World Zakat Forum 2019, Mewujudkan Kesejahteraan Umat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – World Zakat Forum (WZF) diharapkan menjadi platform untuk merumuskan solusi efektif berbagai masalah dunia Islam terkait zakat untuk mewujudkan kesejahteraan umat.

Dalam upaya mewujudkan hal itu, sebanyak 300 tokoh organisasi pengelola zakat dari 28 negara siap menghadiri konferensi internasional WZF 2019 yang  digelar di Crown Plaza Hotel, Bandung, Jawa Barat pada 5-7 November 2019 mendatang.

Mengusung tema ‘Optimizing Global Zakat Role Through Digital Tegnology’, Sekretaris Jenderal WZF, Bambang Sudibyo, mengatakan, tema WZF 2019 ini diangkat karena kebutuhan pengelolaan zakat yang harus sejalan dengan gaya hidup masyarakat. Yang kini menjadi serba cepat dan mudah dengan fasilitas teknologi digital.

“Tantangannya adalah bagaimana dengan kemajuan teknologi ini bisa lebih meningkatkan percepatan pelayanan bagi para pengelola zakat,” kata Bambang dalam konferensi pers persiapan WZF 2019 di Jakarta, Rabu (30/10/2019) sore.

Selain itu, tambah dia, yakni bagaimana agar meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat berzakat bagi umat muslim sedunia.

Menurutnya, dalam menjawab tantangan zakat di era digital dengan memanfaatkan teknologi, maka para pengelola zakat bisa mempercepat akses terhadap kebutuhan para penerima zakat (mustahik).

Sehingga diharapkan penghimpunan zakat semakin besar, penyaluran zakat semakin tersebar dan kemiskinan di dunia dapat dientaskan.

Dia mengatakan, dunia Islam saat ini menghadapi berbagai masalah dan tantangan, baik secara eksternal maupun internal.

“Stigma dan stereotip buruk yang ditujukan pada apa pun yang berkaitan dengan Islam telah menyebabkan umat muslim menjadi korban diskriminasi dan penindasan,” tukas Bambang.

Dari internal, jelas dia, di antara umat Islam sendiri masih banyak yang kurang peduli terhadap sesama muslim lainnya yang kurang sejahtera.

Selain itu, kemiskinan masih banyak ditemukan di dunia muslim dari barat Afrika di Mauritania hingga timur di Indonesia. Dan dari utara di Kazakhstan hingga selatan di Kepulauan Komoro.

Tingkat kemiskinan yang tinggi di antara negara-negara muslim jelas telah melemahkan posisi dunia muslim. Ditambah lagi dengan keterbelakangan di sektor pendidikan, inferioritas dalam sains dan teknologi, kapasitas supra-struktur dan sumber daya manusia yang kurang.

Sebagai bentuk untuk merespon masalah tersebut, kehadiran zakat harus dilihat sebagai modal strategis bagi dunia muslim untuk membebaskan diri dari ketergantungan jangka panjang dari negara-negara barat.

“Pemanfaatan zakat harus memiliki makna strategis untuk memperkuat ukhuwah, kolaborasi, dan solidaritas di antara bangsa-bangsa muslim untuk mencapai maslahah,” ujarnya.

Untuk merespons situasi ini, maka kata Bambang, gerakan zakat dunia dapat mengambil peran penting untuk berkontribusi, memfasilitasi, mendistribusikan, dan memberikan bantuan bagi mereka yang bernasib buruk. Baik itu secara finansial maupun non-finansial dan secara langsung maupun tidak langsung.

Selain itu, mekanisme zakat juga masih memerlukan perhatian serius untuk mencari solusi tepat. Yakni terkait isu fiqh, manajemen zakat, distribusi zakat antar negara, mekanisme kerja sama dalam praktik zakat terkait dengan masalah diplomatik, dan masalah lainnya.

Lebih lanjut disampaikan, gagasan pendirian WZF muncul sebagai respon terhadap kebutuhan perkembangan gerakan zakat dunia. WZF diinisiasikan pada saat seminar Zakat International, Maret 2007 di Malaysia.

Kemudian pada tahun 2009 saat The International Zakat Executive Development Programme di Malaysia, Indonesia ditunjuk untuk menjadi tuan rumah konferensi WZF pertama. Pada 30 September 2010 di Yogyakarta, Indonesia.

WZF International Conference pertama kalinya diadakan saat lembaga ini diresmikan.

“Awalnya, forum ini hanya dihadiri oleh 9 perwakilan dari lembaga zakat internasional, seperti Indonesia, Malaysia, Qatar, Kuwait, Turki, Inggris, Bahrain, Yordania, Sudan, dan Arab Saudi,” ujar Bambang.

Kini, WZF beranggotakan negara-negara perwakilan dari Bangladesh, Bahrain, Bosnia-Herzegovina, Brunei Darussalam, Egypt, India, Indonesia, Yordania, Kuwait, Malaysia, Morocco, Nigeria, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, Afrika Selatan, Sudan, Uganda, Amerika, Inggris, Turki, Vietnam, Australia, Srilanka, Kazakhstan, Ghana, Maladewa, Senegal, Liberia, Togo, Benin dan Sierra Leon.

“Kemudian menjadi 33 negara setelah Maladewa bergabung menjadi negara anggota WZF,” tutupnya.

Lihat juga...