hut

Dua Sekolah di Sikka Terlibat Tawuran, Berdamai

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Dua sekolah yang saling berdekatan di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yakni SMAN1 Talibura dan SMKN Talibura yang terlibat tawuran pada Rabu (6/11) akhirnya menandatangani surat pernyataan damai.

Sebelum ditandatangani surat pernyataan damai, siswa dari dua sekolah ini melakukan apel bendera bersama di halaman sekolah SMAN 1 Talibura di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. yang dimpimpin oleh Kapolsek Waigete.

“Saya mengimbau agar para siswa tidak boleh melakukan tawuran seperti yang telah terjadi, dan kejadian tersebut adalah pertama dan terakhir kali,” tegas Kapolsek Waigete, Ipda Razes P. Manurung, S.Tr.K, Senin (11/11/2019).

Ramzes berpesan, agar bila ada persoalan antara siswa SMA dan SMK, para guru cepat mengambil langkah penyelesaian, agar mencegah terjadinya tawuran seperti yang telah terjadi.

“Dalam poin perjanjian, para siswa berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan atau tawuran seperti yang terjadi pada hari Rabu 6 November 2019 lalu,” ungkapnya.

Mantan Ketua DPRD Sikka yang juga pendiri MKN Talibura, Rafael Raga, SP., Senin (11/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Selain itu, tambah Ramzes, para guru berjanji atau bersepakat agar kerusakan kaca sekolah akibat lemparan batu dan benda lainnya saat tawuran, ditanggung oleh masing-masing sekolah.

Sementara itu, Nurdin, warga Desa Nangahale berharap agar kejadian tawuran antarsiswa dua sekolah tersebut yang letaknya bersebelahan tidak perlu terjadi lagi.

“Kami mengapresiasi langkah kepolisian dalam mencegah, agar tawuran tidak meluas sehingga tidak mengganggu ketertiban masyarakat, dan membuat warga sekitar sekolah ketakutan,” sebutnya.

Nurdin juga berharap, agar pihak sekolah dapat memberi sanksi tegas, agar para siswa yang terlibat tawuran takut melakukan hal serupa di kemudian hari.

Mantan Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, juga berharap agar pihak sekolah dan orang tua murid bisa memberikan pelajaran kepada para siswa, agar tidak melakukan tawuran yang membuat resah masyarakat.

“Kedua sekolah ini letaknya sangat berdekatan, sehingga harus ada langkah tegas, agar kejadian ini tidak terulang lagi. Tadi sudah ditandatangani perjanjian bersama, sehingga pasti akan mengikat kedua belah pihak,” sebutnya.

Rafael yang mendirikan sekolah ini, juga meminta agar pihak sekolah bisa mengundang pihak kepolisian, pemerintah maupun tokoh agama, agar bisa memberikan pembinaan rohani dan membentuk mental siswa.

“Bagus juga kalau setiap hari Senin saat apel bendera, pembina upacaranya dari polisi, tentara, pemerintah atau tokoh agama dan masyarakat, agar bisa memberikan pesan-pesan kepada para guru dan siswa,” harapnya.

Lihat juga...