Belajar Menjadi Dalang Cilik di TMII

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Tangan mungil Rangin Puntadewa Wijayakusumah sangat lincah memainkan wayang prajurit dari Niwatakawaca.

Dengan didampingi Margono, pelatih dalang. Rangin sangat antusias mengikuti arahan-arahan dari Margono untuk menggerakkan wayang tersebut. Sesekali tangan Rangin memutar wayang prajurit Niwatakawaca itu hingga ke atas.

Niwatakawaca adalah nama seorang tokoh raja negeri Imaimantaka yang terletak di selatan wilayah Atas Angin. Penduduk di negeri ini adalah bangsa kasat mata sejenis gardarwa.

Margono sedang mengajari Rangin Puntadewa Wijayakusumah memainkan wayang prajurit dari Niwatakawaca saat berlatih dalang di Graha Widya Tama Istana Anak-Anak Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (IAAI TMII), Jakarta, Minggu (24/11/2019). Foto: Sri Sugiarti

Prabu Niwatakawaca berwatak temperamental, mudah marah dan gampang tersinggung. Dia memiliki cita-cita mempersatukan seluruh dunia wayang, dengan menggunakan upaya-upaya penaklukan, ancaman dan kekerasan.

Rangin, salah satu peserta dalang cilik yang belajar dalang di Graha Widya Tama Istana Anak-Anak Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (IAAI TMII).

Pelatihan dalang ini berada di bawah naungan Diklat Pewayangan dan Karawitan IAAI TMII.

Kirana, ibunda dari Rangin mengatakan,  anaknya baru dua bulan berlatih dalang di IAAI TMII ini. Sebelumnya, Rangin berlatih dalang dengan mendatangkan guru ke rumah.

Namun karena Rangin yang merupakan siswa TK B Quantum Inti Indonesia ini ingin berlatih dengan diiringi gamelan. Kirana pun mendaftarkan anaknya berlatih di sanggar Nirmala Sari di Cinere.

“Setahun di sana,  mungkin latihan kurang cocok. Kita dengar di sini ada, ya pindah ke sini. Alhamdulillah Rangin senang banget dan nggak mau bolos berlatih dalang,” kata Kirana kepada Cendana News.

Menurutnya, Rangin sangat antusias untuk berlatih dalang, terbukti sebelum mendatangkan guru ke rumah, dia kerap berlatih memainkan wayang sendiri.

“Keluarga kami memang penikmat seni. Rangin suka dengan budaya wayang, ya kita dukung,” ujarnya.

Margono, pelatih dalang mengatakan, dalam berlatih dalang, intinya pertama anak-anak itu dilatih untuk mencintai seni budaya warisan leluhur ini.

Adapun teknik pelatihan, pertama sebut dia, adalah pengenalan sejarah wayang. “Edukasi sejarah wayang itu sangat penting agar mereka cinta budaya,” kata Margono kepada Cendana News ditemui usai melatih di Graha Widya IAAI TMII, Jakarta, Minggu (24/11/2019).

Setelah mereka mengetahui akan sejarahnya, baru kedua dengan memberitahukan karakter dari setiap tokoh wayang tersebut.

“Kita kasih tahu bahwa karakter wayang itu tidak berbeda dengan manusia. Karena wayang itu identik dengan manusia, sifat baik buruknya. Contohnya, kalau raksasa itu kan sifatnya serakah. Kalau Gatot Kaca dan Arjuna itu bersifat baik,” jelas Margono.

Ketiga yaitu melatih cara memegang wayang dan memainkannya. Tekniknya tidak boleh salah harus benar-benar dipahami. Begitu juga dalam penempatan wayang saat memainkan. Yakni untuk tokoh wayang yang jahat ditempatkan di sebelah kiri, sedangkan tokoh baik di sebelah kanan.

“Sifat jelek itu raksasa, makanya saat tampil pentas diletakkan di kiri, karena dia tokoh jahat. Kalau tokoh baik, itu diletakkan di kanan, seperti Arjuna dan Gatot Kaca,” ujarnya.

Margono menjelaskan, antara karawitan dan pedalangan itu saling berkait. Maka dalam pelatihan dalang ini juga dipadukan dengan latihan karawitan.

Margono sedang mengajari notasi musik karawitan pada saat pelatihan dalang dan karawitan di Graha Widya Tama Istana Anak-Anak Indonesia Taman Mini Indonesia Indah (IAAI TMII), Jakarta, Minggu (24/11/2019). Foto: Sri Sugiarti

Dimana sebagian anak-anak yang berlatih di diklat ini adalah belajar karawitan dengan gamelan lengkap khas Jawa. Diantaranya Bonang, Demung, Gendang dan lainnya.

Teori yang diajarkan dalam karawitan adalah pertama kemampuan memukul gamelan. Lalu diajari teknik membaca notasi musik karawitan.

“Jadi mereka latihan karawitan untuk ngiringin wayang juga. Karena antara pedalangan dan karawitan saling berkait,” tukas pria kelahiran 67 tahun lalu ini.

Pelatihan dalang cilik ini diadakan setiap hari Minggu pukul 11.00-13.00 WIB di Graha Widya IAAI TMII, yang gedungnya berbentuk kastil.

Semua pengunjung IAAI, dapat menyaksikan aksi mereka berlatih dalang dan karawitan. “Latihan tiap hari Minggu pukul 11.00-13.00 WIB, tapi kadang molor sampai pukul 14.00 WIB,” ujarnya.

Margono berharap kesenian wayang ini tidak punah tetap dilestarikan. Dia juga berharap dengan pelatihan ini, ada regenerasi dalang dalam upaya pelestarian budaya warisan leluhur ini.

“Terpenting dengan latihan dalang ini, anak-anak mencintai budaya sendiri, itu tidak salah atau tidak keliru,” tukasnya.

Pelatihan dalang cilik ini dipersiapkan untuk menghibur masyarakat dengan cara mengembangkan daya kreativitas anak-anak. Mereka akan menghibur pengunjung TMII dengan cerita-cerita pewayangan yang disesuaikan dengan usia anak-anak.

“Kalau ada acara, mereka dipentaskan untuk menghibur, seperti HUT TMII. Cerita disesuaikan dengan cerita wayang anak-anak yang mudah dimengerti mereka,” ujar Margono.

Selain tampil menghibur pengunjung TMII, para dalang cilik besutan Diklat Pewayangan dan Karawitan IAAI TMII ini kerap mengikuti lomba dalang bocah. Seperti Festival Dalang Cilik Tingkat Nasional yang digelar PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia).

“Ada Arjun, Dias dan Pandu yang ikut lomba dalang tingkat nasional PEPADI. Tahun lalu dan tahun ini, lomba digelar di Candi Bentar TMII. Mereka mewakili Provinsi DKI, menjadi kebanggaan kami,” pungkasnya.

Lihat juga...