hut

Aan Abdurrachman, Tukang Pijat Atlet Nasional Sejak 1997

Masseur Aan Abdurrachman berpose sambil memegang ID Card Kontingen Indonesia untuk SEA Games 2019 di Jakarta, Rabu (27/11/2019)- Foto Ant

JAKARTA – Sosok Aan Abdurrachman, salah satu dari sedikit petugas masseur atau biasa dikenal tukang pijat, adalah mereka yang tetap setia membantu memulihkan performa atlet nasional Indonesia di setiap even pertandingan ataupun kompetisi.

Aan telah aktif sejak 1997 silam. Dia sudah melanglang buana ke luar negeri, mengikuti berbagai event olahraga, Bersiaga mendampingi para atlet yang membutuhkan sentuhan tangannya. “Saya sudah jadi tukang pijat sejak SEA Games 1997. Asian Games juga saya ikut,” kata Aan di Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Sejak 1997 menekuni profesi masseur, Aan tak pernah absen di berbagai ajang olahraga multievent seperti SEA Games dan Asian Games.Tidak hanya itu, ia juga menjadi masseur tetap di Pelatnas modern pentathalon, judo dan karate.

Aan juga akan ikut bertolak ke SEA Games 2019 Filipina pada 30 November mendatang. Aan menjadi masseur tertua, sekaligus yang telah mengabdi paling lama di antara yang lainnya. Sebelum menjadi masseur, Aan merupakan supir seorang dokter khusus, untuk Ketua KONI Pusat. Ia mengabdi di sana sejak 1993 hingga 1995.

Kemudian, ia ditawari oleh dokter yang bernama Choim Sumadilaga, untuk mempelajari ilmu pijat di Pusat Kesehatan Olahraga (PKO) Kemenpora. “Iya, Dokter Choim nawarin saya buat belajar massage. Saya kan minat, terus dokternya juga mau sekolahin saya,” ujar pria asal Bandung itu.

Untuk menjadi seorang masseur, tidak bisa sembarang orang. Profesi tersebut dibutuhkan ilmu yang mumpuni, seperti ilmu anatomi tubuh. Selama setahun, tepatnya pada 1995, Aan belajar soal ilmu memijat, termasuk etika dan cara menghadapi atlet. “Saya belajar anatomi tubuh, terus etika dan menghadapi atlet itu harus gimana, supaya hati mereka juga ikut enak gitu saat dipijat,” tuturnya.

Selama menjadi masseur atlet nasional, Aan mengaku tak melulu memijat atlet yang mengalami cedera. Ia justru lebih banyak diminta memijat atlet saat sebelum dan sesudah pertandingan. Hal itu sebagai upaya relaksasi. Ia juga sudah banyak mendampingi atlet yang kini sudah pensiun. “Sudah banyak atlet yang saya pijat. Ada Kresna Bayu (mantan atlet judo), Umar Syarif (mantan atlet karate). Dan mereka sekarang udah menjadi pelatih,” ungkap pria 66 tahun itu.

Aan mengatakan, dia menikmati pekerjaannya saat ini, walaupun selama mengabdi, dia belum pernah mendapatkan penghargaan apapun. “Ya namanya juga masih bisa, ya saya lakukan saja. Banyak juga yang bilang ‘wah Pak Aan hebat’. Yang membuat saya bertahan juga karena kejujuran dan etika,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...