hut

Ahli: Aktivitas Manusia Berpotensi Sebarkan Bahan Radioaktif

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Berbagai kegiatan manusia berpotensi untuk menyebarkan bahan radioaktif, baik yang alami maupun antropogenik ke perairan laut. Sehingga, dibutuhkan pemantauan yang menggunakan radiotracer untuk mempelajari ekologi laut dan yang terkait dengan proses-proses oseanografi yang disebut radioekologi.

Peneliti Ahli Utama Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Dr. Heny Suseno, S.Si., M.Si., menjelaskan radioekologi kelautan dapat berhubungan dengan zat radioaktif di lingkungan perairan laut, yang meliputi aspek sebaran, bioakumulasi dan penilaian risiko terhadap lingkungan perairan.

“Radioekologi berguna untuk memahami perubahan perilaku zat radioaktif di lingkungan dan dampak radiasi yang akan diterima populasi,” kata Heny, saat orasi pengukuhan profesor riset bidang kimia radiasi di Auditorium BATAN Pair Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Dengan radioekologi ini, menurutnya, akan dipelajari perubahan tingkat radioaktivitas di laut terbuka dan di daerah pesisir, perilaku radionuklida dalam lingkungan laut, yaitu dispersi dan bioakumulasi serta pemanfaatan radiotracer untuk mempelajari ekologi perairan laut lepas dan pesisir.

Heny menyebutkan, ada berbagai metodologi yang dapat digunakan dalam proses pemantauan zat radioaktif di lingkungan lautan.

“Pengembangan dilakukan melalui modifikasi teknik kopresipitasi Amonium fosfomolibdat, Tembaga ferro sianat dan Cattrige system. Di sisi lain, metodologi preparasi zat radioaktif Plutonium 239/240 dan Americium 241 serta radionuklida alam, dikembangkan melalui modifikasi kopresipitasi menggunakan Mangan dioksida,” paparnya.

Salah satu contohnya adalah penggunaan perunut radioaktif ekstrinsik, yang mirip dengan senyawa yang akan diamati untuk mendeteksi bioakumulasi di ekosistem lautan.

“Perunut aktif Merkuri 203 (Hg-203) diimplementasikan pada studi bioakumulasi Hg+2, untuk memperoleh data kemampuan bioakumulasi yang masuk dalam perairan laut,” jelas Heny.

Nilai kemampuan bioakumulasi atau Bioacumulation Factor – BF inilah, menurut Heny, yang akan menentukan baku kualitas perairan dan daily intake konsumsi produksi perikanan.

“Atau penggunaan radiotracer Cromium 51 (Cr-51) pada bioakumulasi Cr oleh kerang Anadara inequevalvis dan kerang hijau Perna viridis,” ucap Heny.

Heny menjelaskan, bahwa Indonesia saat ini sudah siap dalam mengaplikasikan studi radioekologi. “Dan fungsinya bukan hanya terkait pada prapembangunan PLTN saja, tapi juga mampu menyentuh monitoring lingkungan, bioakumulasi dan kajian risiko. Termasuk untuk menyusun base line data nasional terkait radioaktivitas di perairan laut,” pungkasnya.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com