Jumlah Pemilih di Hong Kong Catat Rekor

Pemilih mengantri untuk memberikan suara di tempat pemungutan suara saat pemilihan lokal dewan distrik di Hong Kong, China, Minggu (24/11/2019)- Foto Ant

HONG KONG – Rekor jumlah pemberi suara dalam pemilihan dewan distrik Hong Kong, dipandang sebagai ujian dukungan bagi Pemimpin Eksekutif Carrie Lam.

Hal itu dilakukan setelah aksi unjuk rasa pro-demokrasi selama enam bulan menggoncangkan kota tersebut. Data pemerintah setempat menunjukkan, lebih dari 2,6 juta orang atau 63 persen jumlah pemilih yang terdaftar memberikan suara hingga pukul 19.30 waktu setempat.

Sekitar 1,47 juta orang memberikan suara dalam pemilihan distrik empat tahun lalu. Diperkirakan, hasil awal pemilihan akan diketahui menjelang tengah malam. Jumlah pemilih itu menunjukkan tekad orang-orang, kata orang bernama Tsz (30), yang bekerja di industri jasa. “Tingkat jumlah orang-orang yang memberi suara tinggi, mencerminkan harapan rakyat Hong Kong bagi hasil pemilihan universal yang murni,” kata pria itu.

Lam juga memberikan hak suaranya. Tokoh yang didukung Beijing itu berjanji pemerintahannya akan mendengarkan lebih intensif pandangan-pandangan dari dewan-dewan distrik. “Saya berharap suasana stabil dan tenang, seperti ini tidak hanya pada saat pemilihan hari ini tetapi menunjukkan bahwa siapa pun tidak menginginkan Hong Kong terperosok ke dalam situasi kacau lagi,” kata Lam.

Protes mulai terjadi, akibat rancangan undang-undangan ekstradisi, yang sekarang sudah dicabut. Berdasarkan RUU itu, orang-orang dapat dikirim ke Cina daratan untuk diadili. Tetapi aksi segera berubah menjadi seruan-seruan bagi demokrasi penuh. Protes tersebut menjadi tantangan terbesar bagi Presiden Cina Xi Jinping, sejak ia naik ke tampuk kekuasaan di 2012.

Ming Lee (26), yang bekerja di sektor produksi acara berharap, tingkat jumlah pemilih yang tinggi akan memberikan keuntungan bagi kubu pro-demokrasi. “Saya berharap pemungutan suara ini dapat melawan suara kubu pro-kemapanan, sehingga membawa lebih banyak suara dari kelompok demokrat. Masalah-masalah sosial mendorong orang-orang untuk memberikan suara dan fokus pada isu-isu politik,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...