Harapkan Percepatan Reformasi Pemrotes di Irak Tutup Jalan

Seorang pengunjuk rasa mengibarkan bendera Irak di sebelah ban yang dibakar saat aksi protes anti pemerintah di Kerbala, Irak – Foto Ant

BAGHDAD – Pemrotes menutup jalan dengan membakar ban di wilayah selatan Irak. Mereka juga terlibat bentrok dengan polisi di Baghdad. Hal itu dimaksudkan untuk mengacaukan perekonomian, dan menggoncang pihak berwenang yang mapan untuk menuntut perubahan di pemerintahan yang dianggap korup.

Di Basra, ibu kota Irak selatan yang kaya minyak, para pengunjukrasa mencegah aparatur sipil negara masuk kerja. “Massa menyusun beton penghalang dan mengecatnya menyerupai peti mati, bagi mereka yang tewas dalam pekan-pekan yang kacau,” kata saksi.

Pasukan keamanan disebut-sebut telah menembak mati lebih banyak demonstran dalam semalam. Di kota suci Kerbala, selatan Baghdad, mereka menggunakan peluru tajam untuk melawan pengunjuk rasa. Hal itu disebut-sebut telah menewaskan dua orang massa pendemo.

Di dekat Basra, seorang pengunjuk rasa meninggal karena luka-luka akibat tembakan. Polisi dan petugas medis menyebut, sudah ada 344 orang dilaporkan tewas di seluruh negeri sejak 1 Oktober. “Pertama, kami menuntut reformasi dan mengakhiri korupsi,” kata Ali Nasser, seorang lulusan teknik yang menganggur dan memprotes di Basra.

Reformasi pemerintah di Irak disebut-sebut hanya menghasilkan sedikit pekerjaan bagi orang muda, tunjangan untuk orang miskin, dan janji reformasi pemilu yang samar-samar. “Reformasi itu hanya kata-kata. Kami menginginkan tindakan. Kami memiliki 16 tahun janji tanpa tindakan. Kami telah dirampok selama 16 tahun,” kata Alia, seorang mahasiswa kedokteran berusia 23 tahun.

Protes besar dan sebagian besar damai yang terjadi di Irak adalah tantangan paling kompleks untuk kelas penguasa, yang didominasi Muslim Syiah. Mereka telah mengendalikan lembaga-lembaga negara dan jaringan patronase sejak invasi pimpinan AS pada 2003 yang menggulingkan diktator Sunni Saddam Hussein.

Sebagian besar pengunjuk rasa Syiah mengatakan politisi korup, dan menyalahkan mereka untuk kegagalan Irak pulih dari konflik dan sanksi selama beberapa dekade. Meskipun saat ini situasi di Irak relatif lebih tenang, selama dua tahun setelah kekalahan IS.

Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi menyatakan keprihatinannya, untuk aksi kekerasan dan kerugian material akibat kerusuhan dalam pertemuan kabinet. Namun ia menyalahkan penyabot tak dikenal atas kerusakan tersebut. “Ada banyak martir di antara demonstran dan pasukan keamanan, banyak yang terluka dan ditangkap, kami berusaha mengidentifikasi kesalahan yang dilakukan oleh pasukan keamanan dalam mencoba untuk mengatasi protes,” katanya.

Para pemrotes telah berulang kali memblokir lalu lintas ke pelabuhan komoditas utama Irak di dekat Basra pada bulan ini. Mereka telah mencoba untuk mengepung Bank Sentral di Baghdad, dan tampaknya bertekad memicu gangguan ekonomi. Pemerintah bergerak lambat untuk memberlakukan segala jenis perubahan. Janji-janji reformasi pemilu dan pemilihan umum awal belum diratifikasi oleh parlemen. (Ant)

Lihat juga...