hut

Suhu Udara Tinggi, Tambak Udang di Lampung Selatan Terserang Virus WSS

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Suhu udara yang tinggi karena kemarau, berimbas usaha budi daya udang putih atau vaname di Lampung Selatan. Suhu udara yang tinggi menjadikan udang rawan terserang penyakit.

Usman, petambak di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan menyebut, sebagian udang miliknya terkena penyakit virus White Spot Syndrome (WSS). Virus muncul karena perubahan suhu udara dan menyebabkan kematian pada udang.

Perubahan suhu dirasakan terjadi sejak pertengahan Oktober lalu. Suhu normal di Sragi sebenarnya sekira 20 hingga 25 derajat celcius. Namun memasuki pertengahan Oktober, suhu udara naik mencapai 28 hingga 31 derajat celcius. Suhu udara yang tinggi, mempengaruhi pertumbuhan udang yang memasuki usia 50 hari. Pada kondisi normal udang vaname bisa dipanen saat usia 90 hari, namun karena terkena virus, terpaksa udang  dipanen dini.

Udang terinveksi virus WSS, mengalami perubahan warna. Muncul bintik-bintik putih pada bagian ekor, yang kemudian merembet ke seluruh tubuh. Jika sudah memenuhi tubuh, udang kemudian kematian. Udang yang mati karena virus WSS mengalami perubahan warna kulit menjadi merah muda. “Upaya menjaha suhu air tambak sudah dilakukan dengan sistem aerasi memakai kincir agar oksigen terpenuhi, namun suhu tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat udang rentan virus terlebih residu pakan mengendap di dasar tambak,” ungkap Usman kepada Cendana News, Rabu (23/10/2019).

Suhu air yang tinggi mempengaruhi pertumbuhan udang. Pada kondisi normal Dia bisa memanen sekitar satu ton untuk tebaran 1.000 benur. Namun karena virus WSS, diperkirakan hanya bisa memanen sekitar empat kuintal.

Hasan,pemilik tambak udang putih atau udang vaname memberi pakan pada petak tambak miliknya, Rabu (23/10/2019) – Foto Henk Widi

Panen dilakukan secara parsial, karena masih ada udang yang dipertahankan hingga memasuki usia 85 hari. Udang yang diperkirakan bisa bertahan sampai usia normal, diperkirakan hanya tiga kuintal. “Meski pasokan air masih bisa dilakukan namun suhu yang tinggi masih belum bisa diatasi mengakibatkan udang rentan penyakit,” tutur Usman.

Hasan, petambak dengan lahan berjarak 100 meter dari Sungai Way Sekampung menyebut, masih bisa membudidayakan udang. Ia memanfaatkan mesin diesel dan selang untuk memompa air. Suhu udara yang tinggi selama kemarau, diatasi dengan menggunakan kincir. “Saya gunakan kincir dan juga zat khusus, agar suhu air tetap stabil sehingga udang bisa tumbuh dengan baik,” cetusnya.

Meski demikian, karena kondisi lingkungan, udang tetap tidak bisa dipanen normal. Virus WSS atau bintik putih, mengakibatkan kematian pada udang. Panen parsial menjadi solusi untuk menekan kerugian. Hasil panen parsial, udang masih dibeli pengepul seharga Rp55.000 perkilogram. Harga tersebut lebih tinggi dari harga sebelumnya yang hanya Rp38.000 perkilogram.

Lihat juga...