hut

Rengginang Terasi, Kuliner Berbahan Ketan Nan Lezat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sajian kue atau camilan berbahan ketan kerap menjadi pilihan untuk disantap saat bersantai di akhir pekan. Kue berbahan ketan yang kerap dibuat warga di wilayah Lampung Timur (Lamtim) adalah kue rengginang terasi.

Sukarti, pembuat rengginang menyebut bahan baku ketan mudah diperoleh dari para petani dan terasi dari sejumlah perajin di pantai pesisir timur. Rengginang terasi memiliki rasa gurih, asin dan aroma khas udang dan ikan.

Rengginang terasi diakui Sukarti menjadi varian kue berbahan ketan yang dibuatnya untuk camilan keluarga. Bahan baku beras ketan mudah diperoleh dari petani dengan harga Rp12.000 per kilogram dan terasi Rp5.000 per sepuluh bungkus.

Selain bahan baku beras dan terasi, ia membutuhkan bumbu garam dan bawang putih sebagai penyedap rasa rengginang buatannya.

Rengginang yang disajikan setelah digoreng menurut Sukarti membutuhkan proses hingga tiga hari sebelum disajikan. Sebab proses pembuatan memerlukan pengolahan dengan cara dikukus, dicetak, dijemur hingga kering.

Sukarti, warga Desa Jukio Kecamatan Gunung Pelindung Kabupaten Lampung Timur, menjemur rengginang terasi yang sudah selesai dicetak. Penjemuran memakai para para bambu di depan rumahnya, Sabtu (19/10/2019) – Foto: Henk Widi

Kondisi cuaca kemarau dengan panas sempurna membuat proses penjemuran hanya butuh dua hari. Penjemuran sempurna menghasilkan rengginang awet disimpan dan renyah saat digoreng.

“Saya dibantu anak dan ibu memanfaatkan musim kemarau untuk membuat rengginang karena proses penjemuran berlangsung cepat dan pengeringan bisa lebih cepat dibandingkan musim penghujan,” ungkap Sukarti saat ditemui Cendana News di rumahnya dalam proses pembuatan rengginang, Sabtu (19/10/2019).

Proses awal pembuatan rengginang ungkap Sukarti diawali dengan pemilihan beras ketan berkualitas. Jenis beras ketan yang digunakan menurutnya berupa beras ketan putih, hitam dan merah. Ketiga jenis ketan tersebut akan dibuat dengan cara dicampur sebagian tetap diolah sesuai warna asli.

Varian campuran ketan tiga jenis menjadi daya tarik sebagian dengan tambahan pewarna alami.

Setelah beras ditampi dengan tampah, ketan direndam untuk menghilangkan kotoran dan membuatnya mengembang. Setelah perendaman selama lebih dari lima jam, ketan dikukus dalam dandang hingga matang.

Setelah matang ketan dihamparkan pada tampah agar dingin sembari ditaburi garam halus. Bahan berupa terasi udang dan ikan dikukus agar matang dan dicampurkan saat proses menguleni pada wadah baskom.

“Semua bahan yang disediakan berupa lima kilogram ketan matang dan lima bungkus terasi diuleni hingga tercampur merata,” ungkap Sukarti.

Pencampuran terasi dan ketan menurutnya dilakukan menggunakan centong khusus. Agar tercampur sempurna terasi yang sudah direbus kerap dilarutkan dalam air lalu dipercikkan pada ketan yang sudah matang.

Agar aroma semakin kuat tambahan bumbu bawang putih yang dihaluskan ikut dicampur sebagai penambah cita rasa gurih. Adonan ketan dan sejumlah bumbu akan ditutupi daun pisang agar meresap setelah setengah jam.

Bahan ketan yang sudah tercampur terasi, bawang merah selanjutnya dicetak. Pencetakan menurutnya sangat sederhana karena bisa menggunakan tutup toples. Satu sendok ketan disebutnya bisa dihamparkan pada tutup toples menjadi rengginang berbentuk bulat.

Adonan lima kilogram ketan menurutnya bisa dibuat menjadi ratusan rengginang berbentuk lingkaran.

“Aroma khas terasi akan terasa saat rengginang dicetak karena masih dalam kondisi hangat,” cetusnya.

Setelah rengginang dicetak, proses selanjutnya dilakukan penjemuran dengan para para bambu. Penjemuran dengan para para bambu membuat proses pengeringan lebih cepat dilakukan. Pada musim kemarau pengeringan rengginang hanya butuh waktu maksimal dua hari.

Selain itu kualitas rengginang yang dihasilkan sempurna sehingga bisa disimpan dalam waktu setahun.

Setelah rengginang kering, Sukarti melakukan proses pengemasan. Sebagian rengginang disimpan dalam toples atau wadah kedap udara. Rengginang kering yang akan dijual dikemas dalam plastik kedap udara dengan ukuran masing-masing 500 gram. Ia menjual rengginang kering yang belum digoreng berukuran 500 gram seharga Rp10.000.

“Saya menjual rengginang ke sejumlah warung dan pedagang sayuran sebagian digunakan untuk camilan harian keluarga,” pungkasnya.

Suwito, sang suami menyebut rengginang menjadi kue tradisional yang disukainya sejak kecil. Rasa rengginang yang dikombinasikan dengan terasi membuat aroma menambah selera untuk menyantap.

Suwito, kerap menikmati kue rengginang terasi yang sudah digoreng sebagai camilan saat santai sembari menonton televisi bersama keluarga di rumahnya, Sabtu (19/10/2019) – Foto: Henk Widi

Tambahan rasa terasi menurutnya menjadi varian dalam pembuatan rengginang oleh sang istri agar memiliki rasa yang lezat. Selain memiliki nilai gizi yang baik sumber karbohidrat rengginang menjadi cara menyantap ketan.

“Jika hanya disajikan dalam bentuk ketan kukus kerap anak anak kurang suka jadi rengginang bisa jadi alternatif penyajian,” tutur Suwito.

Suwito yang bekerja sebagai petani kerap membawa rengginang sebagai camilan. Saat kegiatan santai di rumah sembari menoton televisi, sang istri kerap menggoreng rengginang untuk disantap. Aroma khas terasi dan rasa gurih membuat rengginang cocok dijadikan lauk makan nasi karena renyah seperti kerupuk.

Rengginang yang sudah digoreng menurutnya awet disimpan hingga sepekan dalam wadah tertutup. Sebagai makanan tradisional rengginang menjadi alternatif makanan cadangan selama kemarau.

Lihat juga...