hut

Bisnis ‘Bean Bag’ Mulai Marak di Bali

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

DENPASAR – Di Bali saat ini tengah tren usaha  bean bag atau tempat duduk yang bentuknya menyerupai bantal atau karung besar. Biasanya bean bag ini sering dijumpai di hotel, restoran maupun kafe yang mengedepankan konsep fancy.

Tak ayal, di Bali khususnya Denpasar, sudah mulai bermunculan sentra produksi membuat tempat duduk tanpa rangka yang identik dengan warna-warni ini.

Muhammad Wawan, salah satunya. Pengusaha bean bag ini membuat bean bag  dengan bahan-bahan yang terdiri dari busa styrofoam dan berbagai macam jenis kain seperti jacquard, kanvas, dan artificial leather. Kain tersebut tergantung jenis bean bag yang ingin dibuat, baik out door maupun in door.

Muhammad Wawan, pembuat bean bag di Denpasar Bali di depan mesin jahit miliknya. Dengan menggunakan mesin jahit biasa dirinya mampu membuat puluhan unit bean bag setiap bulannya, Selasa (19/11/2019) -Foto: Sultan Anshori.

Bean bag  memang juga dikenal sebagai sejenis sofa tanpa rangka yang bisa diduduki secara fleksibel, mengikuti lekuk tubuh penggunanya. Bentuknya mirip kantong besar berisi butiran styrofoam.

Wawan menambahkan, biasanya, untuk kain parasut jenis taslan, digunakan untuk bean bag luar ruangan (out door). Sebab, bahan ini gampang dibersihkan kalau kotor, cukup dilap.

Sementara untuk kain kanvas kebanyakan digunakan untuk bahan dasar pembuatan bean bag dalam ruangan (in door). Kain ini dipilih karena kuat saat digunakan oleh sang empunya.

“Untuk bisa membuat bean bag pertama-tama membuat pola lalu potong lembaran kain serta dijahit. Setelah terbentuk bean bag, kemudian diisi oleh busa styrofoam yang sudah disediakan. Akan tetapi, styrofoam tersebut harus dijahit dengan pola yang menyerupai kain luarnya,” ujarnya, saat ditemui di rumah sekaligus sentra produksi bean bag, Selasa (19/11/2019).

Menurut Wawan, bahan kain tersebut kebanyakan diimpor dari luar negeri seperti China. Dipilihnya produk luar karena alasan lebih murah jika dibandingkan menggunakan produk lokal. Tak tanggung-tanggung, harganya bisa dua kali lipat dari harga produk luar negeri.

Dengan menggunakan mesin jahit biasa, dirinya mampu membuat puluhan unit bean bag setiap bulannya.

Wawan sapaan akrabnya ini, menambahkan, saat ini dirinya tengah menangani pesanan dari beberapa hotel, kafe, serta tempat usaha. Dimana mereka memesan sesuai bentuk serta ukuran, namun tetap identik dengan ciri khas warna-warni.

“Untuk harganya sendiri bervariasi, Mas. Mulai dari harga 200-800 ribu rupiah. Tergantung dari ukuran serta bentuknya,” tegasnya.

Bean bag ini awal mula masuk ke Bali sekitar tahun 2005. Pertama kali dikenalkan oleh tamu asal Eropa yang datang berlibur ke Bali. Tak hanya menjadi pelengkap furnitur di tempat-tempat pariwisata, bean bag ini juga mulai diminati oleh kalangan rumah tangga maupun perkantoran.

Wawan mengaku, dirinya juga menerima pesanan dari kantor serta untuk kebutuhan furnitur rumah pribadi. Selain itu, dia juga merambah media sosial untuk memasarkan produk ini.

“Kami sudah ada langganan di beberapa kota di Indonesia. Seperti Jakarta, Surabaya, dan Labuan Bajo NTT,” tandasnya.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com