hut

Rusak Akibat Tsunami, Objek Wisata di Lamsel Diperbaiki Swadaya

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sejumlah pengelola objek wisata bahari terdampak tsunami pada 22 Desember 2019 melakukan perbaikan fasilitas yang rusak secara swadaya.

Muhamad Yunus, anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Minang Rua Bahari, pengelola pantai Minang Rua menyebut fasilitas yang rusak diantaranya homestay, villa, saung, warung dan tempat penangkaran penyu.

Muhamad Yunus, salah satu anggota Pokdarwis Minang Rua Bahari, pengelola pantai Minang Rua yang ramai dikunjungi saat liburan, Minggu (13/10/2019) – Foto: Henk Widi

Perbaikan secara swadaya disebutnya dilakukan agar kunjungan wisatawan kembali normal. Proses pembenahan diakuinya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Perbaikan secara gotong royong dilakukan untuk fasilitas umum yang bisa digunakan oleh wisatawan. Warung, musala, saung dan pembersihan sampah disebutnya memakan waktu hampir dua bulan sejak Januari hingga Februari.

Fasilitas homestay dan villa yang sebagian merupakan milik pribadi dilakukan oleh pengelola. Ia menyebut tiga villa terbuat dari kayu, bambu mulai bisa dipergunakan kembali.

Perbaikan yang belum bisa dilakukan disebutnya giant letter atau tulisan besar Pantai Minang Rua yang amblas akibat terjangan gelombang tsunami. Penambahan fasilitas homestay yang sudah bisa difungsikan kembali menjadi tempat menginap bagi wisatawan luar Lampung.

“Animo wisatawan untuk mengunjungi objek wisata bahari masih tinggi karena sejumlah fasilitas diperbaiki swadaya oleh Pokdarwis, warga pemilik fasilitas sehingga kondisi pantai Minang Rua bisa kembali pulih,” ungkap Muhamad Yunus saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu (13/10/2019).

Selain perbaikan fasilitas wisata secara swadaya, ia juga menyebut sebagian mendapat bantuan dari instansi terkait. Sejumlah bantuan penunjang diantaranya bagi warga di sekitar objek wisata dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Dinas Pariwisata Provinsi Lampung.

Peran serta masyarakat sekitar objek wisata disebutnya membuat sektor pariwisata bahari bisa kembali pulih.

Salah satu homestay di pantai Minang Rua Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni yang sudah diperbaiki secara mandiri oleh pemilik akibat kerusakan pada 22 Desember 2018 silam, mulai bisa dipakai, Minggu (13/10/2019) – Foto: Henk Widi

Mian, salah satu pemilik homestay menyebut kerusakan terjadi pada bangunan yang menghadap laut. Bangunan tersebut diakuinya menjadi tempat memandang Gunung Anak Krakatau (GAK) yang memiliki tinggi 338 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Namun kini setelah homestay direhab dan ditambah anjungan GAK yang runtuh usai tsunami hanya memiliki ketinggian 157 Mdpl.

Mian menyebut menghabiskan biaya puluhan juta untuk perbaikan homestay. Sebagai salah satu anggota Pokdarwis Minang Rua ia melakukan penambahan fasilitas anjungan kayu dan tempat kuliner. Perbaikan selama hampir tiga bulan sejak bulan Juli silam membuat homestay miliknya mulai banyak dipesan wisatawan.

“Setia akhir pekan ada puluhan wisatawan menyewa homestay menambah pemasukan bagi saya dan juga Pokdarwis,” tutur Mian.

Selain objek wisata bahari pantai Minang Rua, perbaikan swadaya kerusakan akibat tsunami dilakukan warga Kecamatan Rajabasa.

Sejumlah fasilitas saung, warung mulai diperbaiki oleh warga di pantai Kedaton, pantai Kunjir, pantai Serambi Krakatau di Desa Kunjir. Sejumlah pemilik fasilitas memilih melakukan perbaikan untuk bisa melanjutkan aktivitas berjualan dan melayani wisatawan yang berkunjung.

Hal yang sama dilakukan pengelola objek wisata bahari di pantai Alau Alau Kalianda. Syaifuddin Djamilus, Kepala Bidang Pengembangan dan Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamsel menyebut, sejumlah pengelola melakukan perbaikan secara swadaya.

Syaifuddin Djamilus, kepala bidang pengembangan dan destinasi wisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Selatan, dalam salah satu pelatihan balawista di pantai Alau Alau, beberapa waktu lalu – Foto: Henk Widi

Ia menyebut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lamsel telah mendata sejumlah kerusakan usai tsunami.

Sejumlah kerusakan yang didata meliputi atraksi, amenitas dan aksebilitas (3A) pada sektor pariwisata. Sejumlah objek wisata diakuinya memiliki kerusakan dengan tingkatan berbeda. Objek wisata pantai Alau Alau yang mengalami kerusakan villa, ruang pertemuan dan fasilitas lain bahkan rata dengan tanah.

“Saat terjadi kerusakan pada Desember silam baru ada sebagian yang diperbaiki dua bulan silam atau Agustus hingga kini belum selesai, semua dilakukan swadaya,” tutur Syaefuddin Djamilus.

Stimulan dalam menghidupkan kembali sektor pariwisata diakuinya sebagian bukan dalam bentuk bantuan pendanaan. Melalui sejumlah kegiatan diantaranya festival, acara bersih pantai dan kegiatan pelatihan menjadi cara meningkatkan kembali sektor pariwisata.

Meski sudah mengajukan usulan ke Kementerian Pariwisata, ia menyebut belum ada bantuan perbaikan. Sebagian pengelola objek wisata bahkan melakukan perbaikan secara swadaya.

Lihat juga...