hut

Ine Lawo Sukses Mengolah Sisa Tenun Menjadi Busana Modern

Editor: Mahadeva

ENDE – Banyaknya kain sisa tenun di Kabupaten Ende yang tidak terpakai. Hal itu memotovasi dua perempuan muda di Kabupaten Ende, Flores, NTT untuk memanfaatkannya.

Adalah Karolina Dua Oga (26) dan Maria Yasinta Mau Rema (19), yang sukses mengolah kain sisa tenun, menjadi produk bernilai jual. Kedua anak muda tersebut dihadirkan dalam acara Festival Orang Muda Ende Berdaya yang digagas E.thical, Selasa (12/11/2019).

Acara tersebut hasil kerjasama dengan Badan Pendapatan Daerah kabupaten Ende, Universitas Flores, Rikolto VECO dan Remaja Mandiri Community (RMC). Mereka mendapatkan penghargaan dan uang Rp3 juta dari kegiatan tersebut. “Kami mendirikan Ine Lawo untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi kami melihat regenerasi pengrajin tenun muda di kabupaten Ende,” kata Karolina Dua Oga (26) didampingi Maria Yasinta Mau Rema (19), pendiri Ine Lawo, Selasa (12/11/2019).

Produk Ine Lawo, pada awalnya dibuat utuk konsumsi pribadi. Tetapi lama kelamaan banyak yang memesan, sehingga keduanya berpikir untuk mulai menjualnya. Produk yang dihasilkan biasanya berasal dari kain tenun bekas dan sisa-sisa jahitan. Ada juga baju kain tenun namun dimodifikasi dari kain bekas pakai, sehingga terlihat menarik. “Kain juga menyumbang sampah, sehingga kami memanfaatkan kain-kain bekas untuk membuat suvenir dan baju, agar bisa mengurangi sampah dan ada nilai jualnya,” sebutnya.

Karolina Dua Oga (kiri) dan Maria Yasinta Mau Rema,pendiri Ine Lawo sedang melayani pembeli yang berkunjung ke stand pameran mereka.Senin (28/10/2019).Foto : Ebed de Rosary

Pegawai Puskesmas Nangapanda itu memodifikasi pakaian yang dibuat dengan sulaman dan rajutan, agar menjadi lebih menarik. Awalnya pembuatan, dilakukan saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Namun lama-kelamaan, banyak yang memesan dan akhirnya dikembangkan.

Karolina mengaku sudah bekerja dan tidak bisa menenun. Namun terbersit pemikiran, agar bisa ikut melestarikan kain tenun Ende dan NTT. “Oma saya bisa menenun, tapi menggunakan pewarna alami sementara ibu saya bisa menenun tetapi menggunakan pewarna kimia,” jelasnya.

Maria Yasinta Mau Rema, mahasiswa semester 3 Universitas Flores (Unflor) Ende menyebut, baju modifikasi dijual antara Rp200 ribu sampai Rp300 ribu. Sementara untuk yang full motif tenun, dijual di atas Rp600 ribu perpasang. Semua baju dibuat khusus untuk perempuan, dan menangkat tema tenun. Hal itu dilakukan, karena masih minimnya minat anak muda untuk mencintai kain tenun sendiri. “Tusuk rambut kami jual Rp20 ribu sampai Rp25 ribu, jepit dan ikat rambut Rp10 ribu, sementara anting Rp20 ribu sepasang. Banyak yang membeli produk kami saat ikut pameran,” tuturnya.

Lihat juga...