hut

Warga Waibeleler – Sikka Terpaksa Gunakan Air Keruh dan Bau

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sore hari sekitar pukul 15.00 WITA, ratusan warga Kampung Hoder dan Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, di kecamatan Waigete, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, berdatangan ke mata air Wair Koro, di sekitar hutan bambu di ujung kampung.

Warga membawa pakaian kotor, bak air plastik serta jerigen plastik berukuran 5 liter.Selain para remaja dan ibu rumah tangga, anak-anak juga ikut serta ke lokasi mata air tersebut.

“Sejak Juli 2019, warga terpaksa mengambil langsung air di mata air Wair Koro, karena debit air menurun drastis,” kata Novita Fatmawati Yuningsih, warga dusun Habijanang, Selasa (22/10/2019).

Apalagi, sambungnya, sejak ada kebakaran hutan di sekitar mata air Wair Koro bulan September lalu, debit air makin kecil. Air pun tidak bisa mengalir melalui pipa air ke perkampungan, karena pipa plastik ikut dilalap api.

“Hampir setiap hari sejak pagi, siang hingga malam hari warga pasti ambil air di mata air. Kalau malam hari warga menyambung pipa air dan mengambil di dekat jalan menanjak di ujung kampung,” katanya.

Novita Fatmawati Yuningsih, warga Kampung Hoder, Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, saat ditemui di mata air Wair Koro, Selasa (22/10.2019) sore. -Foto: Ebed de Rosary

Air dari mata air Wair Koro, jelas Novita, dipergunakan untuk konsumsi warga dusun Habijanang dan dusun Wolomapa.

Kalau musim hujan, ucapnya, air bisa mengalir lancar hingga ke perumahan warga di dua dusun ini, sementara saat musim kemarau air tidak mengalir.

“Saat musim kemarau, kami pasti mengambil air di mata air ini untuk dikonsumsi. Memang airnya keruh dan sedikit berbau tidak enak, namun kami terpaksa mengambilnya,” ungkapnya.

Agar air bisa lebih bersih, kata Novita, air tersebut harus disaring terlebih dahulu setelah diendapkan sekitar setengah jam. Air lalu dituangkan ke dalam jerigen ukuran 5 liter, agar bisa dibawa ke rumah.

Fidelis Pare, warga dusun Habijanang mengatakan, hampir setiap hari warga harus berjalan kaki hingga sejauh sekitar satu kilometer menuju mata air untuk bisa mendapatkan air bersih.

Menurut Fidelis, ada tiga mata air di Wair Koro, namun debitnya memang terbatas. Apalagi setelah adanya kebakaran hutan di sekitar mata air yang membuat debitnya menurun drastis.

“Air ini untuk konsumsi warga dusun Wolomapa sebanyak 116 kepala keluarga, dan dusun Habijanang sejumlah 264 kepala keluarga.Warga sangat kesulitan saat kemarau tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu, warga yang kebanyakan kaum perempuan, baik anak-anak hingga ibu rumah tangga, mandi dan mencuci pakain di sekitar mata air dengan beralaskan bebatuan.

Jerigen air ukruan 5 liter pun ditenteng dengan kedua tangan, dan berjalan menyusuri kebun menurun dan mendaki hingga ke perkampungan, setelah selesai mencuci pakaian dan mandi.

Lihat juga...