hut

Dunia Pertanian Harus Modern untuk Menarik Kalangan Milenial

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PURBALINGGA – Saat ini mencari tenaga pertanian untuk bekerja di lapangan sangat sulit, terlebih bagi tenaga-tenaga muda. Karenanya pertanian harus mulai berubah menjadi modern dan kaya akan inovasi untuk menarik kalangan milenial.

Kondisi tersebut disadari oleh Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam. Sehingga berbagai upaya untuk menarik anak-anak muda terjun di pertanian sudah mulai dilakukan di Purbalingga.

Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Kabupaten Purbalingga, Mukodam, saat dijumpai, Senin (18/11/2019), mengajak generasi muda untuk terjun menjadi petani modern. Foto: Hermiana E. Effendi
.

“Kita terus memberikan support untuk menarik minat generasi milenial terhadap dunia pertanian. Mulai dari pengenalan pertanian organik, hidroponik, mekanisasi pertanian dari mengolah tanah sampai panen, bahkan sampai dengan pengolahan pascapanen,” terang Mukodam, Senin (18/11/2019).

Menurutnya, ketidaktertarikan anak-anak muda bisa jadi karena mereka belum mengetahui perkembangan dunia pertanian yang sudah sedemikian pesatnya.

Pertanian modern lebih mudah dalam pengolahan, alat mesin pertanian juga semakin canggih dan hasil pertanian organik bernilai ekonomis tinggi. Informasi perkembangan dunia pertanian dipandang perlu untuk disampaikan kepada generasi milenial.

“Alhamdulilah pada beberapa desa di Kabupaten Purbalingga, sekarang sudah ada kelompok pemuda tani. Artinya ketertarikan sudah mulai ada, tinggal bagaimana kita support kegiatan serta informasi yang dibutuhkan,” tuturnya.

Lebih lanjut Mukodam menjelaskan, untuk menarik para pekerja muda milenial, maka pertanian harus menggunakan teknologi masa kini atau menerapkan mekanisasi. Penerapan teknologi pertanian ini diharapkan akan lebih menggairahkan sektor pertanian, khususnya di kalangan anak muda.

Dinpertan Purbalingga juga terus mengedukasi para petani untuk lebih cepat dalam mengolah tanah. Petani diminta untuk langsung mengolah tanahnya kembali usai panen. Sehingga dalam satu tahun bisa ditanami tiga kali, dengan urutan, padi-padi-palawija.

“Harapannya agar tanah menjadi semakin produktif, jika memungkinkan gunakan sistem petuk. Yaitu pada saat padi sudah siap panen, petani sudah mulai menyemai benih, sehingga pola tanam berlanjut terus,” pesannya.

Support untuk pertanian Purbalingga juga datang dari Kementerian Pertanian, dimana bantuan alsintan banyak diberikan.

Dinpertan Purbalingga saat ini sudah memiliki alat untuk mengolah tanah modern, misalnya traktor roda dua, traktor roda empat, cultivator.

Kemudian alat tanam padi transplanter, alat tanam padi gogo dan jagung, alat penyiang gulma, hand sprayer elektrik, alat pangkas padi dan lain-lain.

Lihat juga...