hut

Usaha Kuliner di Jalinsum Terimbas Operasionalisasi JTTS

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Operasionalisasi Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar, Lampung berdampak terhadap usahja kuliner warga.

Gok Son Sinaga, pemilik usaha kuliner khas Lampung menyebut, sejak satu tahun terakhir barang dagangannya sepi pembeli. Kuliner khas berupa keripik singkong, keripik pisang, selai, dodol dan berbagai jenis makanan, saat ini dijual dalam jumlah terbatas.

Berjualan di tepi Jalan Soekarno Hatta atau dikenal Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), sebenarnya lokasi usaha tersebut berada di jalur strategis. Selain akses menuju ke kota Panjang, Bandar Lampung, jalan tersebut juga menjadi perlintasan kota Bandar Lampung menuju Bakauheni. Sejak JTTS terkoneksi antara Bakauheni, Lampung Selatan (Lamsel) ke Terbanggi Besar, Lampung Tengah (Lamteng, kendaraan memilih memakai jalan bebas hambatan tersebut. Akses gerbang tol terdekat, menurut Gok Son Sinaga, berada di Lematang, Tanjung Bintang yang berjarak sekira lima kilometer.

Akses tersebut cukup jauh dari lokasinya berjualan. Kini Dia hanya mengandalkan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), travel dan bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) trayek terminal Rajabasa ke pelabuhan Bakauheni. Kendaraan yang masih melintas di Jalinsum kerap berhenti mencari penumpang dan kembali masuk ke tol di gerbang tol Sidomulyo, Lamsel.

“Penurunan jumlah penjualan kuliner oleh oleh khas Lampung anjlok karena lokasi kami berjualan jauh dari akses gerbang tol, sementara kendaraan yang melintas umumnya kendaraan trayek lokal, padahal oleh-oleh kerap dibeli oleh pengendara luar Lampung yang akan menuju ke pulau Jawa,” ungkap Gok Son Sinaga saat ditemui Cendana News, Sabtu (5/10/2019).

Sebelum jalan tol beroperasi pada awal 2018, Gok Son Sinaga menyebut, bisa menjual ratusan kemasan makanan ringan. Sehari Dia bisa menjual puluhan kemasan dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp30.000. Omzet ratusan ribu perhari bisa didapatkannya.

Gok Son Sinaga,pemilik usaha kuliner berbahan pisang,ubi,kopi di Jalan Soekarno Hatta Panjang Bandarlampung memperlihatkan keripik pisang yang mengalami penurunan penjualan akibat operasional Jalan Tol Trans Sumatera – Foto Henk Widi

Menu kuliner berupa bakso, mie ayam dan mie instan, kalau itu masih disediakan. Namun, warung tersebut kini terpaksa ditutup, karena sepi pembeli. Harapan konsumen terbanyak adalah penumpang bus dan travel yang kerap berhenti di depan lapangan Baruna Panjang. “Ada beberapa kemasan makanan jenis keripik saya kembalikan ke produsen, karena sejak awal dititipkan tidak laku terjual hingga kedaluarsa,” ungkap Gok Son Sinaga.

Makanan yang dijual sebagian dititipkan oleh produsen. Omzet penjualan tertinggi, biasa terjadi saat musim mudik lebaran Idul Fitri. Namun saat JTTS mulai fungsional, dan operasional volume kendaraan melintas di Jalinsum sepi, lokasi usahanya mengalami penurunan omzet. Kendaraan roda empat yang semula melintas di Jalinsum, kini memilih memakai JTTS untuk menghindari tanjakan dan turunan tarahan, yang dikenal membahayakan.

Gok Son Sinaga menyebut, alternatif berjualan di rest area JTTS pernah ditawarkan kepadanya. Namun dengan keterbatasan modal, Dia menyebu, tidak bisa berjualan di rest area jalan tol. Sebagai cara tetap bertahan, Dia mengurangi jumlah makanan ringan dalam kemasan yang dijual. Pedagang lain, Wartini, pemilik warung Desintya menyebut, operasional tol Sumatera berdampak baginya. Sebelumnya mobil travel dan kendaraan pribadi beristirahat saat akan menuju ke pelabuhan Bakauheni di dekat warungnya.

Kini, kendaraan memilih masuk ke jalan tol dari pelabuhan Bakauheni dan keluar di gerbang tol Kotabaru hingga Natar. Titik terdekat gerbang tol dengan warung miliknya berada di gerbang tol Bakauheni Utara. “Usaha kuliner yang saya rintis memperhitungkan kebutuhan pengendara di Jalinsum namun saat tol beroperasi dampak sangat terasa,” ungkap Wartini.

Sebagai cara mencegah kebangkrutan, Dia sudah memesan satu tenant di rest area KM 21 JTTS yang masih dalam tahap pembangunan. Meski warung yang berada di Jalinsum Penengahan melayani masyarakat, Dia masih akan membuka usaha kuliner di rest area JTTS sebagai cabang usaha.  Penurunan omzet tersebut menjadi keprihatinan Ikatan Wanita Pengusaha (Iwapi) Lamsel. Gustina Idawati, Ketua Iwapi Lamsel menyebut, dampak jalan tol harus disikapi oleh pengusaha kuliner sebagai peluang.

Ada sejumlah rest area yang oleh pengelola JTTS tetap diprioritaskan untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Terlebih kebutuhan akan kuliner,oleh oleh khas Lampung masih menjadi peluang bagi pemilik usaha. “Tentunya kriteria makanan yang dijual di rest area ada standar, Iwapi Lamsel memberi bekal dalam pengelolaan usaha kuliner oleh oleh agar berdaya saing,” pungkasnya.

Lihat juga...