hut

Sapi Madura, Antara Identitas Sosial dan Nilai Ekonomi

PAMEKASAN — Pulau Madura diproyeksi sebagai pusat produksi dan budidaya sapi di Jawa Timur, karena selain masyarakat di pulau tersebut memang gemar memelihara dan beternak sapi, langkah ini juga dilakukan sebagai upaya untuk menyokong kebutuhan daging dalam rangka mendukung program swasembada daging yang telah dicanangkan pemerintah pusat.

Menurut data, populasi sapi Madura hingga September 2019 mencapai 1.004.226 ekor, atau sekitar 5,8 persen dari populasi sapi nasional. Pemprov Jatim memproyeksi Madura sebagai pusat produksi sapi, karena beberapa pertimbangan.

Antara lain, karena daging sapi Madura memiliki kualitas premium. Faktor kegemaran masyarakat di pulau berpenduduk sekitar 3,9 juta jiwa yang tersebar di empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep, juga menjadi pertimbangan pemerintah menjadikan Madura sebagai pusat budidaya sapi di Jawa Timur.

Hasil penelitian akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) Peni Wahyu Prihandini belum lama ini menyebutkan, sapi Madura merupakan salah satu ternak yang ada di peternakan rakyat, dan kehidupan masyarakat lokal tidak bisa dipisahkan dari keberadaan sapi, karena sapi Madura memiliki nilai kultural dan historis tinggi, sekaligus menjadi tabungan keluarga.

Hanya saja, usaha ternak sapi yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat di Pulau Garam ini, belum bisa memberikan sumbangan pendapatan yang signifikan. Kontribusi dari hasil ternak sapi, menurut dia, hanya mampu menyumbang antara 18 hingga 28 persen bagi pendapatan keluarga.

Ini terjadi, karena sapi Madura sejauh ini hanya sebagai usaha sambilan dan belum menjadi cabang usaha. Selain itu, ada juga masyarakat yang memelihara sapi, hanya sekadar sebagai kesenangan.

Faktor ketersediaan pakan saat kemarau, menjadi penyebab utama masyarakat petani di Madura, tidak menjadikan peternakan sapi sebagai usaha pokok. Sebab saat kemarau, petani umumnya kesulitan untuk mendapatkan pakan ternak, karena rumput mengering, bahkan hampir semua daerah dilanda kekeringan dan kekurangan air bersih.

Di Kabupaten Pamekasan misalnya, pada kemarau saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat merilis, kekeringan melanda 11 kecamatan dari total 13 kecamatan yang ada di wilayah tersebut atau lebih dari separuh wilayah mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Secara otomatis, kondisi ini sangat berdampak pada ketersediaan pakan ternak sapi.

Seni Budaya Sapi
Meski memelihara sapi….

Lihat juga...