hut

Bangun TMII, Ide Ibu Tien Soeharto Sangat Visioner

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Pemikiran Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto dalam membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sangat brilian.

Ide dan gagasan cemerlang Ibu Tien Soeharto membangun sebuah miniatur Indonesia sukses membuka mata hati masyarakat Indonesia untuk dapat mencintai budaya bangsa.

Demikian diakui Ketua Dewan Kesenian Tangerang, Manid Tyasawan kepada Cendana News, saat ditemui usai sarasehan literasi budaya Betawi di Museum Indonesia TMII, Jakarta, Sabtu (30/11/2019).

“Ide Ibu Tien Soeharto membangun TMII itu sangat visioner. Beliau membaca perkembangan zaman bahwa sebuah taman yang menampung seluruh adat istiadat dan ikon-ikon kebudayaan dari Sabang sampai Merauke, ini ya TMII,” kata Manid.

Bagi Manid, Ibu Tien Soeharto  bukan hanya Ibu Negara tapi terlebih beliau sebagai ibu dalam pengertian yang bisa melindungi dan mengayomi. Bukan saja mengayomi keluarganya tapi juga masyarakat Indonesia.

“Nah, sosok seperti itu yang sebenarnya kita harapkan. Sosok seorang Ibu yang menjadi pendamping setia suami, tapi di sisi lain juga Beliau mengayomi keluarga dan rakyatnya. Bagi saya, Ibu Tien Soeharto, sosok yang belum tergantikan sebagai Ibu dalam pengertian yang sebenarnya,” ungkapnya.

Manid mengaku pernah bertemu Ibu Tien Soeharto, di saat dirinya menerima beasiswa Supersemar. Pertemuan itu berlangsung di gedung Sasono Langen Budoyo TMII.

“Saya sempat bertemu Beliau ketika waktu itu saya menerima supersemar, diundang ke TMII. Beliau suaranya lembut sekali dan ramah. Ketika dekat dan bahkan melihat jauh pun kok ya Ibu Tien Soeharto ini ngangenin ya sebagai sosok Ibu,” ujar Manid terlihat matanya berbinar.

Menurutnya, Ibu Tien Soeharto dengan ide cemerlangnya telah membangun museum budaya Indonesia. “TMII sangat diperlukan sebagai laboratorium budaya bangsa. Tapi juga beserta taman yang besar yang mengasyikkan dan menggembirakan. Inilah konsep besar dari seorang Ibu Tien Soeharto,” ucapnya.

Menurutnya, TMII merupakan ikon Indonesia yang perlu dipertahankan. Dia berharap TMII bukan hanya penyimpanan lambang-lambang dari budaya seluruh nusantara. Tetapi juga harus dinamis menyikapi zaman dan membaca zaman.

Apalagi sekarang ini adalah zaman milenial, maka bagaimana TMII supaya tetap menjadi daya tarik pengunjung.

Sebagai mantan pengurus Dewan Kesenian Jakarta, Manid menyarankan agar venue-venue TMII dan termasuk acara di dalamnya harus dirancang sedemikian rupa.

Sehingga buat anak milenial, menurutnya, harus ada sarana buat mobile selfie. Itulah yang harus diakomodasi perkembangan-perkembangan zaman agar TMII menjadi disukai oleh semua generasi.

“Karena zaman saya masih muda, ketika TMII baru dibangun, wah sesuatu yang luar biasa taman yang bisa memberikan kita bukan cuma pencerahan menyenangkan dan gembira tetapi juga memberikan pengetahuan,” ujar Manid.

Sehingga dirinya mengaku mengenal yang namanya istilah budaya. Walaupun mungkin kata dia, secara singkat dari Sabang sampai Merauke.

“Nah ini yang harus dijaga. Bagi saya, TMII harus tetap eksis dan dipertahankan,” tukasnya.

Tetapi dari sisi lain, dia berharap harus ada inovasi yang dirancang sedemikian rupa untuk wahana, termasuk program hiburan dan lainnya.

“Itu harus ditingkatkan untuk bisa membaca zaman, sehingga TMII akan langgeng dinikmati oleh seluruh anak bangsa,” tutupnya.

Lihat juga...