hut

Soehardjo Soebardi: Pak Harto Berikan Pemikiran Terbaik untuk Bangsa

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Presiden Kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto, adalah seorang tokoh nasional dengan pemikiran dan karya terbaik untuk kemajuan bangsa Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua Pembina Yayasan Harapan Kita (YHK), Soehardjo Soebardi, dalam sambutannya pada diskusi buku ’50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’ di Candi Bentar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (19/10/2019) sore.

“Pak Harto salah seorang tokoh nasional. Banyak yang mengatakan, Indonesia itu hanya ada dua tokoh nasional, yaitu Bung Karno dan Pak Harto,” kata Soehardjo.

Ketua Pembina Yayasan Harapan Kita (YHK), Soehardjo Soebardi, dalam sambutannya pada diskusi buku ’50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’ di Candi Bentar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (19/10/2019) sore. Foto: Sri Sugiarti

Dari sekian banyak tulisan Pak Harto dan karya besar Beliau, sebut dia, telah dirangkum oleh Mahpudi dalam satu buku ’50 Inisiatif Pak Harto untuk Indonesia dan Dunia’.

“Alhamdulillah buku ini telah kami terjemahkan dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan diskusi buku ini memberi penjelasan dan penerangan pada masyarakat luas,” ujarnya.

Pada kesempatan ini, Soehardjo mengaku bangga karena baru-baru ini penghargaan bergengsi Nobel Prize diberikan kepada 3 ekonom Amerika Serikat (AS), yaitu Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kremer.

Penelitian tersebut diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul konsekuensi sekolah dan pasar tenaga kerja dari pembangunan sekolah di Indonesia: bukti dari eksperimen kebijakan yang tidak biasa.

Esther Duflo menganalisa dampak dari program pemerintah Indonesia terhadap pendidikan dan tingkat upah penduduk Indonesia.

Yakni, caranya dengan menggabungkan perbedaan jumlah sekolah di berbagai daerah dengan perbedaan antar-kelompok yang disebabkan oleh waktu program.

Dalam abstraksi penelitian dijelaskan dia, penelitian tersebut berbasis pada realita yang terjadi di Indonesia tahun 1973 dan 1978. Di mana RI membangun lebih dari 61.000 SD. Pengembalian aspek ekonomi sekitar 6,8 persen hingga 10,6 persen.

SD Inpres tersebut memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan anak dan ekonomi di berbagai daerah di Indonesia.

“Penelitian ini sangat menarik dan jadi bukti bahwa Pak Harto bukan sembarangan karyanya mendunia,” ujarnya.

Namun Soehardjo menyayangkan, yang mengolah penelitian tentang SD Inpres itu bukan orang kita, tapi orang Amerika.

“Tapi ya, bagaimana pun kita masih mempunyai embel-embel meskipun hanya dipakai sebagai riset. Tapi itu suatu karya besar dan diakui bahwa penemuan Pak Harto ini sangat menunjang bangsa kita di bidang mencerdaskan bangsa dan meningkatkan perekonomian,” tukasnya.

Kembali dia berharap diskusi buku ini bisa bermanfaat untuk masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda supaya bisa paham dan menyimak apa yang menjadi karya besar Pak Harto.

“Ini juga kebanggaan bagi kita bahwa pemikiran Pak Harto sampai hari ini dipercaya sangat jauh ke depan dalam memajukan bangsa dan negara Indonesia,” ujarnya.

Ada pun buku-buku tentang Pak Harto yang menjadi best seller adalah sebut dia, ‘Pak Harto: Untold Stories‘ karya Mahpudi.

Zaman Pak Harto memimpin bangsa ini, jelas dia, beliau melakukan perjalanan dengan betul-betul tidak ada komunikasi dengan siapa pun.

“Beliau pergi, ya pergi begitu saja. Dan itu dari ujung Jawa Barat sampai Jawa Timur. Itu diabdikan Pak Mahpudi dalam sebuah buku Incognito dan bisa dibaca juga dibeli,” tutupnya.

Lihat juga...