hut

Warga Selomartani Rintis Desa Wisata Berbasis Sejarah

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Masyarakat di Desa Selomartani, Kalasan, Sleman, bertekad menjadikan desa mereka sebagai salah satu destinasi wisata perjuangan berbasis sejarah dan budaya di Yogyakarta. Hal itu dilakukan, mengingat wilayah desa Selomartani memiliki sejarah panjang di masa perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan RI. 

Selain pernah menjadi Markas Pasukan Gerilya Akademi Militer Yogyakarta Sub Wehrkreise 104 WK III, desa ini juga pernah menjadi arena medan pertempuran antara para pejuang kemerdekaan dengan tentara Belanda. Untuk mengenang gugurnya sejumlah pejuang dalam peristiwa itu, bahkan dibangun Monumen Plataran di desa ini.

“Desa ini memiliki kekayaan sejarah luar biasa. Karena pada masa Agresi Militer Belanda II 1949, dusun ini pernah menjadi basis perjuangan para pejuang, yakni para taruna akademi militer. Untuk mengingat sejarah itu, kami ingin mengembangkannya sebagai destinasi wisata perjuangan berbasis sejarah,” ujar Ketua Kelompok Historia 24249, Nuril Huda, yang merupakan pegiat sejarah asal desa Selomartani, Jumat (18/10/2019).

Ketua Kelompok Historia 24249, Nuril Huda, yang merupakan pegiat sejarah desa Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, saat dirtemui, Jumat (18/10/2019). –Foto: Jatmika H Kusmargana

Untuk mewujudkan rencana tersebut, warga saat ini tengah mengembangkan berbagai alternatif pilihan paket wisata. Mulai dari museum sejarah, jogging track, kegiatan kesenian dan budaya. Termasuk juga sarana dan fasilitas pendukung lainnya.

Selain untuk mendorong pemahaman akan sejarah masa lampau, melalui upaya ini diharapkan kesejahteraan warga desa pun akan makin meningkat.

“Harapannya, dengan dibukanya destinasi wisata perjuangan berbasis sejarah dan budaya ini, akan bisa meningkatkan rasa nasionalisme, khususnya di kalangan generasi muda. Tak hanya itu, dengan banyaknya wisatawan yang berkunjung, ekonomi dan kesejahteraan warga sekitar pun juga akan meningkat,” katanya.

Sementara itu, Dewan Pembina Ikatan Akademi Militer Yogyakarta, Indroyono Susilo, mengatakan sejarah Yogyakarta sebagai salah satu ibu kota RI sekaligus kota perjuangan, dalam mempertahankan kemerdekaan tak boleh dilupakan begitu saja. Sejarah itu harus selalu diingat dan diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

“Dengan menjadi destinasi wisata perjuangan berbasis sejarah dan budaya, diharapkan orang akan bisa mengingat kembali sejarah yang pernah terukir di desa ini. Ini merupakan salah satu bentuk bela negara. Sekaligus contoh nyata implementasi bersatunya rakyat dan TNI yang bahu-membahu membela Tanah Air,” katanya.

Lihat juga...