hut

Puluhan Peternak Ayam di Nias Terancam Gulung Tikar

Ilustrasi [Dok. CDN

NIAS – Puluhan peternak ayam pedaging (broiler) di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, mengalami kerugian dan terancam gulung tikar. Hal itu dikarenakan, masuknya ayam pasokan dari Kota Sibolga.

“Pemerintah Kota Gunungsitoli kita harapkan menertibkan oknum pemasok ayam broiler dari luar Pulau Nias itu,” ucap Serius Harefa, salah seorang peternak ayam broiler di Kota Gunungsitoli, Rabu (30/10/2019).

Menurutnya, sejumlah peternak ayam di Pulau Nias telah melayangkan surat kepada Wali Kota Gunungsitoli, melalui Sekretaris Daerah Kota Gunungsitoli pada 24 Oktober 2019. Mereka meminta Pemkot Gunungsitoli menertibkan dan mencari solusi terbaik, atas apa yang mereka alami setelah masuknya ayam broiler dari Sibolga. “Kami belakangan ini mengalami kerugian karena ayam ternakan kami tidak laku lagi, dan kami terancam gulung tikar,” ungkapnya.

Selain merugi, peternak juga resah dengan masuknya ayam broiler yang masuk ke Pulau nias belum menjalani proses karantina. “Dan dipastikan bisa membawa wabah penyakit seperti flu burung ke Pulau Nias,” katanya.

Peternak ayam lainnya Ama Candra, juga mengatakan hal yang sama. Saat ini, dia mengaku sudah rugi karena ayam ternakannya tidak laku. “Masuknya ayam broiler dari luar pulau Nias sebabkan ayam ternakan kami tidak laku karena lebih mahal,” keluhnya.

Dari Ama Candra diketahui, selama ini mereka menjual ayam ternakan kepada penggalas seharga Rp26.000 sampai Rp28.000 per-kilogram. Penggalas juga menjemput dan menimbang ayam yang mereka beli di tempat atau lokasi peternakan. “Pemasok dari luar Pulau Nias langsung mengantar dan menimbang ayam yang mereka jual di lokasi atau tempat para penggalas berjualan,” ucapnya.

Selain itu, pemasok dari luar menjual ayam jauh lebih murah atau seharga Rp21.000 sampai Rp22.000 per-kilogram kepada para penggalas di empat kabupaten dan kota di Pulau Nias. “Kami tidak bisa mengikuti harga yang diberikan pemasok dari luar Pulau Nias kepada penggalas karena harga bibit dan pakan ayam di Pulau Nias kami beli cukup mahal,” terangnya.

Dia berharap pemerintah di Kepulauan Nias mau mencari solusi agar peternak ayam yang selama ini menafkahi keluarga dari beternak ayam tidak gulung tikar. (Ant)

Lihat juga...