hut

DLH Sumbar Ajak Masyarakat Kelola Sampah Berbasis Daerah Perbatasan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan amat penting mengoptimalkan pengelolaan sampah di wilayah perbatasan kabupaten dan kota. Upaya ini perlu dilakukan, agar penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah berkurang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat, Siti Aisyah, mengatakan, hal itu dalam rangka mewujudkan kebijakan nasional pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga, dengan target pengurangan sampah dari sumbernya sekitar 70 persen. Dengan demikian, hanya 30 persen sampah yang akan ditangani TPA hingga 2025.

Ia menyebutkan, sebagai tindaklanjut kebijakan tersebut, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI menggelar Gerakan Nasional Pilah Sampah Dari Rumah, sebagai upaya untuk mengajak keterlibatan masyarakat dalam memahami potensi sampah dengan tujuan untuk mengubah pola pikir, gaya hidup, dan budaya di masyarakat agar mereka bisa mengelola sampah lebih baik lagi.

“Jadi kali ini kita melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Materi sosialisasi pengelolaan sampah di Nagari Kasang, Padang Pariaman ini melibatkan sejumlah pihak,” katanya, Kamis (7/11/2019).

Siti Aisyah menyebutkan pentingnya bagi masyarakat untuk mengetahui dan melakukan pengelolahan sampah, karena manfaatnya tidak hanya soal ekonomi, tapi telah menciptakan lingkungan bersih dan nyaman.

Untuk itu, DLH menginginkan masyarakat benar-benar memiliki keinginan dan berkomitmen untuk melakukan pengelolahan sampah.

“Kalau lingkungan kotor, penyakit akan sangat rentan terjadi. Sekarang kita bantu mereka dengan cara memberikan komposter. Ada sebanyak 50 unit komposter yang kita bagikan itu, dengan harapan benar-benar dimanfaatkan dengan baik,” ucapnya.

Sementara itu, materi yang disampaikan dalam sosialisasi itu, yakni  datang dari Syafrizal, sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat, yang menyampaikan materi tentang Pemanfaatan Dana Desa Dalam Pengelolaan Sampah Melalui Badan Usaha Milik Desa/Nagari.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat, Syafrizal (tengah), mendampingi pihak Dinas Lingkungan Hidup menyerahkan bantuan komposter kepada masyarakat di Kasang, Kamis (7/11/2019) /Foto: M. Noli Hendra

Narasumber kedua, Kabid Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman, Ibu Afni Susanti, yang menyampaikan materi terkait dengan Pengelolaan Sampah Kabupaten Padang Pariaman.

Narasumber terakhir, yang merupakan Ketua DPW Asosiasi Bank Sampah Indonesia (Asobsi) Sumatera Barat, Syaifuddin Islami, yang menyampaikan materi Pengelolaan Sampah Perbatasan Kabupaten dan Kota dengan Metode Bank Sampah.

Syafrizal yang akrab disapa dengan Pak Ucok menyampaikan, sudah saatnya dana desa atau nagari tidak lagi hanya dimanfaatkan untuk pembangunan infratruktur.

Sudah saatnya dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk pengelolaan lingkungan dan pengembangan ekonomi masyarakat seperti untuk pendirian BumNag yang salah satu usahanya adalah mengelola Bank Sampah.

“Dana desa yang dikelola itu cukup besar. Kalau selama ini memang untuk pembangunan saja. Nah saya rasa penting juga bagi pemerintah desa itu mencoba melakukan pengelolaan sampah. Karena turut memberikan suasana indah dan bersih, bila semua masyarakat sadar soal lingkungan,” sebutnya.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Syafruddin Islami menyampaikan, masyarakat jangan sampai membuang sampah sembarangan. Hal ini dikarenakan hakikatnya membuang sampah hanya memindahkan sampah yang artinya hanya memindahkan masalah. Untuk menyelesaikan masalah mestilah diawali dengan memilah sampah.

Selanjutnya diikuti dengan pengolahan,  sampah organik diolah menjadi kompos. Juga sampah yang masih bisa dimanfaatkan seperti sampah plastik/kertas dan sampah lainnya.

Melalui sentuhan inovasi diolah menjadi produk yang bermanfaat kembali. Akhirnya sampah yang tidak bernilai bahkan banyak menimbulkan masalah dapat disulap menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis kembali.

“Diperlukan komitmen bersama untuk mendirikan Bank Sampah sebagai langkah untuk menyulap sampah menjadi rupiah bahkan menjadi emas,” tegasnya.

Menurutnya, modal utama pendirian Bank Sampah adalah komitmen yang kuat dari pengurus untuk melakukan/mengajak masyarakat memilah sampah mulai dari rumah tangga, sedangkan modal lain hanyalah timbangan untuk menimbang sampah.

Melalui Bank Sampah, selain menyelesaikan masalah sampah/lingkungan, dapat pula mengatasi masalah sosial ekonomi seperti pengangguran. Pemuda yang biasanya menganggur bahkan menimbulkan masalah sosial, dapat diberdayakan sehingga produktif dan memiliki penghasilan.

Lihat juga...