FEB UB Gelar Simposium Satukan Pandangan Ekonomi

Editor: Koko Triarko

MALANG – Perkembangan ilmu ekonomi setiap saat terus berkembang di tengah kehidupan manusia. Berbagai teori ekonomi baru, pun banyak bermunculan untuk menyempurnakan maupun mengembangkan teori-teori lama yang sudah ada sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), mengadakan ‘Simposium Nasional Filsafat Ilmu Ekonomi dan Bisnis’, guna menyatukan pandangan di bidang perkembangan ilmu ekonomi, di Aula Gedung FEB UB, Kamis (28/11).

Ketua pelaksana, Warter Agustim, menjelaskan, simposium nasional kali ini lebih difokuskan kepada perkembangan pemikiran ilmu ekonomi secara keseluruhan di tiga bidang, yakni manajemen, ilmu ekonomi dan akuntansi.

Menurutnya, perkembangan ilmu ekonomi yang dimaksud adalah manusia terus berusaha untuk memunculkan teori-teori baru atau pun keterkaitan teori yang lama dengan yang baru, yang terjadi karena lingkungan yang dinamis.

Ketua pelaksana, Warter Agustim, menjelaskan terkait simposium nasional filsafat ilmu ekonomi dan bisnis di Aula Gedung FEB UB, Kamis (28/11/2019). -Foto: Agus Nurchaliq

“Maka, di sini kita berkumpul antara penulis dan juga guru besar untuk bisa menyatukan pandangan di bidang perkembangan di ilmu ekonomi. Kita berusaha untuk mencari keterkaitan antara awal dari ilmu ekonomi ada, sampai dengan sekarang yang mungkin lingkungannya sudah berbeda antara dulu dan sekarang,” terangnya, saat ditemui di tempat acara di aula gedung FEB UB, Kamis (28/11/2019).

Dalam simposium ini, mereka bisa melihat dari berbagai macam sisi, dari Ilmu akuntansi, ilmu ekonomi dan juga dari ilmu manajemen yang merupakan satu akar ilmu. Para peserta diminta untuk memberikan ide-ide dalam sebuah paper yang terkait dengan perkembangan ilmu ekonomi yang terjadi sekarang ini.

“Mereka diupayakan untuk membuat paper, untuk kemudian dibandingkan antara ilmu dari paper yang mereka tulis dengan apa yang diberikan oleh para guru besar yang menjadi pembicara dalam simposium tersebut,” jelasnya.

Hadir sebagai pembicara, di antaranya Guru Besar llmu Akutansi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Bambang Subroto, MM.,Ak., dan beberapa guru besar FEB lainnya, serta Rektor Univesitas Amikom Yogyakarta.

Menurutnya, gol dari acara simposium tersebut adalah adanya kesepahaman akar ilmu ekonomi yang sudah dicetuskan dari awal sampai berkembang sekarang ini.

Sementara itu, Prof. Dr. Bambang Subroto, MM., Ak., menjelaskan terkait perkembangan dari sisi ilmu akutansi, bahwa pada standar akuntansi keuangan sebenarnya hanya mewajibkan untuk mengungkapkan informasi yang berkaitan dengan laba atau aspek ekonomi dari entitas pelaporan. Namun, standar akuntansi juga memberikan ruang untuk membuat pelaporan lain di luar yang diwajibkan.

Menurutnya, perkembangan terakhir yang terjadi sekarang adalah mulai berkembang triple bottom line reporting, di mana keberhasilan suatu perusahaan juga dilihat dari kemampuan untuk memenuhi harapan-harapan masyarakat, dan bagaimana kepeduliannya terhadap lingkungan.

Idealnya, katanya, pada triple bottom line reporting, pelaporan-pelaporan mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan itu tidak lagi sukarela yang merupakan lampiran, tetapi harus menjadi suatu pelaporan yang terintegrasi.

“Jadi, perusahaan itu wajib melaporkan ketiga-tiganya, yakni keberhasilan bisnis ekonomi, keberhasilan sosial dan juga lingkungan. Namun itu sudah di luar lingkup akutansi keuangan, tetapi memang sudah sangat diperlukan,” ungkapnya.

Dari sisi akutansi keuangan, lanjutnya, mungkin sifatnya sukarela, yang memungkinkan untuk melaporkan tanggung jawab sosial dan lingkungan itu sebagai pelengkap. Tetapi, tentunya akan sangat ideal jika nantinya bisa menjadi sesuatu yang wajib, walaupun barangkali ini di luar lingkup akutansi keuangan.

“Pada akhirnya untuk bisa mengurangi informasi asimetri, triple bottom line reporting tentu menjadi sebuah kebutuhan yang harus diatur dalam suatu regulasi,” pungkasnya.

Lihat juga...