Akademisi UB: Pertumbuhan Ekonomi Syariah di Indonesia, Lambat

Editor: Makmun Hidayat

Guru Besar llmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Prof.Dr.M.Pudjiharjo, SE,MS, usai menghadiri simposium nasional filsafat ilmu ekonomi dan bisnis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), Kamis (28/11/2019). -Foto: Agus Nurchaliq

MALANG — Guru Besar llmu Ekonomi Universitas Brawijaya, Prof.Dr.M.Pudjiharjo, SE,MS, mengakatan, meskipun memiliki jumlah mayoritas penduduk muslim paling besar di dunia, pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia terbilang lambat dibandingkan negara Australia maupun negara-negara di eropa.wa

Menurutnya, keberhasilan negara-negara berpenduduk muslim minoritas dalam pengembangan ekonomi syariah, lebih kepada komitmen pemerintah mereka yang cukup besar dalam penerapan ekonomi syariah.

“Contohnya Australia yang sekarang memproklamirkan diri sebagai produsen daging halal karena pemerintahnya mengharapkan daging yang diekspor itu disembelih secara halal. Maka dari itu mereka mendatangkan penyembelih-penyembelih halal dari berbagai negara termasuk Indonesia,”  terangnya usai menghadiri Simposium Nasional Filsafat Ilmu Ekonomi dan Bisnis di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), Kamis (28/11/2019).

Sehingga ketika mereka mengekspor sapi ke negara-negara yang penduduk muslimnya mayoritas, konsumen mereka sudah yakin bahwa daging yang dikonsumsi itu halal.

Menurutnya, komitmen pemerintah Indonesia terkait ekonomi syariah sebenarnya sudah ada hanya saja perlu ditingkatkan lagi. Termasuk juga komitmen dari masyarakat yang seharusnya sudah mempunyai kesadaran berhijrah untuk menghindari perbankan yang menggunakan sistem bunga atau riba.

Artinya mereka sudah tau bahwa dalam menyimpan uang harusnya mencari perbankan yang tidak menggunakan sistem bunga tapi menggunakan sistem bagi hasil yang sesuai dengan syariah. Karena sistem bagi hasil itulah yang sebetulnya dibenarkan di dalam Islam.

“Misalnya kita ingin menggunakan jasa perbankan untuk menyimpan uang. Kalau pakai sistem bunga seperti bank konvensional, seharusnya sudah ditinggalkan karena sistem tersebut termasuk riba. Tetapi kenyataan di Indonesia belum banyak bergeser atau istilahnya belum banyak masyarakat yang berhijrah dari bank konvensional ke bank syariah,” ungkapnya.

Ada kemungkinan bank konvensional itu sudah mengakar di masyarakat karena munculnya bank konvensional sudah ada sejak jaman Belanda sehingga bagi masyarakat sangat mengakar sistem tersebut dan untuk menggeser ke sistem yang syariah perlu waktu.

Mungkin juga pihak pemerintah atau perbankan sendiri harus lebih getol memasyarakatkan bagaimana sistem perbankan syariah itu.

“Sistem perbankan syariah mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat luas karena kurangnya sosialisasi atau sebagainya, sehingga masyarakat belum banyak bergeser kesana. Walaupun sebenarnya setiap tahun itu ada perkembangan atau pertumbuhan perbankan syariah tapi memang masih lambat, tidak secepat di bank syariah di negara lain,” tuturnya.

Jumlah bank syariah sekarang juga sudah terus bertambah yang diawali bank Muamalat tahun 1991, kemudian sekarang bank-bank BUMN seperti BNI syariah, Mandiri syariah, BRI syariah juga mengikuti.

Lihat juga...