hut

Dinpertan Purbalingga Terus Giatkan GPOT

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

PURBALINGGA – Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga terus berupaya untuk meningkatkan Gerakan Percepatan Olah Tanah (GPOT). Saat ini baru ada 400 hektare lahan dan ditargetkan bisa mencapai 800 hektare dalam bulan ini.

Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Mukodam, Senin (4/11/2019) mengatakan, baru tiga kecamatan yang sudah melakukan GPOT. FOTO : Hermiana E.Effendi

Kepala Dinpertan Kabupaten Purbalingga, Mukodam mengatakan, baru tiga kecamatan yang sudah melakukan GPOT, yaitu di Padamara seluas 100 hektare, Kaligondang seluas 100 hektare dan Rembang 200 hektare.

“Baru tercapai 400 hektare untuk GPOT, karena kita harus mengedukasi petani supaya mau melakukan percepatan mengolah lahan, sehingga lahan pertanian tetap produktif,” jelas Mukodam, Senin (4/11/2019).

Lebih lanjut dijelaskan, GPOT merupakan upaya untuk mendorong petani supaya cepat mengolah tanah pasca panen. Dalam kondisi minim maupun masih tersedia air, sebaiknya lahan pertanian segera diolah, supaya tetap produktif.

Terlebih lagi, program GPOT ini mendapatkan dukungan dan Kementerian Pertanian RI dengan diberikan bantuan. Dimana untuk setiap 100 hektare lahan yang dijadikan area GPOT, dari Kementrian Pertanian memberikan bantuan sebulan Rp20.000.000. Dana ini dipakai untuk membantu pengairan, seperti saluran pengairan, bahan bakar (BBM) mesin penyedot air, operasional kantor maupun tenaga operator.

“Ada subsidi bantuan dari Kementrian Pertanian untuk lahan GPOT, diharapkan petani lebih terpacu untuk segera mengolah lahan dengan adanya bantuan tersebut,” terangnya.

Namun, lanjut Mukodam, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk melakukan GPOT. Pertama lokasi harus jelas dan luasannya minimal 100 hektare. Kemudian ada sumber air yang dekat, baik dari pompanisasi maupun dari saluran irigasi terdekat.

“Jika memenuhi syarat tersebut, petani bisa mengajukan untuk lahan GPOT, kemudian petugas akan melakukan survei, untuk memastikan apakah secara teknis memenuhi syarat atau tidak. Jika memenuhi, maka selanjutnya akan kita ajukan untuk mendapatkan bantuan GPOT,” kata Mukodam.

Selain GPOT skala besar, Dinpertan Purbalingga juga terus berupaya melakukan GPOT non formal yang dilakukan pada lahan-lahan skala kecil, tetapi yang masih mempunyai ketersediaan air.

“Intinya kita menghendaki luasan GPOT bertambah, sebab jika mengolah tanahnya mundur, maka otomatis musim tanam juga mundur. Hal ini akan berdampak pada produksi pertanian juga menurun,” pungkasnya.

Lihat juga...