hut

Arifin, Pengusaha Tempe Sukses yang Bertahun-Tahun Kerja di Bank

Editor: Mahadeva

BALIKPAPAN – Jalan hidup manusia memang tidak pernah terduga. Seperti Arifin (39), warga Balikpapan, Kalimantan Timur yang berasal dari Lamongan, Jawa Timur.

Pernah punya pekerjaan yang nyaman di sebuah bank, selama bertahun-tahun bekerja di ruangan nyaman ber-AC. Setiap bulan memperoleh pendapatan tetap masih ditambah bonus. Namun di 2015, dipaksa berhenti bekerja oleh rangtua. “Saat itu saya diminta meneruskan usaha orangtua. Membuat tempe,” kata Arifin, Selasa (12/11/2019).

Arifin Pengrajin Tahu Tempe, saat ditemui Cendana News, Selasa (12/11/2019) – Foto Ferry Canyanti

Bukanya tanpa sebab, orangtua memaksanya mengambil alih usaha. Arifin dinilai punya kemampuan untuk mengembangkan usaha, yang sudah diwariskan secara turun temurun tersebut. “Biar begitu, awalnya saya nggak ngerti sama sekali proses produksi, pemilihan bahan dan lainnya. Jadinya, setelah memutuskan keluar, saya bekerja sama orangtua,” tambahnya.

Pengorbanan Arifin tidak sia-sia. Setelah bekerja dari orangtua, ia bisa mempelajari bagaimana cara memilih bahan tempe yang baik, proses produksi yang benar, sampai pengemasan dan distribusi ke pasar-pasar. “Dari situ saya banyak belajar,” imbuhnya.

Hasil memang tak pernah mengkhianati kerja keras, begitu kata pepatah. Arifin akhirnya memetik sukses. Hanya dalam tempo empat tahun akhirnya bisa memproduksi 400 kilogram kedelai menjadi tempe. Di antara pelaku usaha tempe di Balikpapan, Arifin merupakan salah satu pengusaha UMKM dengan produksi paling besar. Karena usahanya terus membesar, saat ini Arifin sudah bisa mempekerjakan sembilan orang. “Waduh kalau omzet, cukup-lah buat kebutuhan sehari-hari dan membiayai teman-teman yang bekerja di sini,” kata Arifin, merendah.

Sebagai gambaran, kedelai mentah satu kilogram bisa diolah dan menghasilkan 1,5 kilogram. Untuk mencetak tempe, dibutuhkan lima sampai 10 kilo kedelai untuk menghasilkan 400 potong tempe. Di Balikpapan harga tempe per-potong dijual Rp2.500 sampai Rp3.000.

Arifin tidak hanya memproduksi tempe. Dia juga memanfaatkan olahan turunan, seperti tempe gembus, keripik tempe dan tahu. Semuanya dipasarkan di pasar tradisional seperti Pandansari, Klandasan sampai Pasar Sepinggan. Dengan perkembangan usaha warisan tersebut, Arifin merasa bersyukur bisa menjalankan amanat orangtua.

Lihat juga...