hut

Bali Miliki Pergub Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber

Editor: Koko Triarko

DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali, kini memiliki Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 47 Tahun 2019, tentang pengelolaan sampah berbasis sumber, yang akan mempercepat upaya perlindungan dan memperbaiki alam lingkungan Bali beserta segala isinya, di bidang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis.

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan jumlah timbulan sampah di Bali sudah mencapai 4,281 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, yang sudah bisa tertangani dengan baik 2,061 ton per hari atau 48 persen.
Dari sampah yang tertangani ini, hanya 4 persen dari 164 ton per hari yang didaur ulang, dan 1,897 ton per hari atau sekitar 44 persen dibuang ke TPA.

Ada pun sampah yang belum tertangani dengan baik mencapai 2,220 ton per hari atau sekitar 52 persen. Sampah yang belum tertangani dengan baik ini ada yang dibakar sebanyak 19 persen, dibuang ke lingkungan 22 persen, serta terbuang ke saluran air 11 persen dari total produksi timbunan sampah yang ada.

“Karena itu, pola lama penanganan sampah, yaitu kumpul-angkut-buang harus kita ubah dengan mulai memilah dan mengolah sampah di sumber. Seyogyanya, siapa yang menghasilkan sampah dialah yang bertanggung jawab untuk mengelola atau mengolah sampah itu sampai selesai. Kalau kita yang menghasilkan sampah, masak orang lain yang disuruh mengurus sampah kita?” ujarnya, saat menggelar press release di rumah jabatan gubernur setempat, Kamis (21/11/2019).

Koster menambahkan, sampah seyogyanya diselesaikan sedekat mungkin dengan sumber sampah, dan seminimal mungkin yang dibawa ke TPA, yaitu hanya residu saja. Apalagi, kondisi TPA di Kabupaten/Kota sebagian besar bermasalah, seperti melebihi kapasitas (overload), kebakaran, pencemaran air tanah, bau, dan sebagainya.

Dikatakan, masyarakat berperan dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Antara lain dengan menggunakan barang dan/atau kemasan yang dapat didaur ulang dan mudah terurai oleh proses alam, dan membatasi timbulan sampah dengan tidak menggunakan plastik sekali pakai.

Selain itu juga dengan menggunakan produk yang menghasilkan sesedikit sampah, memilah sampah, menyetor sampah yang tidak mudah terurai oleh alam ke bank sampah, dan/atau fasilitas pengolahan sampah (FPS), mengolah sampah yang mudah terurai oleh alam dan menyiapkan tempat sampah untuk menampung sampah residu.

“Pengelolaan sampah yang dilakukan di rumah tangga dan kawasan/fasilitas bisa dilakukan secara mandiri atau bekerja sama dengan desa adat dan/atau desa/kelurahan,” kata Gubernur asal Desa Sembiran ini.

Menurutnya, desa adat harus bersinergi dengan desa/kelurahan, melakukan pengelolaan sampah dengan cara melaksanakan pembinaan dan pemberdayaan kepada masyarakat, dalam meningkatkan tanggung jawab terhadap pengelolaan sampah, membangun TPS 3R untuk mengolah sampah yang mudah terurai oleh alam dan mengangkut sampah dari sumbernya ke TPS 3R, FPS/Bank Sampah, dan/atau TPA.

Gubernur mengatakan, desa adat agar berperan aktif dalam pengelolaan sampah yang dapat dilakukan dengan menyusun awig-awig/pararem desa adat, dalam menumbuhkan budaya hidup bersih di wewidangan desa adat, melaksanakan ketentuan awig-awig/pararem desa adat secara konsisten; dan menerapkan sanksi adat terhadap pelanggaran ketentuan awig-awig/pararem desa adat.

“Dalam mewujudkan Bali yang bersih, hijau dan indah, seluruh komponen masyarakat wajib melaksanakan budaya hidup bersih, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan, menempatkan sampah pada tempatnya, menggunakan barang dan/atau kemasan yang meminimalisir sampah, dan/atau mengelola sendiri sampah yang dihasilkan,” ujarnya.

Peraturan Gubernur ini juga mengatur tentang kewajiban produsen untuk melakukan pengurangan sampah, dengan cara menarik kembali sampah dari produk dan kemasan produk untuk didaur ulang, diguna ulang dan dimanfaatkan kembali, dengan menunjuk bank sampah unit, bank sampah sektor, dan/atau bank sampah induk di setiap kabupaten/ kota sebagai Fasilitas Penampungan Sementara.

“Saya mengajak generasi milenial untuk menjadi pelopor dalam mewujudkan budaya hidup bersih. Budaya hidup bersih harus menjadi life style kita, dan saya sungguh gembira karena makin banyak generasi milenial, anak muda dan sekeha teruna-teruni yang aktif melakukan gerakan bersih sampah di berbagai wilayah Bali,” pungkasnya.

Lihat juga...