hut

Guru

CERPEN SUNARYO BROTO

LANGIT biru putih mulai cerah di awal musim penghujan. Meski rumah ini di daerah dingin pada ketinggian di atas 1000 m di lereng Gunung Lawu, sinar mentari mulai hangat menyentuh kulit.

Aku menggeliat menggerakkan tubuh sambil memandang sekitar. Tuhan Maha Besar. Pohon-pohon hijau yang saya tanam sebelumnya mulai tumbuh menyegarkan. Aneka tanaman buah mulai berkembang di tanah basah.

Saya belum lama pindah ke desa terpencil ini setelah pensiun dari sebuah perusahaan kimia di belantara Kalimantan. Tinggal bersama istri tercinta yang sekarang masih berbenah di dapur. Keempat anak saya sudah memiliki dunia tersendiri dan tinggal di kota lain. Dua anak sudah bekerja di lain kota dan dua anak sedang kuliah di lain tempat.

Saya menikmati masa pensiun dengan berkebun dan beraktivitas ringan. Ada 2000 m2 kebun kami dengan aneka tanaman itu sudah membuat berkeringat. Berjalan-jalan berolah raga sambil menikmati pemandangan sekitar.

Atau mengobrol ringan dengan tetangga sambil membersihkan halaman rumah. Di dekat rumah ada sebuah sekolah SD, di sebelah masjid. Bila ke masjid, saya sering melihat para siswa riang gembira bermain sambil menuntut ilmu.

Saya teringat, pernah mengalaminya sekitar 50 tahun lalu. Betapa cepatnya waktu. Betapa relatifnya waktu. Kadang terpikir ingin menyumbangkan ilmu yang tak seberapa dengan mengajar di sekolah itu. Ingin berdiskusi dengan para siswa itu. Tetapi belum tahu bagaimana memulainya.

Saya membuka HP dan membaca media sosial. Berubah kebiasaan dari membaca koran atau TV menjadi membuka HP. Luar biasa teknologi HP itu, sudah menjadi jendela dunia. Segala informasi tersedia lengkap dan terkini.

Ternyata hari ini, 25 November hari guru. Banyak teman mengucapkan hari guru dan serangkaian tulisan menyenangkan gurunya. Saya terpana setelah membaca. Seorang menteri yang masih muda mengucapkan sambutan pada hari guru begitu indahnya.

Dia mengawali dengan simpatinya. “Guru Indonesia tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit. Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan. Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.

Besok, di mana pun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar. Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas. Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas. Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri. Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan. Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.”

Banyak ucapan mengapresiasi pidato Mas Menteri yang dikenal sebagai pelopor dunia bisnis dengan aplikasi. Saya terlarut menaruh harapan. Setidak-tidaknya dari narasi pidato awalnya bertugas. Tiba-tiba saya teringat pada guru-guru SD, saya ingin mengenangkan mereka. Tanpa mereka, para guru, saya bukan siapa-siapa. Juga semuanya bukan siapa-siapa. Termasuk Mas Menteri yang berpidato indah itu.

Angan saya sudah mengembara 40 km jauhnya dari sini. Saya melihat seorang anak kecil tanpa seragam, tanpa sepatu membawa tas koper berjalan menuju sekolahnya. Bangunan sekolah itu terletak di pinggir jalan di ujung desa.

Berseberangan dengan rel kereta api dari sebuah pabrik gula. Tak jauh dari rumah saya dan hanya berjarak sekitar 600 meter. Sekolah itu hanya bangunan kayu beratap genteng tanah liat dengan dinding anyaman bambu.

Terdiri dari 3 kelas untuk kelas 1 dan 2, kelas 5 dan 6. Kelas 3 dan 4 menempati bangunan lain di sekolah lain tak jauh dari situ. Di beberapa pojok kelas terasa basah bila malam habis hujan karena atapnya yang bocor. Juga ada bau tak sedap kotoran kelelawar di pojoknya.

Nampaknya kelelawar suka bercengkerama di malam harinya. Ruangan guru ada di bangunan tersendiri di belakang bangunan kelas. Ruangannya kecil dan hanya cukup beberapa guru. Di sebelahnya ada gudang merangkap dapur. Di sebelahnya ada sumur lengkap dengan ember timbanya.

Kelas itu berlantai semen yang sudah terkelupas beberapa tempat. Kursi belajar dari kursi kayu model menyambung antara kursi dan mejanya. Kursi seperti model bangku memanjang dengan sandaran dari kayu.

Papan tulis dari kayu dicat hitam jadi tempat  menulis dengan memakai kapur putih. Kalau menulis banyak akan kelihatan debu kapur yang beterbangan. Kami ingat, karena kami suka berebut untuk menghapus tulisan yang sudah selesai disimak.

Halaman sekolah termasuk luas. Di samping halaman bermain dan untuk upacara di depan kelas, ada juga halaman kebun di samping sekolah untuk ditanami tanaman kebun seperti singkong, ketela rambat, pisang.

Tukang kebunnya namanya Kusyoi yang berasal dari kampung sebelah. Di kebun ini tempat “kreativitas” siswa dijalankan. Kalau pisang sudah tua, batangnya ditusuk dan pisang bisa masak. Kita, para siswa bisa makan pisang masak.

Atau tanah digali untuk mengambil singkongnya tanpa mencabut batangnya. Maka harus kucing-kucingan dengan Pak Kusyoi. Kalau istirahat kami bermain kelereng, sopiran, gobak sodor atau gamparan di halaman sekolah. Kalau musim main karet gelang atau gambar umbul kami memainkannya.

Pagi-pagi saya harus berangkat sekolah. Tanpa alas kaki dan seragam sekolah. Saat itu belum lazim adanya seragam dan sepatu. Membawa beberapa buku di dalam tas koper dari kayu.

Tas yang membelikan ibu sewaktu ada pasar malam cembengan di pabrik gula. Kadang kalau berbareng dengan kereta pagi yang membawa lori tebu, kita bisa membonceng di lori-lorinya. Jangan tanya bagaimana caranya naik lori.

Rasanya hampir semua anak-anak kecil di sekitar pabrik gula sudah pandai bagaimana membonceng lori tebu. Tidak ada takut dan khawatir. Juga melompat kalau sudah sampai depan sekolah. Sampai di sekolah disuruh berbaris sebelum masuk ke kelas masing-masing. Sekolah kelas satu hanya sampai jam 10 pagi. Pulang sekolah bareng dengan kawan tetangga.

Guru saya pertama adalah Bu Warni. Kulitnya sawo matang dengan rambut lurus sampai pundak. Agak pendek perawakannya. Rumahnya tak jauh dari SD. Bu Warni adalah guru yang baik. Dia mengajar dengan sabar, menjelaskan dengan telaten, mengajar menulis, berhitung dan beberapa pelajaran SD kelas 1.

Guru lain adalah guru agama yang bernama Pak Parjo. Bila ke sekolah Pak Parjo naik sepeda. Badannya kekar, gempal dan berkulit hitam. Kalau mengajar termasuk keras. Kami diajari menghafal sahadat dengan suara keras.

Awalnya kami diajari dengan menirukan bersama isi kalimat sahadat. Sedang Pak Parjo memberi aba-aba dengan tangannya seperti seorang dirijen memimpin orkestra. Kami mengikuti saja. Satu per satu kami disuruh maju mengucapkan kalimat sahadat di bawah tatapan matanya yang mengawasi. Kami cepat bisa menghafal di bawah tatapan mata Pak Parjo.

Kelas satu saya lewati dengan lancar. Sekarang sudah kelas dua dengan jam sekolah masuk siang jam 10.00 sampai siang. Gurunya juga Bu Warni. Lokasi kelas dua juga sama dengan kelas satu. Jadi kelas ini dipakai bergantian.

Tas saya sudah ganti dengan tas kulit hitam dengan talinya yang panjang. Tas saya sampirkan di pundak. Temen-temen bilang seperti iklan coca cola yang ada di TV yang masih sangat langka saat itu. Bila mau masuk kelas, biasa kita bermain-main dulu di halaman sekolah.

Nah, tas yang dibawa itu diselipkan di antara dinding bambu dan gapitnya sehingga dinding yang sudah tidak rata itu makin merana saja. Penuh lekukan.

Kelas dua, baru mulai belajar membaca dan menulis. Mengeja tulisan pendek dan ada gambar di sebelahnya. Tulisan paling sederhana. Sapu dan di sebelahnya ada gambar sapu. Lele, di sebelahnya ada gambar ikan lele.

Ikan di sebelahnya ada gambar ikan. Kami belum bisa membaca tetapi tahu gambar apa. Terus hanya mengucapkan sambil dituntun guru. Sapi, buku, meja, kursi dll. Lalu meningkat ketiga huruf. Ada tulisan, gambar dan dihafalkan.

Sepeda, sekolah dan lain-lain. Suatu saat ada tulisan botol dan di sebelahnya ada gambarnya dan kami mengeja dengan keras, gendul. Gurunya tercengang. Kami tak tahu kalau salah. Kami mengucapkan gendul karena anak-anak menyebut botol dengan gendul, nama lokal.

Kalau sudah lancar mengeja, lalu membaca agak panjang. Saya ingat kalimat agak panjang. Ada cerita bergambar mobil kuno. Ada teks.

Dot dot dot dot dot dot auak. Min kae swarane opo? O genah swarane motor. Ayo nonton ayo nonton. Ayo ayo mlayu. La kae motore mandeg. Apik yo motore. Iya. Her her her. Dot dot dot dot dot dot. O motore mlaku. Saya sampai hafal cerita itu. Begitu berkesan belajar membaca.

Pada kasus lain, saya susah membedakan antara huruf p, d dan b. Kalau membaca kadang terbalik-balik antara ketiga huruf itu. Begitu juga dengan menulis. Bu Warni membimbing kami dengan sabar. Bapak pun di rumah juga mengajari tiap malam sehingga kami bisa membaca.

Suatu waktu, Bu Warni lama tidak masuk kelas digantikan oleh Bu Wagiatmi. Belakangan kami tahu Bu Warni melahirkan anak dan kami bersama-sama ke rumah membezuknya.

Teman saya makin banyak. Saya bergaul wajar dengan yang lain. Bercanda, sekolah sambil bermain. Rasanya tak ada habisnya aneka permainan. Ada nama-nama Gianto, Gonto, Sentot, Noglong, Mondo, Gemplo sebagai teman-teman saya.

Sekolah adalah waktu senggang dengan diisi kegiatan yang menyenangkan. Persis arti awal mula sekolah dari bahasa Yunani, skhole yang berarti waktu senggang. Saya bersekolah dengan rajin dan senangnya.

Saya sudah kelas tiga. Saya diajari berhitung, perkalian dan pembagian. Saat itu saya belum mengerti betul. Pada ulangan pertama saya mendapat nilai jelek. Saat itu ada murid yang tinggal kelas bernama Sri.

Sri bisa dan mendapat nilai lebih bagus dari saya. Di rumah saya diajari bapak sampai paham pembagian dan perkalian. Di sekolah setelah ulangan lagi saya mendapat nilai 10, melebihi nilainya Sri saat itu. Tentunya saya gembira.

Bapak tiap malam mengajari saya membaca, menulis, berhitung dan beberapa pelajaran lain saat itu. Bapak mengajarinya dengan keras. Kalau malam tiba sepertinya menjadi waktu yang tak enak bagi saya.

Bapak selalu memegang penggaris kayu tebal kalau sudah mengajari pelajaran. Kalau tak bisa, kayu itu dipukulkan di kepala. Saya jadi berpikir keras untuk menjawab pertanyaan bapak. Waktu sepertinya mengalir dengan sangat lambat.

Malam seperti tak bergerak. Saya ingin waktu biar cepat berlalu. Ibu biasanya yang menjadi penyejuk hati. Bila dirasa cukup, ibu lalu mendekat ke meja belajar dan menenangkan putranya. Lalu ibu berkata, ”Sudah Pak. Mari makan malam dulu…”

Kalimat itu yang selalu saya tunggu di antara waktu belajar. Kalimat itu seperti kalimat penyejuk yang menentramkan. Seperti air es di musim panas. Sejuk dan menyegarkan.

Begitu berlangsung hampir setiap hari sampai kelas 3-4. Dan kelas lima saya sudah mandiri dengan belajar sendiri. Saya sudah mengerti akan fungsi sekolah dan mulai senang sekali membaca. Buku apa saja saya baca.

Sampai majalah-majalah orang tua saya baca. Juga potongan koran bungkus kacang. Bapak juga mulai mengerti kalau anak-anaknya suka membaca maka sering dibawakan juga buku-buku cerita dari perpustakaan. Saya membaca juga majalah Si Kuncung dan Bobo yang banyak di sekolah TK tempat ibu bekerja sebagai guru.

Ada rubrik yang menarik dari si Kuncung. Selain cerita anak ada juga Obrolan dari Nenek Limbah. Di Bobo ada Coreng, Upik, Emak dan Bapak. Ada Paman Kikuk, Husin dan anjingnya Asta.

Saya terkenang cerita berseri berjudul Sersan Grung-Grung karangan Dwianto Setyawan. Ceritanya seorang pensiunan tentara berjulukan Sersan Grung Grung yang bersahabat dengan anak-anak. Rumahnya di daerah pegunungan.

Tetangga mereka bernama Pak Kliwon yang pelit, culas dan menjadi musuhnya anak-anak. Saya senang sekali menikmati cerita itu. Saya sampai terkenang-kenang dan membayangkan kejadiannya di suatu vila dengan pohon cemara di Tawangmangu.

Ada juga buku Jubah si Cemeh, yang ceritanya saking bau bajunya karena tidak pernah dicuci sewaktu masuk ke kolam ikan, ikannya mati semua. Ada juga Buku Cerita Si Penidur yang kalau pergi mesti ketiduran. Tapi nasibnya baik terus.

Bila bacaan di rumah habis saya baca ke tetangga. Waktu kelas enam saya senang mengikuti serial cerita komik Mahendra yang sakti dan bisa melawan lelembut di sampul belakang majalah Panyebar Semangat. Bila majalah itu terbit, saya pasti membacanya dulu di tempat agen majalah di dekat rumah teman.

Kelas 4, guru berganti lagi dengan Pak Sikan. Orangnya kecil, rambutnya kelimis dan berpembawaan tenang. Pak Sikan naik sepeda kalau ke sekolah. Rumahnya jauh, sekitar 2 km dari sekolah.

Pak Sikan mengajar cukup tenang dan bisa dimengerti. Kalau Pak Sikan datang ke sekolah dengan sepeda, kami berebutan membantu beliau memarkirkan sepedanya.

Guru kelas adalah guru segalanya, kecuali pelajaran agama. Dia juga mengajar sejarah, bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan umum, ilmu pengetahuan alam, berhitung, menulis huruf Jawa dan juga menggambar.

Ada beberapa pelajaran seperti bahasa Indonesia ada buku paket dari sekolahan yang dipakai satu buku untuk berdua. Waktu pelajaran menggambar, pertama kali melihat contoh gambaran dengan dua gunung, ada jalan membelahnya.

Di kiri kanan jalan ada tiang listrik, pohon dan sawah. Ada juga rumah kecil milik petani. Di kejauhan ada banyak pohon yang menggambarkan suatu desa. Ada kalanya ada matahari di antara dua gunung. Juga dihiasi dengan awan di langit dan beberapa burung terbang di kejauhan. Itulah gambar legendaris yang ada di kepala para siswa. Dan kami mencontohnya bertahun-tahun.

Waktu pelajaran mengarang, guru menerangkan tugasnya yaitu membuat karangan pendek masa liburan. Lalu guru memberi contoh kalimat pembuka di papan tulis. Biasanya berisi dengan kalimat, “Pada suatu hari kami liburan ke rumah kakek di desa. Kami naik sepeda dan bla…bla…bla…”

Persis mirip komik pembuka karangan Hans Andersen yang kadang kami baca. Semua murid juga diam tak tahu apa yang dilakuan. Kami tak biasa mengarang. Waktu berlalu. Kami bisanya mencontoh persis contoh guru di papan kelas. Lalu dirangkai dengan kata-kata, sesudah itu, kemudian, lalu. Begitu seterusnya sampai waktu habis dan kami tak bisa menyelesaikan karangan kami.

Kalau pelajaran olah raga, kami disuruh pergi ke lapangan sepak bola di ujung desa sebelah utara dan main bola sampai jam pelajaran habis. Kadang juga kasti. Lompat jauh atau tinggi memakai lapangan olah raga di sekolah.

Ada juga pelajaran meniti dengan meniti pada bilah bambu yang dipasang dengan dudukan yang kuat. Kami sudah biasa meniti karena sering berjalan di atas rel kereta yang banyak di kampung kami.

Bukan hanya itu. Sekolah mempunyai petak sawah di lokasi lain dan sekali waktu kami para siswa juga punya kegiatan tandur menanam padi di sawah, membersihkan gulma sampai memanen padi. Betapa gembiranya anak-anak bermain lumpur dan air.

Hasil panenan tidak terlalu penting. Yang penting seluruh siswa badannya penuh dengan lumpur. Sama juga dengan sepakbola di musim hujan, kalau badan belum penuh lumpur itu belum sepak bola.

Ada juga kegiatan kerja bakti dengan mengumpulkan batu dan bata untuk ditata sebagai taman di depan kelas masing-masing. Kita juga menanam sendiri taman-taman itu. Ini semua pelajaran yang tak ada di kelas dan siswa benar-benar gembira.

Saat itu akan diadakan lomba macapat di kelas. Semua murid menghafalkan tembang yang akan dinyanyikan. Saya menghafal lagu macapat Pangkur dengan judul Jenawi Pereng Hargo dan syairnya sampai sekarang masih mengingatnya.

Neng pereng ing Lawu Hargo/Tansah mesem mulat kanan lan kiri/Tirtaning wening amancur/Jenawi pereng hargo/Loh jinawi subur kan sarwo tinandur/Kebon karet bebanjengan/Sinoman, tanaman kopi.

Kenangan itu menari-nari indah di kepala. Rasanya baru kemarin saja. Waktu 50 tahun rasanya hanya sekejab. Di hari guru, saya hanya dapat mengenangkan Bu Warni, Bu Wagiati, Pak Sikan, Pak Parjo dan siapapun nama guru.

Entah mereka semua ada dimana. Sambil rengeng-rengeng nembang Pangkur, saya hanya dapat mengeja seadanya. Semoga semua baik-baik saja selanjutnya. Seperti pidato Mas Menteri.

Mentari sudah mulai panas di kulit. Ternyata sudah mulai masuk waktu duha. Istri juga sudah dari tadi menyapa dan mengajak sarapan bersama. Kunikmati singkong jalak towo goreng yang hangat dan enak di lidah.

Kuminum air teh Kemuning dengan rasa sepet yang kentara. Semoga harapan guru tidak seperti rasa sepet teh Kemuning. Perlu ditambah rasa manisnya seperti pidato Mas Menteri supaya seimbang. ***

Sunaryo Broto, pegiat literasi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang bekerja di Pupuk Kaltim Bontang. Karya cerpennya dibukukan dalam sejumlah antologi di antaranya Pertemuan di Kebun Raya, Keringat Lelaki Tua, dan Perjumpaan di Candi Prambanan.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Naskah orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang atau dimuat di media lain, baik cetak, online, atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...