hut

Ekonomi dan Keuangan Syariah Menjadi Napas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Editor: Mahadeva

 Direktur Eksekutif Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI), Suhaedi saat ditemui di acara ISEF di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (16/11/2019). Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) berkomitmen mendorong pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Harapannya ekonomi syariah bisa menjadi napas pertumbuhan ekonomi nasional. Ini diwujudkan dengan menggelar Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2019, yang mengambil tajuk, Sharia Economy for Stronger and Sustainable Growth.

Direktur Eksekutif Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, Suhaedi mengatakan, pihaknya berkomitmen mewujudkan Indonesia menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Berbagai program digalakan oleh BI, salah satunya ISEF.

Kegiatannya hasil bersinergi dengan Komite Keuangan Syariah Nasional (KNKS), kementerian, lembaga dan institusi halal.  “Gairah untuk berkegiatan di bidang ekonomi dan keuangan syariah saat ini berada dalam momentum yang sangat tinggi. Ini tergambar pada kegiatan ISEF, masyarakat sangat antusias,” kata Suhaedi, kepada Cendana News ditemui di acara ISEF di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Institusi dan lembaga pemerintah, serta swasta, juga para pelaku usaha, sangat antusias memeriahkan ISEF. Hal itu dikarenakan ISEF merupakan implementasi dari Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia (MEKSI) 2019-2024.

ISEF 2019 menjadi ajang kerja sama antar negara dan lembaga internasional. Yan bisa memperkuat motivasi pemerintah daerah untuk mengimplementasikan ekonomi dan keuangan syariah di wilayahnya. “Inshaallah  Indonesia akan menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Kita mengupayakan dan berdoa tahun 2024 terwujud,” ujarnya.

Untuk mewujudkan komitmen itu, Suhaedi berharap semua pihak mendukung, menyatukan semangat, untuk menjadikan ekonomi dan keuangan syariah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.  Dalam kegiatan tersebut, BI menyertakan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) serta pesantren. Ini dilakukan sebagai bentuk

inklusivitas strategi pengembangan ekonomi keuangan syariah, dalam rangka mendukung pengembangan ekosistem Halal Value Chain (HVC). “Kami terus mendorong kegiatan ekonomi keuangan syariah melalui halal value chain. Baik itu melalui kegiatan di pesantren dan UMKM berbasis pertanian, perikanan, peternakan, industri kreatif seperti fashion, serta makanan minuman halal,” tandasnya.

BI bersinergi untuk mendorong korporasi melakukan kegiatan dengan produk yang halal. Sehingga akan terbangun mulai dari industri rumah tangga, industri kecil dan besar dalam rangkaian rantai nilai halal atau  halal value chain. “Rantai halal, mudah-mudahan ini bisa terwujud, termasuk di dalamnya bagaimana mendorong halal tourism,” tukasnya.

Halal tourism adalah, bagaimana menciptakan satu ekosistem yang membuat wisatawan muslim dapat dengan nyaman mengunjungi wilayah Indonesia yang sangat menarik dan indah. Dan ISEF 2019 akan menjadi ajang jemput bola investasi, untuk pengembangan pembangunan infrastruktur dan kawasan industri halal.  Juga investasi untuk pengembangan produk unggulan Indonesia, seperti fashion. “Ya tentu fashion etnik, desainnya syar’i yang sustainable dan ramah lingkungan,” imbuhnya.

Adapun ragam inisiatif yang telah diimplementasikan BI untuk mendorong ekonomi syariah antara lain, pengembangan ekosistem rantai nilai halal, penguatan kemandirian ekonomi pesantren, pemanfaatan zakat dan wakaf, dan optimalisasi pembayarannya melalui QR Code Indonesian Standard (QRIS), serta penyusunan kurikulum keuangan syariah dan kampanye gaya hidup halal. “Inisiatif ini kami bangun sesuai dengan komitmen pemerintah untuk mewujudkan ekonomi syariah sebagai arus baru ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...