hut

Warga Wairbleler – Sikka Mengaku Belum Pernah Dapat Bantuan Air dari Pemkab

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Proyek jaringan air bersih Pansimas di Dusun Wolomapa dan Habijanang, Desa Wairbleler, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, pada 2017 kurang memberikan hasil maksimal. Sebab, saat musim kemarau air dari mata air tidak bisa mengalir ke perkampungan.

“Pipa air ini merupakan proyek jaringan air bersih dari Pansimas tahun 2017,” kata Empianus Nong Empi, warga Dusun Habijanang, Desa Wairbleler, Waigete, Sikka, Selasa (22/10/2019).

Nong Empi menyebutkan, jika airnya diambil dari mata air Wair Koro di dekat kampung Hoder, maka debit airnya berkurang saat msuim kemarau, sehingga air tidak mengalir ke Dusun Habijanang dan Wolomapa.

“Harusnya diambil di Hipowair yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari ujung kampung Hoder. Kalau mata air di daerah tersebut debitnya besar, apalagi berada di atas bukit,” ungkapnya.

Anjelinus Ande, warga Dusun Habijanang lainnya, mengaku tidak mengerti dengan adanya proyek air bersih ini yang tidak memebrikan hasil maksimal.

Seharusnya, kata Ande, airnya diambil dari mata air Hipowair agar saat musim kemarau air bisa terus mengalir hingga bisa memenuhi kebutuhan sekitar 380 kepala keluarga di dua dusun ini.

“Saat kunjungan kerja Bupati Sikka pada Juli 2019 ke Desa Wairbleler, warga sudah menyampaikan hal ini. Bupati menjanjikan akan membangun sumur bor di dua dusun ini,” ungkapnya.

Sejak mengalami krisi air bersih, tambah Ande, pihaknya belum mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah kabupaten Sikka.

“Kami baru mendapatkan bantuan dari Keuskupan Maumere saja. Ada sekitar 10 tanki air ukuran 5.000 liter yang dibagikan kepada warga, dan setelah dua minggu dikonsumsi airnya telah habis, sehingga kami mengambil dari mata air Wair Koro lagi,” tuturnya.

Untuk warga yang mampu, kata Ande, mereka membeli air dari mobil tangki ukuran 5.000 liter dengan harga berkisar Rp175 ribu sampai Rp200 ribu, tergantung jarak dan medan jalan yang dilewati.

“Warga tentu sangat berharap adanya perhatian dari pemerintah kabupaten, untuk membangun jaringan air bersih. Kita bicara perangi stunting dan berbagai penyakit lainnya, tapi air bersih tidak ada, maka sia-sia saja,” ujarnya.

Sementara dari pantauan di lokasi, di mata air Wair Koro di Dusun Habijanang yang berjarak sekitar 17 kilometer dari kota Maumere, terdapat tiga bak penampung air yang dipasangi pipa PVC dan pipa besi.

Beberapa warga menaiki bagian atas bak penampung dan membuka penutupnya, untuk mengambil air menggunakan jerigen yang diikat tali.

Air dari bak penampung ini berasal dari mata air yang berjarak sekitar 5 meter dari bak penampung tersebut, yang mengalir sangat kecil, sehingga warga harus menunggu sekitar setengah jam baru mendapatkan beberapa jerigen air.

Lihat juga...