Sekolah Miliki Peran Penting Lestarikan Kesenian Tradisional

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Nilai-nilai kearifan lokal pada dunia pendidikan melalui kesenian tradisional terus dibina SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel). Di antaranya implementasi penguatan pendidikan karakter (PPK) melalui kesenian.

Topan Hariyono, Kepala SDN 1 Pasuruan Kecamatan Penengahan Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Topan Hariyono, kepala sekolah setempat menyebutkan, kesenian merupakan salah satu bidang studi yang mendidik sekaligus melatih perilaku yang baik. Beragam asal usul budaya di sekolah meliputi Jawa, Sunda, Lampung , Batak serta etnis lain menyatu tanpa perbedaan.

“Sejumlah kesenian yang diajarkan di sekolah di antaranya tari Jaipong asal Jawa Barat, tari Gambyong dari Jawa Tengah, tari tor tor dari Sumatera Utara, Kuda Lumping dari Jawa Tengah dan tarian lainnya,” ungkap Topan Hariyono saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (3/10/2019).

Melalui sejumlah tarian murid diajarkan filosofi dan makna luhur. Sebab sejumlah tarian merupakan simbolisasi kehidupan bermasyarakat dalam gotong royong, keramahan dan nilai luhur lain.

“Kesenian tradisional sekaligus mengakomodir minat dan bakat. Sekolah juga memfasilitasi murid yang memiliki minat pada olahraga karate dengan latihan pada hari yang ditentukan,” tambahnya.

Nilai nilai PPK disebut Topan Hariyono menjadi tantangan bagi sekolah mempersiapkan peserta didik secara keilmuan, kepribadian membentuk individu yang baik.

Anna Ventalensi, guru kelas V SDN 1 Pasuruan menyebut kesenian tradisional efektif membentuk karakter murid agar lebih kreatif. Pada zaman modern dengan akrabnya anak anak pada gawai (gadget) diarahkan untuk kegiatan positif.

Melalui gawai bisa digunakan untuk mencari gerakan tari, asal usul dan sejarah setiap tarian. Sebab kemudahan gawai dan internet bermanfaat untuk mendukung pendidikan.

“Kami ajarkan murid secara langsung gerakan tarian Sigeh Pengunten asal Lampung dan tarian lain, tapi di rumah murid berlatih melalui Youtube agar lebih hafal gerakan,” ungkap Anna Ventalensi.

Murid yang dilibatkan dalam kegiatan tari tradisional menurutnya mendapat dukungan dari orangtua. Sebagai bentuk dukungan sebagian orangtua mencarikan kostum, mencarikan video gerakan agar bisa dilatih di rumah.

Selain orangtua, pihak sekolah juga melibatkan komunitas berbasis kesenian. Salah satunya Paguyuban Keluarga Yogyakarta (PKY). Sebagai komunitas pelestari kesenian sejumlah murid bahkan mendapat pelatihan menabuh gamelan dan menari sejumlah tarian Yogyakarta.

Aloysius Rukun Haryoto, ketua PKY menyebut dunia pendidikan memiliki peran penting dalam pelestarian seni tradisional. Melalui sekolah, sejumlah nilai positif seni tradisional bisa menjadi bagian pendidikan karakter.

“Melatih anak anak sejak dini pada kesenian tradisonal akan menumbuhkan rasa nasionalisme,” ungkapnya.

Aloysius Rukun Haryoto juga menyebut murid bisa mempelajari sejumlah kesenian yang ada di Indonesia. Sekolah yang menjadi tempat mendidik nasionalisme harus mengajarkan sejumlah tarian tanpa memandang perbedaan. Sebab melalui kesenian menjadi kesempatan mengajarkan keberagaman di Indonesia.

Lihat juga...