hut

84 Pebalap TdS 2019 Lintasi Danau Singkarak

Editor: Koko Triarko

SOLOK – Sebanyak 84 pebalap akhirnya bisa melintasi Danau Singkarak yang menjadi ikon utama event sport tourism Tour de Singkarak (TdS) 2019. Sebuah danau yang terletak di dua kabupaten di provinsi Sumatra Barat, yakni kabupaten Solok dan Tanah Datar.

Sejak 2009, pertama kalinya TdS digelar hingga saat ini, nama Danau Singkarak makin terkenal. Sebab, Danau Singkarak menjadi ikonnya. Danau Singkarak lahir dari proses tektonik yang dipengaruhi oleh Sesar Sumatra. Danau ini adalah bagian dari Cekungan Singkarak-Solok yang termasuk di antara segmen Sesar Sumatra.

Soal keindahan panorama Danau Singkarak, jangan ditanya lagi. Setiap pengunjung bakal takjub dengan suguhan kemolekan dari mahakarya yang luar biasa itu. Kuliner dan keramahan warga setempat, juga menjadi salah satu faktor Danau Singkarak banyak dikunjungi para pelancong.

Ikan bilih, spesies khas Danau Singkarak pun tak luput menjadi bagian dari tenarnya Danau Singkarak.

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, menyebutkan jika ikon event paduan olah raga dengan kepariwisataan ini adalah Danau Singkarak.

Bahkan, kata Nasrul Abit, boleh saja provinsi lain menjadi tuan rumah penyelenggaraan, seperti yang dilakukan oleh Provinsi Jambi saat ini. Namun, ikonnya tetap Danau Singkarak. Namanya tetap Tour de Singkarak, dan harus tetap melewati Danau Singkarak.

Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, saat menyaksikan balapan Tour de Singkarak di Solok, Kamis (7/11/2019)/ Foto: M. Noli Hendra

“Jadi benar yang menawarkan diri banyak. Sekarang Jambi ikut serta, makanya tema TdS tahun ini adalah ’Connecting Sumatra’. Bisa saja tahun-tahun mendatang bertambah (jumlah provinsi). Namun, namanya tetap TdS dan harus melewati Danau Singkarak,” katanya, Kamis (7/11/2019).

Menurutnya, event Tour de Singkarak, telah membuat Ranah Minang tidak saja dikenal di tingkat nasional, namun juga mancanegara, karena sudah masuk pada agenda tahunan UCI. Model penyelenggaraan seperti TdS memberikan estafet pemahaman, bagaimana sebuah event tersebut dikelola dengan berorientasi kepada kenyamanan pengunjung sebagai upaya pencitraan sebuah destinasi wisata.

Saat ini, sambung Nasrul Abit, TdS menempati peringkat ke lima jumlah penonton terbanyak. Nasrul berharap di masa yang akan datang, TdS mampu bertengger di urutan ke tiga. Namun untuk mencapai target itu, bukan perkara mudah. Harus ada pembenahan dan pengemasan yang lebih menarik lagi. Termasuk soal infrastruktur penunjang lainnya, seperti jalan dan penginapan.

“Tahun-tahun mendatang, kita targetkan jumlah penonton menempati peringkat ke tiga dunia,” ujar Nasrul Abit.

Cikal Bakal TdS

Merefleksi kembali sejarah lahirnya Tour de Singkarak, tak lepas dari peran serta Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014, Sapta Nirwandar.

Sapta yang pada saat itu melirik potensi besar destinasi wisata Danau Singkarak, kemudian mencanangkan sebuah event bertaraf internasional, yakni ‘Sport Tourism Tour de Singkarak’.

Selain objek wisata Danau Singkarak dapat dikenal lebih luas di kancah dunia, Sapta Nirwandar kala itu juga berharap seluruh potensi objek wisata, mulai dari wisata alam, sejarah hingga kuliner yang ada di Sumatra Barat, dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas, terutama mancanegara.

Menurut Sapta, selain adanya peningkatan dari segi angka kunjungan wisatawan dan taraf perekonomian masyarakat Ranah Minang, tentu saja putaran uang di setiap etape Tour de Singkarak akan meningkat.
Penginapan, transportasi dan kuliner, merupakan beberapa dari sekian banyak peluang yang diyakini mampu meningkatkan pendapatan. Putaran uang di setiap peyelenggaraan TDS meningkat.

Dalam perjalanannya dari tahun ke tahun, Tour De Singkarak tidak hanya sebatas ajang balap sepeda semata. Namun juga sudah menjadi peranan yang cukup penting dalam mengenalkan seluruh potensi yang dimiliki oleh Sumatra Barat.

“Kita juga mempromosikan 15 kabupaten dan kota di Sumbar yang menjadi tuan rumah, mata dunia akan melihat semua daerah itu, termasuk daerah lain yang dilewati,” tandas Nasrul Abit.

Maka, ia berharap 18 kabupaten dan kota mempertahankan TdS. Seperti halnya TdS dari tahun ke tahun juga dianggap mampu membawa dampak positif secara ekonomi.

“Kita ingin kota lain juga begitu. Ada perkembangan hotel, tentu itu yang kita harapkan. Kita harap investor tertarik,” ujarnya.

Di samping itu, Nasrul Abit menegaskan, hal paling diharapkan dari TdS adalah multiefeknya. Intinya, masyarakat tidak melihat pebalap saja, melainkan bisa menjalankan usaha pendukung dari pelaksanaan TdS.

Pada 2017 yang merupakan tahun ke-9 penyelenggaraan Tour De Singkarak, sedikitnya ada tiga provinsi yang mengirimkan utusan ke Sumatra Barat untuk belajar secara langsung tentang penyelenggaraan TDS, yakni Riau, Jambi dan Yogyakarta.

Ke tiga provinsi itu tidak hanya belajar tentang event balap sepeda, namun belajar seperti apa pola Pemerintah Sumatra Barat mengemas promosi kepariwisataan dari sebuah event olah raga balap sepeda.

Baru kemudian, pada tahun ke-11 penyelenggaraannya, Provinsi Jambi memastikan diri untuk ikut serta menjadi tuan rumah.

Terhitung mulai Jumat (8/11/2019) hingga Sabtu (9/11/2019) atau etape VII – VIII, akan mencatatkan sejarah tersendiri bagi TdS. Pertama kalinya TdS menjulurkan jalur ke luar Sumbar. Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, ke duanya berada di Provinsi Jambi, akan menjadi tuan rumah untuk dua etape tersebut.

Etape VII, mengambil rute Air terjun Berasap (Kayu Aro), Gunung Labu, Desa Bento, Pasar Siulak Deras, Semurup Taher, Hiang, dan dermaga Danau Kerinci.

Pada Sabtu (9/11/2019), etape VIII, dengan rute Lapangan Merdeka (Sungai Penuh), Desa Debai, Sungai Ning, Tapan, Bukit Buai, Koto Panai, Kambang, Bukit Pulai, menjadi pilihan lokasi star dan finish yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Jambi beserta Race Director TdS 2019.

Lihat juga...