hut

Ratusan Hektare Tambak Udang di Lamsel, Mengering

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kemarau yang berlangsung lama, memaksa sejumlah petambak udang vaname di Lampung Selatan, mengistirahatkan kolam tambaknya, akibat kesulitan mendapatkan air.  

Suntana, salah satu petambak udang vaname di Dusun Bunut, Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, mengatakan, dari sepuluh petak tambak yang dimiliki, ia hanya menggarap dua petak yang ada di dekat sungai Way Sekampung.

Ia terpaksa mengistirahatkan delapan petak lahan tambaknya, demikian pula dengan ratusan hektare tambak milik warga lainnya di Bandar Agung.

Menurut Suntana, mengistirahatkan tambak udang vaname dilakukan untuk menghindari kerugian lebih besar. Sebab, saat kemarau sejumlah kanal atau saluran air ke tambak mengering. Kanal yang bersumber dari pantai timur Lamsel dan sungai Way Sekampung, airnya tidak bisa menjangkau tambak.

Menurutnya, jangkauan air dari kanal dipengaruhi kekuatan fenomena pasang surut air laut. Pada saat bulan mati atau seusai bulan purnama, pasang air laut melalui sungai Way Sekampung hanya mencapai jarak enam kilometer. Padahal, saat musim penghujan dan bulan purnama, pasang air laut bisa mencapai lebih dari sepuluh kilometer di aliran sungai Way Sekampung.

Suntana, salah satu pemilik tambak udang semi intensif di dekat sungai Way Sekampung Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, saat ditemui pada Minggu (27/10/2019). -Foto: Henk Widi

“Aliran air dari pantai pesisir timur Lampung Selatan, mengalir ke kanal kanal primer dan sungai Way Sekampung tidak maksimal jangkauannya, sehingga hanya tambak terdekat dengan kanal bisa digarap, sisanya ratusan hektare tidak bisa,” ungkap Suntana, Minggu (27/10/2019).

Suntana menyebut, saat kemarau sejumlah petambak tradisional juga enggan mengambil risiko. Sebab saat kemarau, tambak tradisional memiliki tingkat peresapan dan penguapan air yang tinggi. Imbasnya, meski sudah dilakukan proses pengisian air, kebocoran dan penguapan mempercepat hilangnya air.

Biaya operasional memasok dan mempertahankan air untuk budi daya udang vaname pun dipastikan membengkak.

Suntana mengaku masih bisa “menanam” udang vaname sebanyak dua petak seluas satu hektare. Lokasi tambak berjarak sekitar 20 meter dari sungai Way Sekampung, memungkinkannya mengalirkan air dengan mesin pompa bertenaga diesel.

Satu petak lahan tambak disebutnya berisi 50.000 benur dengan prediksi panen usia 75 hari sebanyak 5 kuintal.

“Saya tetap mengoperasikan tambak di dalam tanggul dekat sungai Way Sekampung, tapi tambak lain milik saya kering tidak bisa dipakai untuk budi daya udang,” papar Suntana.

Meski mendapat pasokan air payau saat pasang air laut, kemarau berimbas kadar garam (salinitas) air tambak meningkat. Berbagai obat kimia dan terapi khusus dengan pemakaian kincir dilakukan, agar udang tumbuh dengan baik.

Memiliki udang usia sekitar dua bulan, ia terpaksa melakukan panen bertahap atau parsial.

Sementara itu, Usman, pemilik tambak di Dusun Umbul Besar, Desa Bandar Agung, mengaku sudah mengistirahatkan lahan tambak miliknya sejak bulan Juli silam. Pasokan air yang sulit diperoleh dari kanal pada area tambak di luar tanggul Way Sekampung, membuat ia pasrah.

Kerugian selama kemarau imbas tidak memelihara udang vaname, diakuinya mencapai puluhan juta rupiah. Sebagai sumber penghasilan sampingan, ia dan petambak lain kerap mencari ikan sembilang di perairan timur Lamsel.

Selain itu, saat kemarau ia menggunakan waktu untuk memperbaiki kolam untuk budi daya ikan nila. Kolam yang kering dengan mudah diperbaiki, sehingga saat penghujan bisa diisi air.

“Sisi lain kemarau menjadi kesempatan petambak tradisional mengeringkan tambak dan membersihkan lumpur, agar saat hujan bisa ditebar benih udang kembali,” cetus Usman.

Pada musim kemarau, ia memastikan petambak yang jauh dari kanal tidak bisa berproduksi. Sejumlah kanal yang kering dan dangkal membuat petambak tradisional tidak kebagian air.

Pemilik tambak semi intensif memanfaatkan mesin pompa harus mengeluarkan biaya ekstra. Sementara bagi petambak tradisional dengan modal kecil, memilih mengistirahatkan tambak.

Suminah, warga Dusun Kuala Jaya, petambak yang beristirahat mengaku lebih beruntung. Sebab, sang suami yang istirahat membudidayakan udang vaname seluas empat hektare, masih bisa melaut.

Dekat dengan pantai timur Lamsel membuat sang suami bisa mendapat ikan teri, udang rebon dan berbagai jenis ikan lainnya. Hasil tangkapan selanjutnya dikeringkan untuk dijual seharga Rp60.000 per kilogram.

Selama musim kemarau, sejumlah petambak diakuinya memilih alih profesi. Sebagai nelayan budi daya beralih menjadi nelayan tangkap, masih bisa mendapatkan hasil dari menangkap ikan dan udang laut.

Suminah mengaku, kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung lama membuat ia dan sang suami belum bisa menebar udang vaname. Tambak yang kering bahkan sebagian ditumbuhi rumput dan menjadi lahan penggembalaan kambing.

Lihat juga...