hut

GLM di Lampung Selatan Sukses Mendorong Siswa Mencintai Buku

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Gerakan Lampung Membaca (GLM), yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, terus digencarkan di sejumlah sekolah.

Iriyanti, guru kelas 6 SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut, sekolah menerapkan GLM dengan memberi kesempatan siswa membaca buku 15 menit sebelum proses belajar mengajar dilakukan. Buku bacaan yang akan dibaca siswa, telah disiapkan guru di perpustakaan sekolah. Para siswa mendapatkan kesempatan membaca selama 15 menit, baik di dalam kelas atau di luar kelas. Setelah 15 menit membaca sejumlah siswa akan diberi kesempatan untuk menceritakan kembali buku yang dibaca.

Cara tersebut dilakukan untuk melatih siswa menyerap isi buku bacaan. Melalui GLM guru memberi kesempatan siswa untuk berlatih berkonsentrasi. GLM tersebut untuk mengganti aktivitas siswa yang sebelumnya lebih disibukkan dengan bermain di luar kelas. Sistem tersebut mengubah pola piket kelas yang dilakukan pagi hari, digeser ke jam istirahat pertama. Sebab sebelum jam pelajaran pertama, siswa harus disiapkan untuk siap belajar.

Iriyanti, guru SD N Pasuruan mengamati siswanya membaca buku sebelum memulai kegiatan belajar mengajar, Kamis (14/11/2019) – Foto Henk Widii

“Suasana pagi yang masih segar dan fresh digunakan untuk kegiatan membaca, agar siswa terlatih memanfaatkan waktu untuk hal positif dan bisa menyerap ilmu melalui buku bacaan yang telah dipilih,” ungkap Iriyanti kepada Cendana News, Kamis (14/11/2019).

Gerakan Lampung Membaca di dalam lingkungan sekolah didukung fasilitas hasil kerjasama pihak sekolah dengan pemerintah desa yang telah mencanangkan kampung literasi. Selain untuk mendukung GLM, siswa juga dapat memanfatkan perpustakaan dengan menggunakan buku kunjung perpustakaan. Siswa diberi kesempatan untuk meminjam buku untuk dibawa pulang dan dibaca di rumah.

Bagi siswa yang meminjam buku terbanyak, akan mendapatkan reward dari sekolah. “Kreatifitas sekolah untuk membudayakan minat baca dengan membaca 15 menit, hari kunjung perpustakaan juga didukung adanya kegiatan sehari belajar di luar kelas,” papar Iriyanti.

Ana Ventalensi, guru kelas 5 SD Pasuruan menyebut, GLM sudah berlangsung efektif selama dua tahun. Siswa mulai terbiasa untuk memilih buku bacaan di perpustakaan sebelum belajar. Buku yang dibaca selanjutnya akan dikembalikan saat jam istrirahat pertama. Pola tersebut membuat para siswa bisa membaca semua kategori bacaan yang ada di perpustakaan. “Para siswa akan membaca buku ilmu pengetahuan, cerita rakyat, tokoh dan juga buku sejarah secara bergantian agar tidak monoton,” ujar Ana.

Geby,s alah satu siswa kelas 6 menyebut, selama ini sebelum pelajaran dimulai ia hanya bermain di luar kelas. Namun setelah GLM dicanangkan, ia dan teman sekelas mulai rutin meminjam buku bacaan di sekolah.

Lihat juga...