hut

Reaktor Biogas Mekarsari Potensial Dikembangkan

Editor: Koko Triarko

BOGOR – Instalasi reaktor biogas milik Taman Buah Mekarsari, saat ini masih dalam format pemanfaatan untuk edukasi. Tapi tak tertutup kemungkinan, akan membuka peluang industri terkait energi untuk daerah sekitarnya. 

Marketing Communication Taman Buah Mekarsari, Firman Setiawan, menyebutkan, instalasi reaktor biogas atau yang biasa disebut Bio Digester merupakan bagian dari wahana baru milik mereka, Pertanian Terpadu Damandiri.

“Instalasi ini untuk mengedukasi terkait penggunaan kotoran ternak menjadi energi, yaitu biogas,” kata Firman di lokasi Bio Digester Taman Buah Mekarsari Bogor, Senin (28/10/2019).

Ia menyebutkan, dengan adanya pengolahan ini, kotoran hewan yang biasanya hanya digunakan sebagai bahan baku pupuk padat, bisa memiliki dua nilai lebih.

“Melalui proses fermentasi, didapatkan dua hasil baru. Yaitu, biogas dan pupuk cair,” ucap Firman.

Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme dalam keadaan anaerob.

Demonstrasi lampu biogas milik Taman Buah Mekarsari, Senin (28/10/2019). –Foto: Ranny Supusepa

“Instalasi ini terdiri dari inlet, yaitu tempat penampungan kotoran hewan untuk diaduk dan dicampur dengan air, lalu dialirkan melalui pipa ke dalam reaktor,” urai Firman, seraya menunjukkan instalasi tersebut.

Posisi pipa yang mengarah ke bawah reaktor membuat kotoran hewan yang baru, selalu masuk ke posisi paling bawah dari reaktor.

“Dari reaktor, akan dihasilkan gas yang dimasukkan ke dalam kubah. Sementara ampasnya akan berpindah ke outlet, yang memisahkan antara pupuk cair dan pupuk padat,” papar Firman.

Menurut data, biogas ini mengandung berbagai gas, seperti metana sebanyak 50-60 persen, karbondioksida 30-40 persen, hidrogen sulfida 1-2 persen dan gas lainnya yang memiliki persentase kecil, seperti nitrogen, hidrogen dan karbonmonoksida.

“Biogas ini tidak hanya dari kotoran ternak, tapi bisa juga dari limbah industri, enceng gondok, sampah organik dan sumber lainnya,” ujar Firman.

Manfaat biogas yang dapat secara langsung dirasakan oleh pengolahnya, menurut Firman adalah menghemat pengeluaran dalam bidang energi.

“Di sini kita menunjukkan, bagaimana biogas bisa dimanfaatkan sebagai penerangan, bahan bakar kompor dan sumber energi untuk alat pemasak nasi. Jadi, para petani atau peternak bisa berkurang pengeluarannya untuk pembelian listrik,” urainya.

Sementara untuk lingkungan, biogas bisa mengurangi limbah peternakan dan mengurangi pencemaran lingkungan. Yang artinya mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca.

“Untuk hasil pupuknya, yang cair dan padat, bisa mengurangi pengeluaran pengguna untuk pupuk. Dan jika dijual, akan menjadi pendapatan tambahan bagi mereka,” kata Firman.

Pupuk cair hasil instalasi Bio Digester ini, menurut Firman bisa dipanen setiap hari. Sementara pupuk padat, membutuhkan waktu tambahan, karena masih harus melewati proses penirisan.

“Kalau untuk dijual, perlu diayak sebelum menjadi pupuk padat siap pakai dalam kemasan,” ucapnya.

Firman menyampaikan, bahwa hasil biogas Mekarsari ini, seringkali banyak yang dibuang. Karena sudah melebihi kapasitas penyimpanan.

“Selama ini untuk penggunaan rumah display, banyak berlebih. Sehingga lebih sering kita buang saja,” ungkapnya.

Wacana penggunaan biogas untuk seluruh wilayah Taman Buah Mekarsari, menurut Firman, bisa saja dilakukan, selama didukung oleh pembangunan instalasi untuk penyaluran biogas ke seluruh area.

“Secara teori itu bisa dilakukan. Selama ada investasi untuk penyaluran. Dan, kalau untuk dijual bagi penduduk sekitar juga memungkinkan. Tapi lagi-lagi, membutuhkan investasi untuk pengemasannya, yaitu softpack,” katanya.

Kerja sama dengan instansi pendidikan di sekitar Taman Buah Mekarsari terkait alat bantu, seperti kompor atau lampu energi biogas juga sangat terbuka peluangnya.

“Ya, memang alat-alatnya harus khusus. Kompornya bukan seperti kompor biasa. Lampunya juga beda dengan lampu biasa. Jadi, bisa saja kalau ada kerja sama teknologi dengan para siswa di sekitar Mekarsari. Ini akan menjadi trigger bagi siswa untuk melakukan inovasi dalam hal pengadaan energi alternatif,” pungkas Firman.

Lihat juga...