hut

Bupati Tanjung Jabung Barat: Ide Ibu Tien Soeharto Bangun TMII Sangat Mulia

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Bupati Tanjung Jabung Barat, Safrial MS, mengaku sangat bangga dengan sosok Presiden kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto dan Ibu Tien Soeharto, yang telah berjasa dalam pelestarian budaya bangsa hingga dibangunnya Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Menurutnya, TMII merupakan wahana edukasi khazanah budaya dan pemersatu seluruh komponen bangsa dalam bingkai bhineka tunggal ika.

“Ketika menyebut Ibu Tien Soeharto dan Pak Harto, saya menangis. Karena memang kalau tidak ada Beliau  dengan ide cemerlangnya, tidak ada TMII ini,” kata Safrial, kepada Cendana News, ditemui usai acara Parade Pencak Silat Nusantara I di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Minggu (3/11/2019).

Ibu Tien Soeharto dengan gagasan dan pikirannya membangun TMII ini sangat jauh ke depan, dalam upaya pengembangan dan pelestarian budaya bangsa. Semua pemikiran beliau dituangkan semata untuk generasi muda agar lebih mencintai budaya Indonesia.

Bupati Tanjung Jabung Barat, Safrial MS (batik coklat) ditemui usai acara Parade Pencak Silat Nusantara I di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Minggu (3/11/2019). -Foto: Sri Sugiarti

“Makanya, saya katakan, kita generasi muda janganlah mencari kesalahan-kesalahan orang lain. Kita lebih baik mengenang yang baik-baik saja. Karena setiap insan pasti punya kesalahan. Dan, ide Ibu Tien Soeharto dan Pak Harto bangun TMII sebagai wujud pelestarian budaya itu sangat mulia. Jangan dilupakan,” tukasnya.

TMII selalu berupaya melestarikan seni budaya dari seluruh provinsi di Indonesia, dengan inovasi berbagai event. Seperti Parade Pencak Silat Nusantara TMII, yang pertama kali digelar pada Minggu (3/11/2019) ini sebagai upaya pelestarian budaya tradisi.

Pada gelaran ini, Kabupaten Tanjung Jabung Barat mewakili Provinsi Jambi dengan tema Kesenian Silat Al-Wafi.

“Kami tampil di parade pencak silat nusantara ini sebagai bukti melestarikan budaya warisan leluhur daerah kami,” ujar Safrial.

Maka itu, dia mengaku di ajang ini pihaknya tidak mengejar target juara. Yang terpenting adalah bisa melestarikan kebudayaan daerah yang hingga kini masih dipertahankan.

“Budaya itu berlatar belakang dari perjuangan kita melawan Belanda. Di daerah kami, ada kisah Panglima Supi dan Panglima Bujal berperang melawan penjajah Belanda,” ujarnya.

Seperti dalam tema Kesenian Silat Al-Wafi yang ditampilkan pada parade pencak silat nusantara ini, jelas dia, yakni sebuah kisah yang bermula pada sekitar 1500, bermukim seorang suku Melayu Jambi yang merintis sebuah daerah bernama Lubuk Bedaro, yang sekarang dikenal dengan Desa Pulau Pauh.

Di sana lahirlah pejuang kakak beradik bernama panglima supi dan bujal. Keseharian mereka sebagai petani dan berkebun di pulau Bungo.

Beranjak dewasa, Panglima Supi dan Bujal berperang melawan Belanda di perbatasan Jambi dan Palembang. “Panglima Supi bertugas menjaga wilayah Tanjung Jabung hingga Kerinci, dan menjadi penggerak masyarakat sekitar,” ujar Safrial.

Kisah heroiknya adalah pernah melawan tujuh kapal pejajah Belanda di sungai Sentang dengan menggunakan senjata keris yang dibulang.

“Bulang adalah pengikat keris ke tangan, agar tidak lepas saat bertarung. Panglima Bujal berhasil mengalahkan enam kapal pasukan Belanda,” ujarnya.

Sedangkan kapal ke tujuh, Panglima Bujal sudah kelelahan. Dia pun menghembuskan napas terakhir di tangan penjajah Belanda, dan dimakamkan di Bayung Lincir.

Setelah merdeka, masyarakat pulau Bungo meneruskan kehidupan dengan berkebun dan bertani, sebagaimana yang dilakoni Panglima Supi dan Bujal. Yakni dengan cara berselang, nugal dan mbeneh.

“Kisah ini dituangkan dalam perpaduan seni silat pangean dan kuntau yang menjadi kekhasan dkesenian seni Al-Wafi,” jelasnya.

Di Tanjung Jabung Barat, menurutnya, setiap Agustus selalu menampilkan pencak silat tradisional dalam pawai peringatan HUT RI. Karena pawai ini merupakan upaya pelestarian budaya bangsa.

“Kalau untuk tampil parade seperti ini, bela diri pencak silat bisa ditonton orang lain. Ini upaya pelestarian budaya tradisi yang harus dipromosikan kepada masyarakat Indonesia,” katanya.

Dia berharap, kompetisi ini dapat menginspirasi generasi muda untuk lebih mencintai budaya bangsa.

Lihat juga...