hut

Warga Lamsel Panen Raya Melinjo

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kemarau yang melanda wilayah Lampung Selatan (Lamsel) masih memberi hasil bagi pekebun di kaki Gunung Rajabasa. Melinjo, salah satu komoditas perkebunan yang tahan kondisi cuaca panas, menjadi sumber penghasilan petani di Desa Tanjung Heran, Kecamatan Penengahan.

Suminem, petani setempat, menyebut melinjo atau dikenal tangkil menjadi investasi keluarganya. Pohon Melinjo semula ditanam sebagai tanaman pembatas dua meter dari batas dengan kebun lain. Tanaman dengan nama ilmiah Gnetum gnemon, tetap bertahan meski sejumlah tanaman lain meranggas.

Meski kemarau, sebanyak 30 lebih tanaman melinjo miliknya berbuah lebat. Saat kemarau, puncak panen bahkan sedang berlangsung. Proses pemanenan kerap dilakukan dengan mengupah pemetik.

Upah pemetikan melinjo sesuai kesepakatan dengan pemilik kebun dengan borongan atau sistem timbangan. Sesuai sistem timbangan, satu kilogram melinjo pemetik bisa mendapat upah Rp2.000. Sementara dalam satu pohon bisa dihasilkan sekitar 30 kilogram, sehingga pemetik mendapat upah Rp60.000 per pohon. Pemilik juga kerap memberikan upah sistem borongan sebesar Rp70.000 per pohon.

Suminem (kanan), pemilik kebun melinjo di Desa Tanjung Heran, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, mengupas kulit melinjo bersama sejumlah ibu rumah tangga untuk dijual kulit dan bijinya, Rabu (16/10/2019). -Foto: Henk Widi

“Saat kemarau, tanaman melinjo menjadi sumber penghasilan bagi petani dan buruh petik, buruh kupas yang sebelumnya menjadi buruh tanam jagung dan padi, yang karena kemarau lahan tidak digarap,” ungkap Suminem, saat ditemui Cendana News tengah melakukan pengupasan melinjo di rumahnya, Rabu (16/10/2019).

Awalnya, Suminah menyebut penanaman melinjo dilakukan untuk peneduh tanaman lada dan kopi. Namun imbas harga lada yang anjlok, sebagian petani memilih merombak lada dengan komoditas lain.

Tanaman melinjo memiliki perakaran tunjang dan toleran terhadap kemarau. Keberadaan pohon melinjo menjadi sumber peneduh alami bagi tanaman kakao yang masih dipelihara olehnya.

Sebagai tanaman investasi, pohon melinjo bisa dipanen sepanjang waktu. Pemanenan dilakukan pada bagian bakal buah atau dikenal kroto, daun atau so dan buah melinjo atau tangkil muda hingga tua.

Melinjo tua ditandai dengan kulit buah menguning hingga merah. Pemetikan dengan cara perontokan dilakukan sejak awal Oktober hingga November mendatang.

“Pemanenan buah yang merah menyisakan buah melinjo warna hijau, bisa dipanen bulan berikutnya secara bertahap,” tutur Suminem.

Sebagai tanaman yang bisa dipanen setiap bulan dan puncak panen bulan Oktober, melinjo menjadi tanaman investasi. Sebanyak 30 pohon melinjo dengan rata-rata menghasilkan 20 kilogram, ia mendapatkan 600 kilogram melinjo.

Saat dikupas, melinjo akan menghasilkan sekitar 500 kilogram biji. Dijual seharga Rp35.000 per kilogram, ia bisa mendapatkan hasil Rp1,7juta sekali panen. Hasil itu belum termasuk kulit, daun dan bakal buah yang dijual terpisah.

Saat sejumlah tanaman meranggas, kala kemarau melinjo justru sangat produktif. Pasalnya, menurut Suminem, bakal buah tidak mengalami kerontokan. Proses pemanenan dengan batang yang kering memudahkan pekerja dibandingkan panen saat musim penghujan.

Keberadaan pohon melinjo juga menjadi peresap alami air, sehingga sejumlah sumber air masih bertahan berkat keberadaan tanaman melinjo.

“Perakaran yang dalam pada melinjo membuat sumber air terjaga, sehingga tanaman melinjo bisa jadi investasi lingkungan juga,” paparnya.

Biji melinjo yang sudah dipetik, katanya, bisa menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah ibu rumah tangga. Saat pengupasan kulit melinjo, ia kerap memberi upah sekitar R45.000 bagi ibu rumah tangga yang membantu pengupasan. Selain mendapat upah, sebagian kulit bisa dibawa pulang menjadi olahan kuliner yang lezat. Sebagian kulit melinjo dijual kepada pedagang sayuran.

Biji melinjo kupas yang dijual Rp35.000 per kilogram bisa dibuat menjadi keripik atau emping, yang belum digoreng pada level perajin kerap dijual Rp50.000 per kilogram. Dalam kondisi matang, dalam kemasan per kilogram emping bisa dijual Rp100.000 atau Rp25.000 untuk ukuran 250 gram. Budi daya melinjo, menurutnya selain sebagai investasi menjadi mata rantai sumber ekonomi bagi masyarakat.

Hasanah, pedagang sayuran yang menjual melinjo mengaku menjual daun, bakal buah dan kulit. Juga menjual emping melinjo yang mentah, sehingga pembeli bisa menggorengnya di rumah.

Kulit melinjo dan emping dengan mudah diperoleh saat kemarau. Sebab, memasuki musim panen raya, kondisi cuaca mempercepat proses pengeringan.

“Sayuran kulit melinjo, daun melinjo bisa jadi alternatif bagi untuk kuliner sebagai makanan tradisional,” cetus Hasanah.

Melinjo yang sudah dibuat menjadi emping kerap dibeli oleh pemilik usaha soto ayam, mie ayam dan bakso. Sebab, emping melinjo yang sudah digoreng memiliki rasa renyah dan gurih.

Keberadaan tanaman melinjo yang ada di kaki Gunung Rajabasa, sebut Hasanah, bisa menjadi varian sayuran, di samping sejumlah sayuran lain yang dijualnya.

Lihat juga...