hut

Gaji Rp50.000 Sebulan, Guru Honor di Sikka Minta Perhatian Presiden

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Nasib guru honorer yang mengabdikan diri dengan mengajar di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Manengah Pertama (SMP) di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, kesejahteraannya masih sangat memprihatinkan.

“Sekolah ini jumlah gurunya sebanyak 7 orang, 2 orang berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) sementara sisanya 5 orang masih honor komite,” kata Martha Matrona, Wakil Kepala Sekolah SDN Kepiketik, Desa Egon, kecamatan Waigete, Kamis (7/11/2019).

Dikatakan Martha, nasib para guru ini sangat memprihatinkan karena mereka hanya mendapatkan gaji honor dari iuran orang tua murid yang jumlahnya sangat kecil sekali.

“Kehidupan orang tua murid juga sangat susah, sehingga mereka kesulitan untuk membayar gaji para guru honorer yang mengajar di sekolah ini. Apalagi jumlah murid pun hanya 31 orang pada tahun ajaran ini,” ungkapnya.

Maria Marseli (kiri) dan Aleksia Alfrida, Guru SDN Kepiketik di Desa Egon, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur  yang penghasilannya sangat minim, saat ditemui pada Kamis (7/11/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Aleksia Alfrida, guru mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olah Raga dan Kesehatan (PJOK) mengatakan, dirinya sudah setahun mengabdi di sekolah ini dengan gaji terbatas.

“Saya sudah setahun mengajar di sini dan hanya mendapatkan gaji dari honorer komite sebesar Rp50.000 sebulan. Saya berasal dari kecamatan Doreng,” sebutnya.

Meskipun mendapatkan gaji terbatas, kata Aleksia, dirinya pun tetap mengajar setiap hari. Dirinya menyesalkan kondisi sekolahya yang masih memiliki sarana dan prasarana terbatas.

Maria Marseli, guru honorer komite lainnya pun mengaku sudah mengajar di sekolah ini selama 7 tahun. Meski demikian, dirinya dalam sebulan hanya mendapatkan gaji Rp70.000.

“Kalau dihitung-hitung, pasti gaji kami sangat minim dan hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup paling lama dua hari saja,” ungkapnya.

Maria berharap, pemerintah bisa memperhatikan nasib guru honorer komite yang hampir sebagian besar gajinya hanya pas-pasan. Paling besar guru honor komite mendapatkan gaji Rp300.000 sebulan.

“Presiden mengatakan, memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia, tetapi nasib guru-guru di pedalaman seperti kami sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, kata Maria, dirinya tetap tabah mengabdi di sekolah ini, meskipun penghasilannya tidak cukup untuk membeli bedak dan lipstik, apalagi membeli pakaian seragam.

“Masih banyak guru honorer komite di kabupaten Sikka yang nasibnya sangat memprihatinkan. Kita berharap, presiden bisa membantu meningkatkan pendapatan kami guru-guru terpencil ini,” harapnya.

Lihat juga...