasilkan. Pada musim panen gadu Suwondo menyebut bulir padi yang dihasilkan lebih bernas, kadar air rendah.

Kualitas yang bagus pada hasil panen musim gadu membuat harga GKP mencapai Rp4.800 per kilogram. Satu kuintal GKP disebutnya dibeli pengepul seharga Rp480.000.

“Rencananya hasil panen sekitar tiga ton akan dijual untuk menutupi biaya operasional pembelian bahan bakar dan biaya operasional lain,” tutur Suwondo.

Meski sebagian lahan sawah bisa dialiri air ia memastikan ada sekitar empat petak dibiarkan gagal panen. Empat petak lahan sawah miliknya tidak dapat dialiri air karena berada pada lokasi yang lebih tinggi.

Saat panen pada kondisi normal ia bisa mendapatkan hasil sekitar empat ton, pada musim gadu diprediksi hanya mendapat hasil sekitar tiga ton lebih.

Petani bernama Suminah yang memanen padi milik Langgeng mengaku hasil panen berkurang. Pemilik lahan disebutnya harus mengeluarkan biaya pembelian bahan bakar ekstra agar padi yang ditanam masih bisa dipanen.

Suminah (kiri topi caping) memanen padi milik Langgeng warga Desa Pasuruan yang bisa panen pada Sabtu (19/10/2019). Saat kemarau memanfaatkan air dengan sistem pompa – Foto: Henk Widi

Pada lahan seluas setengah hektare pada kondisi normal satu petak bisa menghasilkan sekitar sepuluh karung. Saat musim tanam gadu ia menyebut masih bisa mendapatkan hasil sekitar empat karung.

“Meski masih bisa panen hasilnya berkurang karena bobot padi berkurang dampak kurangnya pasokan air,” papar Suminah.

Suminah menyebut saat musim tanam gadu sebagian lahan tanaman padi di Penengahan mengalami penurunan hasil. Sejumlah petani yang masih bisa memanen padi sawah bahkan memilih menjual GKP untuk menutupi biaya operasional.

Selain biaya bahan bakar ekstra, petani mengeluarkan biaya ekstra untuk upah menunggu hama burung bagi sejumlah buruh. Selain itu sebagian dipergunakan untuk biaya angkut dan pembelian pupuk serta obat anti hama yang diperoleh dengan cara berhutang.

Lihat juga...