hut

Putri Mandi, Kue Khas Warga Koja Doi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Mempertahankan kuliner lokal yang jadi ciri khas sebuah daerah merupakan salah satu kearifan lokal warga pulau Koja Doi desa Koja Doi kecamatan Alok Timur kabupaten Sikka, NTT.

Sebagai warga yang nenek moyangnya berasal dari Buton Sulawesi, warga desa Koja Doi masih mempertahankan kuliner lokal warisan nenek moyang mereka.

“Kami selalu membuat kue Putri Mandi yang terbuat dari singkong atau ubi kayu kering yang dikeringkan,” kata Ani warga pulau Koja Doi, Sabtu (19/10/2019).

Ibu Ani (kiri) bersama Nur Asia, warga pulau Koja Doi, desa Koja Doi kecamatan Alok Timur, kabupaten Sikka, NTT saat ditemui, Sabtu (19/10/2019). Foto: Ebed de Rosary

Dikatakan Ani, ubi kayu ditumbuk hingga halus lalu dikukus menggunakan anyaman dari daun kelapa berbentuk kerucut.

Setelah matang, adonan ditumbuk di lesung lalu diangkat dan dibuat berbentuk bulatan-bulatan berukuran kecil sebesar jari kelingking.

“Kelapa diparut lalu dicampur bersama adonan ubi kayu hingga rata. Baru siap diolah lagi,” tuturnya.

Ibu Ana, warga Koja Doi lainnya, menjelaskan, setelah adonan tersebut disiapkan, gula aren dipanaskan hingga mencair.

Setelah itu lanjutnya, masukkan adonan tersebut ke dalam wajan yang terdapat gula aren cair sambil diaduk hingga merata.

“Setelah adukan merata angkat lalu didinginkan dan siap dihidangkan. Biasanya kue Putri Mandi tidak dijual tetapi dikonsumsi bersama warga lainnya,” ungkapnya.

Nur Asia, warga lainnya, menambahkan, ubi kayu dibeli dari warga di pulau Pemana dengan harga Rp100 ribu untuk ukuran 50 kilogram.

Nur berharap agar makanan lokal tetap dipertahankan sehingga pihaknya selalu mengajarkan para remaja untuk membuat kuliner tradisional.

“Makanan lokal dan aneka kue yang hampir hilang mulai dibuat lagi. Anak-anak muda pun mulai belajar membuatnya sehingga makanan dan kue tradisional tetap dibuat dan dikonsumsi,” pungkasnya.

Lihat juga...