hut

Dua Bocah di Sikka Lumpuh Diduga Karena Kurang Gizi

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Masih banyak masyarakat kabupaten Sikka yang hidup dalam kemiskinan dan memerlukan bantuan dari berbagai pihak, khususnya pemerintah daerah.

Kondisi ini dialami Alfaris Yosin (12) yang biasa disapa Aris dan Rivaldus Rival (10), yang disapa Rival. Dua bocah kakak beradik ini sudah bertahun-tahun hanya terbaring lemas di atas tempat tidur, akibat sakit yang diderita keduanya.

“Aris dan Rival adalah anak dari kakak kandung saya, Aloysius Stefanus dan Hendrika Koja,” sebut Elisabet Ensi, warga RT 06, RW 04, kampung Namangjawa, desa Namangkewa, kecamatan Kewapante, kabupaten Sikka, NTT, Sabtu  (2/11/2019).

Saat Aloysius ditinggal pergi sang istri, kata Elisabet, dirinya memilih untuk mengambil kedua anaknya dan merawatnya di rumahnya.

Dirinya pun memiliki tiga orang anak dengan seorang suami yang berprofesi sebagai penjual ikan. Dengan penghasilan seadanya dari penjualan ikan keliling, kaduanya tidak bisa memberikan asupan gizi yang cukup kepada kedua anak tersebut.

Hal ini membuat Aris maupun Rival pun bertubuh sangat kurus dan mengalami gizi buruk. Tubuh keduanya pun kian lemas dan bertambah kurus dari hari ke hari.

“Dengan penghasilan suami saya pas-pasan, kami harus mengurusi kebutuhan 5 orang anak, sementara anak saya sudah duduk di bangku SMA dan SMP. Ini yang membuat saya tidak bisa memberikan makanan yang baik bagi anak-anak,” ujarnya.

Kedua anak ini, sebut Elisabet, sejak kecil tidak mendapatkan asupan makanan yang baik, saat kedua orang tuanya mengalami masalah rumah tangga. Ini membuat keduanya tidak terurus.

Saat diambil olehnya, kondisi fisik kedua anak ini pun sudah sangat mengenaskan seperti penderita busung lapar dan sangat kurus. Kalau ada uang, dirinya membeli ikan atau telur dan susu untuk mereka berdua.

Margaretha Dua, warga lainnya mengaku kondisi kedua anak tersebut sangat mengenaskan, karena tinggal bersama tantenya yang juga memiliki anak yang perlu dibiayai.

Sementara kondisi keluarga tersebut, kata Margaretha, penghasilannya terbatas atau boleh dikatakan miskin. Ini yang membuat keduanya tidak bisa memberi makanan bergizi bagi anak-anak mereka.

“Lebih baik keduanya dititipkan di panti atau biara susteran saja, biar bisa diberi makanan yang bergizi dan mendapatkan pelayanan kesehatan. Kalau tetap di rumah tantenya, tentunya kondisi tubuhnya makin kurus akibat kurang gizi,” harapnya.

Lihat juga...