hut

Semangkuk Kanji Rumbi

CERPEN TRIANA RAHAYU

MALIKA mengusap bulir keringat yang mengembun di keningnya sesaat, kemudian kembali berkutat dengan aneka rempah di hadapannya.

Ada kapulaga, ketumbar, jintan, adas, dan aneka bumbu yang akan digilasnya di lumpang batu. Setelah beberapa menit yang lalu ia menyangrai beras, kemudian merebusnya hingga menjadi bubur di dalam panci bersama kuah kaldu.

“Jangan sampai kau melewatkan satu macam bumbu saja, kalau ingin mendapatkan rasa kanji rumbi yang sempurna. Karena itulah bubur ini disebut bubur 40 macam bumbu!”Begitu pesan Nek Mah, wanita yang mengajarinya memasak bubur kanji rumbi ini belasan tahun silam.

Wanita yang mengasuhnya setelah kedua orangtuanya meninggal dalam tragedi tsunami dahsyat yang menerjang kota kelahirannya, di ujung pulau Sumatera.

Hmmm… mata Malika terpejam, saat menghirup aroma kenangan yang menguar dari sepanci bubur kanji rumbi yang meletup lembut di hadapannya. Saat itu gerimis kecil merambati jendela.

Ada dirinya dan suaminya, yang dulu dipanggilnya Pak Hanan terkurung di dalam ruangan berwarna putih gading dengan setumpuk pekerjaan yang menggunung di atas meja. Karena sedang terserang flu, hari itu ia membawa bubur kanji rumbi untuk bekal makan siangnya yang baru sempat dimakannya menjelang matahari terbenam.

Menurut Nek Mah, karena terdiri dari 40 macam bumbu, bubur kanji rumbi bukan hanya nikmat disantap, tapi juga berkhasiat untuk mengeluarkan angin dan penambah stamina. Dibaginya bubur kanji rumbi pada bosnya yang terkenal pendiam itu dengan takut-takut.

Tanpa diduga, bosnya itu menghabiskan semangkuk bubur kanji rumbi yang diberikannya tanpa sisa. Senja itu, di antara derasnya hujan di balik jendela kantor, lelaki itu mengatakan telah lama memendam rasa suka pada orang yang telah memberinya semangkuk bubur kanji rumbi.

Ah… Bang Hanan, lelaki itu memang penuh kejutan. Hingga di usia tujuh tahun pernikahan mereka, ada saja surprise yang diberikan lelaki itu kepadanya, kadangkala membuat ia sulit berkata-kata. Dan sejak hari itu, selalu ada semangkuk bubur kanji rumbi yang menemani di setiap momen spesial pernikahan mereka.

Seperti malam ini. Malika mengusap wajahnya kembali. Ia harus segera menyelesaikan masakan ini. Setelah itu mandi dan berdandan yang rapi. Jangan sampai suaminya tiba di rumah dan melihatnya dalam keadaan lusuh seperti ini, apalagi dengan tubuh beraroma bawang.

***

PIRING porselen motif bunga dengan gelas kristal berkaki yang hanya digunakan di saat-saat istimewa telah tertata rapi di atas meja. Sebuket mawar putih dalam vas kaca ditambah lilin yang menyala redup, menciptakan suasana romantis.

Tentu saja, yang tak boleh terlupakan, semangkuk bubur kanji rumbi dengan aroma rempah khas yang begitu menggoda menjadi menu utamanya. Sempurna! Malika tak menyangka dapat menyiapkan makan malam ini hanya dalam waktu beberapa jam saja.

Sementara gaun pastel dengan ujung berenda telah dikenakan. Sekarang, ia hanya menunggu, suaminya tiba di rumah dari luar kota.

Ya suaminya berhak mendengar kabar menggembirakan ini dengan cara yang spesial. Untuk kesabaran lelaki itu menerima kondisinya yang divonis dokter mengalami masalah pada organ reproduksi, hingga sulit memiliki keturunan.

Bang Hanan yang selalu mengusap airmatanya di saat kerinduan akan buah hati tak dapat terbendung lagi. Bang Hanan yang selalu menjawab dengan tenang saat suara-suara sumbang teman dan kerabat tak henti menanyakan kenapa mereka belum juga memililiki momongan.

Bang Hanan juga yang selalu membelanya setiap kali ibu mertua menyindir ketidakmampuannya memberinya seorang cucu.

Kalau saja pagi tadi ia tidak menyadari sudah telat datang bulan. Mungkin ia masih tak berharap banyak, seperti biasanya. Sampai sore tadi ia memberanikan diri mendatangi klinik dokter kandungan.

Ia benar-benar tak percaya, hingga nyaris pingsan dan kemudian menangis terisak-isak. Di saat ia telah mengikhlaskan kondisinya dan berserah pada Tuhan, dokter justru menyampaikan, kalau janin usia delapan minggu telah hidup di rahimnya.

Malika mengusap perutnya lembut. Ia benar-benar tak sabar untuk memberitahukan kepada suaminya, kalau akhirnya lelaki itu akan menjadi seorang ayah.

Angin malam yang dingin menyusup masuk lewat celah jendela. Mempermainkan tirai putih tipis yang melapisinya. Entah sudah berapa kali Malika bolak-balik mengintip dari bibir jendela. Menatap ke jalanan yang basah.

Berharap dari pertigaan di bawah lampu jalan yang mulai meredup itu, muncul mobil Bang Hanan memasuki halaman rumah. Namun, hingga jam dinding berdentang sebanyak sembilan kali, hanya terlihat bayangan hitam pohon kersen yang tersiram lampu jalan yang bergoyang lembut tertiup angin malam.

Malika merebahkan tubuhnya di sofa merah dekat jendela. Tempat yang menjadi favorit suaminya ketika berada di rumah. Sofa yang mereka beli di sebuah pameran furniture sebulan setelah menikah. Satu-satunya benda dengan warna mencolok di antara furniture berwarna cokelat yang ada.

Diliriknya ponsel yang masih terdiam di atas meja. Mungkin Bang Hanan sedang menyetir hingga tidak dapat membalas pesan singkatnya dan mengangkat telepon darinya. Malika mencoba berpikir positif.

Dipejamkannya mata. Satu detik. Lima detik. Tiga puluh menit. Setengah jam berlalu. Mata Malika yang lelah mulai terpejam. Ada dan tiada. Gelap.

***

MALIKA terjaga saat merasakan terpaan angin dingin menyentuh wajahnya. Terkesiap tak siap di antara roh yang belum bersetubuh dengan jiwa. Tiupan angin itu cukup membantu matanya untuk terbuka. Sebuah wajah tertangkap di awal penglihatannya yang masih samar.

“Bang Hanan!” lirihnya.

Malika menggeliat lemah. Baru disadari ia terbangun dengan rasa sakit. Kepalanya pusing. Diusapnya bagian itu perlahan, sakitnya malah berdenyut kencang. Malika membawa tubuhnya bangkit, dan terkejut, saat menyadari ia telah berada di dalam ruangan dengan lantai hardwood yang hangat.

Terduduk di atas ranjang dengan selimut yang hampir jatuh menyentuh lantai. Kamarnya sendiri, diputarnya kepala beberapa derajat. Melihat jam di dinding. Jarum jam di sana menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit. Diputar kembali wajahya menatap suaminya yang berdiri kaku di pojok tempat tidur.

“Malam sekali Bang Hanan pulang?” tanyanya.

Suaminya tak menjawab. Wajahnya yang lelah dalam balutan aroma parfum yang terasa asing di indera penciuman Malika, menatap lemah. Kemeja putih dan celana warna senada melekat di tubuh suaminya.

Ah… pasti ia tertidur saat suaminya pulang dan memindahkannya ke kamar. Disingkapnya selimut, turun dari ranjang, berjalan mendekati suaminya. Namun langkahnya surut begitu mengingat sesuatu.

Bubur kanji rumbi yang ia siapkan untuk makan malam spesial mereka, pasti sudah mendingin di atas meja!

“Sebentar ya, Bang! Akan aku hangatkan dahulu makan malam kita sebelum Bang Hanan menyantapnya,” ucap Malika.

Kembali suaminya tak menjawab. Wajahnya yang terlihat pucat malah menatap Malika sedih. Mungkin menyetir sendirian dari luar kota membuat suaminya kelelahan, pikir Malika. Apalagi beberapa bulan terakhir ini pekerjaan suaminya sedang banyak-banyaknya, hingga dia sering pulang larut malam dan kadang keluar kota dalam waktu yang lama.

Semangkuk bubur kanji rumbi pasti dapat menghangatkan dan menyegarkan tubuh suaminya kembali. Apalagi setelah mendengar kabar gembira yang akan disampaikannya di akhir makan malam nanti, Pasti membuat suaminya tidur dengan nyenyak malam ini.

Malika segera menarik langkah menuju pintu. Bergegas menuju ruang makan. Tepat di bibir meja makan Malika dikejutkan oleh sebuah tangan yang menyentuh pundaknya lembut dari belakang. Dipalingkan wajahnya dengan cepat.

“Bunda…!” Malika terhenyak. Melihat ibu mertuanya berdiri di hadapannya. “Kapan Bunda datang? Oh, pasti Bang Hanan mampir ke rumah Bunda sepulang dari luar kota dan mengajak Bunda menginap di rumah kami, ya?” tebaknya.

Sebagai anak lelaki satu-satunya, suaminya memang rutin mengunjungi ibu mertuanya yang tinggal hanya berbeda gang dari rumah mereka.

“Pantas saja Bang Hanan pulang selarut ini.” Malika tersenyum. Kebetulan sekali ibu mertuanya datang, makan malam ini akan mejadi momen spesial bukan hanya untuk ia dan suaminya, tapi juga bagi ibu mertuanya yang selama ini begitu sering menyindirnya karena merindukan cucu dari suaminya.

“Sebentar Bunda! Malika panaskan dahulu bubur kanji rumbi ini untuk makan malam, Bang Hanan,” ucap Malika, kemudian, ditariknya semangkuk bubur yang sudah mendingin di atas meja, bersiap membawanya ke dapur.

“Malika! Hanan, tidak akan pernah mencicipi bubur kanji rumbi buatanmu lagi!”

Malika kembali menoleh. Tersenyum kecil pada ibu mertuanya. “Memang sudah terlalu malam untuk menyantap bubur ini, Bunda, tapi Bang Hanan akan segera keluar dari kamar, begitu bubur ini selesai dihangatkan, untuk makan malam kita.”

Isak ibu mertuanya pecah. Tubuhnya kemudian jatuh memeluk tubuh Malika.

“Hanan sudah pergi Malika! Hanan sudah tidak ada!”

Malika terhentak. Suara-suara berisik mulai mengiang di telinganya bagai lebah. Satu persatu wajah muncul di hadapannya, wajah kerabat, tetangga, yang entah sejak kapan memenuhi rumahnya.

Perlahan ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu, saat suara ketukan di pintu membangunkannya. Ia pikir suaminya yang pulang. Ternyata Dika anak buah suaminya yang datang, dan menyampaikan sebuah kabar.

Dada Malika kembali sesak, kepalanya pusing, pandangannya berkunang-kunang. Seluruh persendiannya melunglai lemas. Semangkuk bubur kanji rumbi yang dipegangnya terhempas jatuh ke lantai.

Pecah! Isinya berhamburan. Seperti kepingan perasaannya.

Sebelum pandangannya kembali gelap, entah untuk yang ke berapa kali, lamat-lamat kalimat yang diucapkan Dika menggema kembali di ingatan Malika.

“Pak Hanan meninggal, Bu! Dia ditemukan tewas di kamar penginapan, di luar kota, bersama seorang wanita yang sangat misterius.” ***

Triana Rahayu, alumni Institut Pertanian Bogor. Sejumlah cerpen dan cerbernya pernah dimuat di Majalah Femina, Majalah Kartini, Tabloid Nova, dan lainnya.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas. Tidak SARA. Naskah merupakan karya orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah dimuat di media cetak, online atau juga buku. Kirim naskah ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. 

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com